Khutbah Jumat: Mîzân, Karakteristik & Amal yang Memberatkannya


الْمِيْزَانُ، صِفَاتُهُ وَمُثَقِّلاَتُهُ

Oleh: Dr. Mahir Al Muaiqali
Alih Bahasa: Iqbal Kadir  


Isi Khutbah:
1.    Hari Kiamat & kondisinya yang menakutkan.    
2.    Proses kebangkitan dan penggiringan makhluk ke Mahsyar.  
3.    Karakteristik Mîzân (Timbangan Amal) pada Hari Kiamat.   
4.    Nilai hakiki yang memberatkan Mîzân.     
5.    Syafaat Nabi Shallallâhu Alaihi wa Sallam bagi umat Islam.       
6.    Amalan yang memberatkan Mîzân.    
7.    Dampak iman kepada Mîzân.    

Khutbah Pertama:

الْحَمْدُ ِللهِ، الْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا، خَلَّقَ فَسَوَّى، وَقَدَّرَ فَهَدَى، نِعَمُهُ تَتْرَى وَآلَاؤُهُ لَا تُحْصَى، أَحْمَدُهُ -سُبْحَانَهُ- وَأَشْكُرُهْ، وَأُثْنِي عَلَيْهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، مَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى، وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِهِ فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا، وَيُحْشَرُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ، وَمُصْطَفَاهُ وَخَلِيْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ بِالرَّحْمَةِ وَالْهُدَى، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِمْ وَاقْتَفَى، وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ:  

Al Hamdulillâh. Segala puji bagi Allah yang telah melapangkan segala sesuatu sebagai rahmat dan ilmu, yang  menciptakan lalu menyempurnakan, dan yang menentukan ukuran lalu memberi petunjuk. Nikmat-nikmat-Nya berlimpah dan anugerah-Nya tak terhitung. Aku memuji Allah —yang Maha Suci—, bersyukur kepada-Nya, menyanjungn-Nya dan memohon ampunan dari-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya. Siapa yang mengikuti petunjuk-Nya maka dia tidak akan tersesat dan tidak akan sengsara; dan siapa yang berpaling dari peringatan-Nya maka dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan akan dikumpulkan pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, manusia pilihan dan kekasih-Nya, yang diutus dengan rahmat dan petunjuk. Semoga Allah melimpahkan rahmat, kesalamatan dan keberkahan kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat dan orang-orang yang berjalan mengikuti jejak dan meneleadani mereka. Tak lupa pula salam penghormatan sebanyak-banyaknya tercurah kepada beliau. Ammâ ba’d:  

مَعَاشِرَ الْمُؤْمِنِيْنَ: أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ؛ فَتَقْوَى اللهِ سَعَادَةٌ وَنَجَاةٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ خَافَ الْآخِرَةَ عَمِلَ بِمَا سَمِعَ مِنْ تَذْكِرَةٍ، وَمَنْ طَالَ أَمَلُهُ ضَعُفَ عَمَلُهُ، وَكُلُّ مَا آتٍ قَرِيْبٌ، ﴿وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيْهِ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ﴾ [الْبَقَرَةِ: ٢٨١].  

Kaum mukminin, aku berpesan kepada kalian dan diriku agar bertakwa kepada Allah, karena takwa kepada Allah adalah kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Siapa yang takut akan akhirat maka dia pasti beramal setelah mendengar peringatan, dan siapa yang angan-angannya panjang maka amalnya lemah. Dan, semua yang akan datang pasti terjadi dalam waktu dekat. “Dan takutlah pada hari (ketika) kalian semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizhalimi (dirugikan).” (Qs. Al Baqarah [2]: 281)  

أُمَّةَ الْإِسْلَامِ: إِنَّ مِنْ أَشَدِّ الْمَوَاقِفِ عَلَى الْعِبَادِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، بِأَهْوَالِهِ الْمُفْزِعَةِ وَأَحْوَالِهِ الْمُخِيْفَةِ؛ ﴿وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيْهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ﴾ [الزُّمَرِ: ٦٨]، فَيُحْشَرُ النَّاسُ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا، مَعَ كُلِّ نَفْسٍ سَائِقٌ يَسُوْقُهَا، وَشَهِيْدٌ يَشْهَدُ عَلَيْهَا، وَالنَّاسُ بَيْنَ ضَاحِكٍ مَسْرُوْرٍ، وَبَاكٍ مَثْبُوْرٍ، وَآخِذٍ كِتَابَهُ بِيَمِيْنِهِ، وَآخِذٍ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ أَوْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِهِ، فَيُحْشَرُ الْمُتَّقُوْنَ إِلَى الرَّحْمَنِ وَفْدًا، وَيُسَاقُ الْمُجْرِمُوْنَ إِلَى جَهَنَّمَ وِرْدًا، ﴿فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ (٧) فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا (٨)﴾ [الِانْشِقَاقِ: ٧-٨]، وَيَقُوْلُ فَرِحًا مَسْرُوْرًا: ﴿هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَهْ (١٩) إِنِّي ظَنَنْتُ أَنِّي مُلَاقٍ حِسَابِيَهْ (٢٠)﴾ [الْحَاقَّةِ: ١٩-٢٠]، ﴿وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ (١٠) فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا (١١)﴾ [الِانْشِقَاقِ: ١٠-١١] ، وَيَقُوْلُ نَادِمًا حَسِيْرًا: ﴿يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ (٢٥) وَلَمْ أَدْرِ مَا حِسَابِيَهْ (٢٦)﴾ [الْحَاقَّةِ: ٢٥-٢٦].

Umat Islam, kondisi paling berat yang akan dialami para hamba adalah Hari Kiamat, dengan segala peristiwanya yang mengejutkan dan keadaannya yang mencekam. “Dan sangkakala pun ditiup, maka matilah semua (makhluk) yang di langit dan di bumi kecuali mereka yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sekali lagi (sangkakala itu) maka seketika itu mereka bangun (dari kuburnya) menunggu (keputusan Allah).” (Qs. Az-Zumar [39]: 68) Manusia kemudian dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan tidak berkhitan. Setiap jiwa akan digiring oleh seorang malaikat dan saksi yang bersaksi untuk memberatkannya, sementara manusia ada yang tertawa gembira, menangis sedih, menerima buku catatan amalnya di tangan kanan dan menerima buku catatan amalnya di tangan kiri atau dari belakang punggungnya (dengan kondisi tangan terbelenggu). Lalu, orang-orang bertakwa dibawa ke hadapan Allah yang Maha Penyayang bagaikan kafilah yang terhormat, dan orang-orang berdosa digiring ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga. “Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.” (Qs. Al Insyiqâq [84]: 7-8) “Adapun orang yang kitabnya diberikan di tangan kanannya, maka dia berkata, ‘Ambillah, bacalah kitabku (ini) sesungguhnya aku yakin, bahwa (suatu saat) aku akan menerima perhitungan terhadap diriku’.” (Qs. Al Hâqqah [69]: 19-20) “Dan adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah belakang, maka dia akan berteriak, ‘Celakalah aku’!” (Qs. Al Insyiqâq [84]: 10-11) “Alangkah baiknya jika kitabku (ini) tidak diberikan kepadaku. Sehingga aku tidak mengetahui bagaimana perhitunganku.” (Qs. Al Hâqqah [69]: 25-26)

إِخْوَةَ الْإِيْمَانِ: فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ الْمَشْهُوْدِ يُوْضَعُ الْمِيْزَانُ، وَهُوَ مِيْزَانٌ حَقِيْقِيٌّ، لَهُ كِفَّتَانِ، يَمِيْلُ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، لَا تُكَيِّفُهُ الْعُقُوْلُ، وَلَا تَتَصَوَّرُهُ الْأَذْهَانُ، يَزِنُ كُلَّ صَغِيْرَةٍ وَكَبِيْرَةٍ، قَالَ الْإِمْامُ أحمدُ: “وَالْمِيْزَانُ حَقٌّ، تُوْزَنُ بِهِ الْحَسَنَاتُ وَالسَّيِّئَاتُ، كَمَا يَشَاءُ اللهُ أَنْ تُوْزَنَ”، ﴿وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْم الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ﴾ [الْأَنْبِيَاءِ: ٤٧].

Saudara-saudara seiman, pada hari yang disaksikan oleh semua manusia itu Mîzân dipasang, yaitu timbangan yang nyata dengan dua neraca yang akan berat ke salah satu sisi dengan kebaikan dan keburukan, tidak bisa dinalar oleh akal dan tidak bisa ilustrasikan oleh pikiran. Timbangan itu menimbang semua amal yang kecil dan yang besar. Imam Ahmad berkata, “Mîzân itu benar. Ia digunakan untuk menimbang kebaikan dan keburukan seperti yang Allah kehendaki.” “Dan Kami akan memasang timbangan yang tepat pada Hari Kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami mendatangkannya (pahala). Dan cukuplah Kami yang membuat perhitungan.” (Qs. Al Anbiyâ [21]: 47)  

وَلَقَدْ دَلَّتْ نُصُوْصُ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، عَلَى أَنَّ الْعَبْدَ وَعَمَلَهِ، وَصَحِيْفَةَ أَعْمَالِهِ، كلُّ ذَلِكَ يُوْضَعُ فِي الْمِيْزَان يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَفِي مُسْنَدِ الْإِمْامِ أَحْمَدَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: “تُوضَعُ الْمَوَازِينُ يَوْم الْقِيَامَةِ، فَيُؤْتَى بِالرَّجُلِ، فَيُوضَعُ فِي كِفَّةٍ، فَيُوضَعُ مَا أُحْصِيَ عَلَيْهِ، فَتَمَايَلَ بِهِ الْمِيْزَان، قَالَ: فَيُبْعَثُ بِهِ إِلَى النَّارِ، فَإِذَا أُدْبِرَ بِهِ، إِذَا صَائِحٌ يَصِيحُ مِنْ عِنْدِ الرَّحْمَنِ، يَقُولُ: لَا تَعْجَلُوا، لَا تَعْجَلُوا، فَإِنَّهُ قَدْ بَقِيَ لَهُ، فَيُؤْتَى بِبِطَاقَةٍ فِيهَا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، فَتُوضَعُ مَعَ الرَّجُلِ فِي كِفَّةٍ، حَتَّى يَمِيلَ بِهِ الْمِيْزَان”.


Teks-teks Al Quran dan Hadits telah menunjukkan bahwa hamba dan amalannya serta buku catatan amalnya, itu semua akan diletakkan di dalam Mîzân pada Hari Kiamat. Di dalam Musnad Imam Ahmad dilansir bahwa Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam bersabda, “Pada Hari Kiamat, timbangan-timbangan amal akan dipasang. Kemudian, seseorang didatangkan lalu diletakkan pada sebuah neraca sedangkan amal yang telah dihitung diletakkan pada neraca lainnya, lalu timbangan amal itu pun menjadi berat.” Beliau melanjutkan, “Setelah itu pria itu dikirim ke neraka dan ketika dia telah dibawa tiba-tiba seorang malaikat di sisi Allah yang Maha Pengasih berteriak, ‘Jangan terburu-buru. Jangan terburu-buru, karena masih ada yang tersisa untuknya’. Tak lama kemudian sebuah Bithâqah (kartu) yang bertuliskan lâ ilâh illallâh dihadirkan, lalu kartu itu diletakkan bersama pria itu di salah satu neraca timbangan amal hingga timbangan itu pun menjadi berat.”    

فِي هَذَا الْمِيْزَانِ، يَخِفُّ وَزْنُ الْعَبْدُ أَوْ يَثْقُلُ بِحَسَبِ إِيْمَانِهِ وَأَعْمَالِهِ، لَا بِضَخَامَةِ جَسَدِهِ؛ فَفِي الصَّحِيْحَيْنِ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: “إِنَّهُ لَيَأْتِي الرَّجُلُ الْعَظِيمُ السَّمِينُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ -يَعْنِي وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ- لَا يَزِنُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ، اقْرَءُوْا، ﴿فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْم الْقِيَامَةِ وَزْنًا﴾ [الْكَهْفِ: ١٠٥]، وَهَذَا ابْنُ مَسْعُوْدٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-، كَانَ يَجْتَنِي لِرَسُوْلِ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- سِوَاكًا مِنَ الْأَرَاكِ، وَكَانَ دَقِيقَ السَّاقَيْنِ، فَجَعَلَتِ الرِّيحُ تَكْفَؤُهُ، فَضَحِكَ الْقَوْمُ مِنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: مِمَّ تَضْحَكُونَ؟ قَالُوا: يَا نَبِيَّ اللهِ، مِنْ دِقَّةِ سَاقَيْهِ، فَقَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَهُمَا أَثْقَلُ فِي الْمِيْزَان مِنْ أُحُدٍ”. (رَوَاهُ الْإِمْامُ أَحْمَدُ).

Di Mîzân ini, berat badan seseorang menjadi ringan atau berat sesuai iman dan amal, bukan karena besar tubuhnya.  Di dalam Ash-Shahîhain dilansir bahwa Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam bersabda, “Pada Hari Kiamat seorang pria bertubuh besar akan dihadirkan —maksudnya dia termasuk penduduk neraka— namun di sisi Allah berat tubuhnya tidak sama beratnya dengan sayap nyamuk. Bacalah firman Allah, ‘Dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada Hari Kiamat’.” (Qs. Al Kahfi [18]: 105) Suatu ketika Ibnu Mas’ud —Radhiyallâhu Anhu— keluar untuk mengambil sebatang kayu siwâk dari pohon Arak untuk Rasulullah —Shallallâhu Alaihi wa Sallam—. Dia memiliki betis yang kecil. Lalu, angin menyingkap betisnya hingga membuat orang-orang (yang melihatnya) menertawainya. Melihat itu, Rasulullah Shallallâhu Alaihi wa Sallam bertanya, “Apa yang membuat kalian tertawa?” Mereka menjawab, “Wahai Nabi Allah, karena betisnya yang kecil.” Beliau bersabda, “Demi jiwaku yang berada di Tangan-Nya, kedua betis itu lebih berat di Mîzân dari gunung Uhud.” (HR. Ahmad)

أَيُّهَا الْإِخْوَةِ الْمُؤْمِنُوْنَ: إِنَّ مِنْ أَهْوَالِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، مَوْقِفَ تَوْفِيَةِ الْمَوَازِيْنِ، حَتَّى إِنَّ الْعَبْدَ لَيَنْخَلِعُ فُؤَادُهُ، وَتَعْظُمُ كُرُوْبُهُ، نَاسِيًا أَهْلَهُ وَأَحْبَابَهُ، مَشْغُوْلًا بِمَا يَرَاهُ أَمَامَهُ، وَهُوَ يَنْتَظِرُ حَصِيْلَةَ عَمَلِهِ، فَلَا يَهْدَأُ رَوْعُهُ، حَتَّى يَرَى أَيَخِفُّ مَيْزَانُهُ أَمْ يَثْقُلُ؟، فَمَنْ ثَقُلَ مِيْزَانُهُ، نُوْدِيَ فِي مَجْمَعٍ فِيْهِ الْأَوَّلُوْنَ وَالْآخِرُوْنَ: أَلَا إِنَّ فُلَانَ ابْنَ فُلَانٍ قَدْ سَعِدَ سَعَادَةً لَا يَشْقَى بَعْدَهَا أَبَدًا، وَإِذَا خَفَّ مِيْزَانُهُ، نُوْدِيَ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلَائِقِ: أَلَا إِنَّ فُلَانَ ابْنَ فُلَانٍ، قَدْ شَقِيَ شَقَاوَةً لَا يَسْعَدُ بَعْدَهَا أَبَدًا.

Saudara-saudara kaum mukminin, di antara peristiwa dahsyat yang terjadi pada Hari Kiamat adalah peristiwa penimbangan amal hingga membuat hati hamba benar-benar mau copot, musibah yang dialaminya terasa berat, lupa kepada keluarga dan orang-orang yang dicintainya serta sibuk melihat apa yang ada di hadapannya sambil menunggu hasil perhitungan amalnya. Perasaan takutnya tidak mereda sampai dia melihat timbangan amalnya ringan atau berat. Lalu, orang yang timbangan amalnya berat dipanggil di tengah kerumunan orang-orang terdahulu dan terakhir, “Ketahuilah bahwa si fulan bin fulan telah berbahagia dan tidak akan sengsara selamanya setelah ini.” Namun jika timbangan amalnya ringan, dia akan dipanggil di hadapan semua makhluk, “Ketahuilah bahwa si fulan bin fulan telah sengsara dan tidak akan bahagia setelah ini selamanya.”

وَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُدَ: أَنَّ عَائِشَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهَا- ذَكَرَتِ النَّارَ فَبَكَتْ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: مَا يُبْكِيكِ، قَالَتْ: ذَكَرْتُ النَّارَ فَبَكَيْتُ، فَهَلْ تَذْكُرُونَ أَهْلِيكُمْ يَوْم الْقِيَامَةِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: أَمَّا فِي ثَلَاثَةِ مَوَاطِنَ، فَلَا يَذْكُرُ أَحَدٌ أَحَدًا: عِنْدَ الْمِيْزَان، حَتَّى يَعْلَمَ أَيَخِفُّ مِيزَانُهُ أَوْ يَثْقُلُ، وَعِنْدَ الْكِتَابِ، حِينَ يُقَالُ: ﴿هَاؤُمُ اقْرَءُوا كِتَابِيَه﴾ [الْحَاقَّةِ: ١٩]، حَتَّى يَعْلَمَ أَيْنَ يَقَعُ كِتَابُهُ، أَفِي يَمِينِهِ أَمْ فِي شِمَالِهِ، أَمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِهِ، وَعِنْدَ الصِّرَاطِ، إِذَا وُضِعَ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ، ﴿فَإذا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءَلُونَ (١٠١) فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (١٠٢) وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ (١٠٣)﴾ [الْمُؤْمِنَونَ: ١٠١-١٠٣].

Di dalam Sunan Abi Daud dilansir bahwa suatu ketika Aisyah —Radhiyallâhu Anhâ— teringat akan neraka hingga dia menangis, lalu Rasulullah —Shallallâhu Alaihi wa Sallam— bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Aisyah menjawab, “Aku teringat neraka lalu aku menangis. Apakah kamu akan mengingat keluargamu pada Hari Kiamat?” Rasulullah —Shallallâhu Alaihi wa Sallam— bersabda, “Adapun di tiga tempat, maka tak seorang pun akan mengingat yang lain, yaitu saat di Mîzân hingga dia mengetahui apakah timbangan amalnya ringan atau berat; saat menerima buku catatan amal ketika (malaikat) berkata kepadanya, ‘Ambil dan bacalah buku catatan amalku’ (Qs. Al Hâqqah [69]: 19) Hingga dia mengetahui buku catatan amalnya itu diletakkan, apakah di tangan kanan atau di tangan kiri atau dari belakang punggunya; dan saat di Shirâth ketika dibentangkan di antara kedua di atas neraka.” “Apabila sangkakala ditiup maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu (Hari Kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya. Barangsiapa berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa ringan timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahanam.” (Qs. Al Mu`minûn [23]: 101-103)  

وَإِنَّ مِنْ عَظِيْمِ رَحْمَةِ اللهِ -تَعَالَى- بِهَذِهِ الْأُمَّةِ، أَنْ جَعَلَ رَسُوْلَهَا -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَحْضُرُ مَوْطِنَ شِدَّةِ الْمِيْزَانِ وَهَوْلِهِ، لِيَكُوْنَ شَفِيْعًا لِأُمَّتِهِ؛ فَفِي سُنَنِ التِّرْمِذِيِّ، قَالَ أنسٌ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ- سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَنْ يَشْفَعَ لَهُ، فَقَالَ: أَنَا فَاعِلٌ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيْنَ أَطْلُبُكَ؟ -يَعْنِي فِي أَيِّ عَرَصَاتِ الْقِيَامَةِ أَبْحَثُ عَنْكَ-، قَالَ: اطْلُبْنِي أَوَّلَ مَا تَطْلُبُنِي عَلَى الصِّرَاطِ، قَالَ: قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ أَلْقَكَ عَلَى الصِّرَاطِ؟ قَالَ: فَاطْلُبْنِي عِنْدَ الْمِيْزَان، قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ أَلْقَكَ عِنْدَ الْمِيْزَان؟ قَالَ: فَاطْلُبْنِي عِنْدَ الحَوْضِ؛ فَإِنِّي لَا أُخْطِئُ هَذِهِ الثَّلَاثَ المَوَاطِنَ”؛ - يَعْنِي: لَا بُدَّ أَنْ تَلْقَانِي فِي وَاحِدَةٍ مِنْ هَذِهِ الْمَوَاطِنِ-.

Di antara rahmat Allah —Ta’âla— yang paling besar kepada umat ini adalah Dia mengizinkan Rasul-Nya —Shallallâhu Alaihi wa Sallam— hadir di tempat penimbangan amal yang menakutkan dan dahsyat agar beliau memberikan syafaat kepada umatnya. Di dalam Shahîh At-Tirmidzi dilansir bahwa Anas —Radhiyallâhu Anhu— meminta kepada Rasulullah —Shallallâhu Alaihi wa Sallam— agar beliau memberikan syafaat kepadanya, maka beliau menjawab, “Aku akan lakukan.” Anas melanjutkan: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, dimana aku mencarimu?” —Maksudnya di tempat manakah aku mencarimu pada Hari Kiamat— Beliau menjawab, “Carilah aku saat pertama kali engkau mencariku di Shirâth.” Anas melanjutkan: Aku berkata lagi, “Jika aku tidak bertemu denganmu di Shirâth?” Beliau menjawab, “Carilah aku di Mîzân.” Aku berkata lagi, “Jika aku tidak menemukanmu di Mîzân?” Beliau menjawab, “Carilah aku di Haudh (telaga akhirat), karena sungguh aku tidak menyalahi ketiga tempat ini.” Maksudnya bahwa engkau pasti menemuiku di salah satu tempat tersebut.

وَأَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَةِ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- فِي تِلْكَ الْعَرَصَاتِ، هُمْ أَهْلُ التَّوْحِيْدِ وَالْإِخْلَاصِ، وَإِنَّ مِنْ فَضْلِ اللهِ -تَعَالَى- عَلَى عِبَادِهِ، أَنْ جَعَلَ الْأَعْمَالَ الَّتِي يَثْقُلُ بِهَا الْمِيْزَانُ كَثِيْرَةٌ، فَمِنْ أَعْظَمِهَا بَعْدَ التَّوْحِيْدِ، الْجُودُ بِالْخُلُقِ الْحَسَنِ، وَهُوَ شَيْءٌ هَيِّنٌ؛ وَجْهٌ طَلِيْقٌ، وَلِسَانٌ لَيِّنٌ، وَيَدْخُلُ فِيْهِ اسْتِقَامَةٌ فِي الدِّيْنِ، وَبَشَاشَةٌ فِي لِيْنٍ، وَتَفْرِيْجُ كُرْبَةٍ، وَكَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ، وَعَفْوٌ وَإِحْسَانٌ، وَبِرٌّ بِوَالِدَيْنِ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ، وَبِهِ يُدْرِكُ صَاحِبُهُ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ، بَلْ صَاحِبُهُ أَحَبُّ النَّاسِ لِلنَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، وَأَقْرَبُهُمْ مِنْهُ مَنْزِلًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَقَدْ كَانَ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَكْمَلَ النَّاسِ أَخْلَاقًا، وَأَكْرَمَهُمْ نَفْسًا، وَأَطْلَقَهُمْ وَجْهًا، وَأَرْحَمَهُمْ قَلْبًا، وَأَلْيَنَهُمْ طَبْعًا، وَأَوْسَعَهُمْ عَفْوًا، وَفِي سُنَنِ التِّرْمِذِيِّ، قَالَ -عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ-: “مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيْزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْم الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ”.

Manusia yang paling bahagia dengan syafaat Nabi —Shallallâhu Alaihi wa Sallam— pada Hari Kiamat di tempat tersebut adalah orang-orang yang bertauhid dan ikhlas. Salah satu karunia Allah —Ta’âla— kepada hamba-hamba-Nya adalah banyak amal yang memberatkan Mîzân, di antaranya adalah tauhid dan berakhlak baik. Akhlak yang baik itu mudah dilakukan seperti senyuman di wajah, lisan yang lembut, termasuk juga istiqâmah dalam agama, keceriaan dalam kelembutan, meringankan bencana, tutur kata yang baik, memberikan maaf dan berbuat baik, dan berbakti kepada orang tua. Akhlak yang baik merupakan motif yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga. Dengan akhlak yang baik, seseorang bisa meraih derajat orang yang berpuasa dan shalat. Bahkan, pemilik akhlak yang baik adalah orang yang paling dicintai dan paling dekat tempat duduknya dengan Nabi —Shallallâhu Alaihi wa Sallam— pada Hari Kiamat. Nabi —Shallallâhu Alaihi wa Sallam— adalah orang yang akhlaknya paling sempurna, jiwanya paling mulia, wajahnya paling ceria, hatinya paling menyayangi, tabiatnya paling lembut, dan maafnya paling luas. Di dalam Sunan At-Tirmidzi dilansir bahwa Nabi —Alaishshalâtu wassallâm— bersabda, “Tak ada sesuatu yang paling berat di atas Mîzân orang beriman pada Hari Kiamat melebihi akhlak yang baik.”

وَإِنَّ مِمَّا يُثْقِلُ الْمِيْزَانَ شُهُوْدَ الْجَنَائِزِ وَالصَّلاَةَ عَلَيْهَا، وَتَشْيِيْعَهَا حَتَّى دَفْنَهَا؛ فَفِي الصَّحِيْحَيْنِ، قَالَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: “مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ، قِيلَ: وَمَا الْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ: مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ”.

Di antara amal yang memberatkan Mîzân adalah melayat jenazah, menyalatinya dan mengantarkannya hingga selesai dikuburkan. Di dalam Ash-Shahîhain dilansir bahwa Nabi —Shallallâhu Alaihi wa Sallam— bersabda, “Siapa yang melayat jenazah hingga dishalatkan maka dia memperoleh pahala satu qirâth dan siapa yang melayat jenazah hingga selesai dikuburkan maka dia memperoleh dua qirâth.”  Ada (sahabat) yang bertanya, “Seperti apa dua qirâth itu?”  Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar.”

وَمَنْ أَرَادَ أَنْ تَثْقُلَ مَوَازِيْنُهُ، فَلْيُكْثِرْ مِنْ حَمْدِ اللهِ وَتَسْبِيْحِهِ؛ فَفِي صَحِيْحِ مُسْلِمٍ، قَالَ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: “الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ، وَالْحَمْدُ ِللهِ تَمْلَأُ الْمِيْزَان، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ ِللهِ تَمْلَآنِ أَوْ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وكَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيْزَان: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ العَظِيمِ”.

Siapa yang yang ingin timbangan amalnya menjadi berat, maka perbanyaklah memuji dan menyucikan Allah. Di dalam Shahîh Muslim dilansir bahwa Rasulullah —Shallallâhu Alaihi wa Sallam— bersabda, “Kebersihan itu bagian dari iman. Al Hamdulillâh memenuhi Mîzân sedangkan Subhanallâh dan Al Hamdulillâh, keduanya memenuhi atau memenuhi apa yang ada di antara langit dan bumi. Dua dzikir yang dicintai Allah yang Maha Pengasih, ringan di lisan dan berat di Mîzân adalah Subhanallâhi wa Bihamdih Subhanallâhil Azhim.”

وَعَنْ جُوَيْرِيَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهَا وَأَرْضَاهَا-، أَنَّ النَّبِيَّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِينَ صَلَّى الصُّبْحَ، وَهِيَ فِي مَسْجِدِهَا، ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى، وَهِيَ جَالِسَةٌ -رَضِيَ اللهُ عَنْهَا وَأَرْضَاهَا-، فَقَالَ: “مَا زِلْتِ عَلَى الْحَالِ الَّتِي فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا؟ قَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ”. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Diriwayatkan dari Juwairiyah —Radhiyallâhu Anhâ wa Ardhâhâ—, bahwa Nabi —Shallallâhu Alaihi wa Sallam— pernah keluar dari sisinya di pagi hari setelah menunaikan shalat Shubuh saat dia sedang berada di tempat shalatnya. Kemudian beliau kembali setelah menunaikan shalat Dhuha sedangkan dia (Juwairiyah) —Radhiyallâhu Anhâ wa Ardhâhâ—masih duduk (di tempat semula). Melihat itu beliau berkata, “Engkau masih dalam kondisi saat aku meninggalkanmu?!” Dia menjawab, “Ya.” Nabi —Shallallahu Alaihi wa Sallam— bersabda, “Sungguh, aku telah mengatakan setelahmu empat bacaan sebanyak tiga kali. Andai bacaan itu ditimbang dengan apa yang engkau baca sejak hari ini maka berat bacaan itu sama, yaitu: Subhânallâh wa Bihamdihî Adada Khalqihî wa Ridhâ Nafsihî wa Zinata Arsyihî wa Midâda Kalimâtih.” (HR. Muslim)

فَطُوْبَى لِمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهُ، وَيَا خَسَارَةُ مَنْ خَفَّتْ مَوَازِيْنُهُ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنض الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: ﴿وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٨) وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ (٩)﴾ [الْأَعْرَافِ: ٨-٩].

Maka beruntunglah orang yang timbangan amalnya berat dan merugilah orang yang timbangan amalnya ringan. Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, “Timbangan pada hari itu (menjadi ukuran) kebenaran. Maka barangsiapa timbangan (kebaikan)nya berat, mereka itulah orang yang beruntung; dan barangsiapa timbangan (kebaikan)nya ringan, maka mereka itulah orang yang telah merugikan dirinya sendiri, karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami.” (Qs. Al A’râf [7]: 8-9);

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ بِالْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِمَا مِنَ الْآيَاتِ وَالْحِكْمَةِ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيْئَةٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا.

Semoga Allah memberkahi diriku dan kalian dengan Al Quran dan Sunnah, serta memberikan manfaat kepadaku dan kalian dengan ayat dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Aku cukupkan khutbahku sampai di sini. Aku memohon ampunan kepada Allah untuk diriku dan kalian dari segala dosa dan kesalahan, maka mintalah ampunan dari Allah, sungguh Dia Maha Pengampun.

Khutbah Kedua:

الْحَمْدُ ِللهِ، الْحَمْدُ ِللهِ وَفَّقَ مَنْ شَاءَ لِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ، وَهَدَاهُمْ لِمَا فِيْهِ فَوْزُهُمْ يَوْمَ التَّلَاقِ، وَأَشْهَدُ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأْصَحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ. أَمَّا بَعْدُ

Al Hamdulillâh. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik bagi siapa yang Dia kehendaki kepada akhlak yang mulia dan memberikan petunjuk kepada mereka kepada sesuatu yang akan menjadi keberuntungan bagi mereka pada Hari Pertemuan. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan rahmat, salam dan keberkahan kepada beliau, keluarga beliau, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Ammâ ba’d:

مَعَاشِرَ الْمُؤْمِنِيْنَ: إِنَّ الْإِيْمَانَ بِالْمِيْزَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَهُ آثَارٌ عَظِيْمَةٌ مِنَ الْعِلْمِ وَالْيَقِيْنِ بِعَدْلِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، قَالَ الْإِمْامُ ابْنُ أَبِي الْعِزِّ -رَحِمَهُ اللهُ-: “وَلَوْ لَمْ يَكُنْ مِنَ الْحِكْمَةِ فِي وَزْنِ الْأَعْمَالِ إِلَّا ظُهُوْرُ عَدْلِهِ -سُبْحَانَهُ- لِجَمِيْعِ عِبَادِهِ، فَإِنَّهُ لَا أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنَ اللهِ؛ مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ أَرْسَلَ الرُّسُلَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ، فَكَيْفَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الْحِكَمِ، مَا لَا اطِّلَاعَ لَنَا عَلَيْهِ”، ﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (٧) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (٨)﴾ [الزَّلْزَلَةِ: ٧-٨].

Kaum mukminin, beriman kepada Mîzân yang akan dipasang pada Hari Kiamat berdampak besar bagi pengetahuan dan keyakinan (kita) tentang keadilan Tuhan seluruh alam. Imam Ibnu Abil Izzi —Rahimahullâh— berkata, “Andai tidak ada hikmah lain tentang penimbangan amal kecuali memperlihatkan keadilan Allah —yang Maha Suci— kepada seluruh hamba-hamba-Nya, maka tidak ada yang lebih dicintai seseorang daripada pemaafan Allah. Karena itu, Dia mengutus para rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Lalu, bagaimana dengan hikmah-hikmah yang ada di balik itu semua yang belum kita ketahui.” “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (Qs. Az-Zalzalah [99]: 7-8)

وَالْإِيْمَانُ بِالْمِيْزَانِ سَبَبٌ لِلْحِرْصِ عَلَى الْأَعْمَالِ الَّتِي تُثْقِلُهُ، فَلَا يَزْهَدُ الْمَرْءُ فِي قَلِيْلٍ مِنَ الْخَيْرِ أَنْ يَأْتِيَهُ، فَحَسَنَةٌ وَاحِدَةٌ تُثْقِلُ الْمِيْزَانَ، وَتُدْخِلُ الْعَبْدَ الْجَنَّةَ، فَفِي عَرَصَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، يَقِفُ أَقْوَامٌ عَلَى بَرْزَخٍ مُرْتَفَعٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَهُمْ مَنْ تَسَاوَتْ حَسَنَاتُهُمْ وَسَيِّئَاتُهُمْ، فَيَنْظُرُوْنَ إِلَى أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَيَتَمَنَّوْنَ حَسَنَةً وَاحِدَةً، لِيَكُوْنُوْا مَعَهُمْ، فَيُحْبَسُوْنَ عَلَى الْأَعْرَافِ، مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يُحْبَسُوْا، ثُمَّ يُدْخِلُهُمُ اللهُ -تَعَالَى- بِرَحْمَتِهِ الْجَنَّةَ، ﴿وَعَلَى الْأَعْرافِ رِجالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيماهُمْ وَنادَوْا أَصْحابَ الْجَنَّةِ أَنْ سَلامٌ عَلَيْكُمْ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ (٤٦) وَإِذا صُرِفَتْ أَبْصارُهُمْ تِلْقَاءَ أَصْحابِ النَّارِ قالُوا رَبَّنا لَا تَجْعَلْنا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (٤٧)﴾ [الْأَعْرَافِ: ٤٦-٤٧]

Beriman kepada Mîzân memberikan motivasi untuk melakukan amal perbuatan yang memberatkan timbangan amalnya, sehingga seseorang tidak membatasi diri untuk melakukan sedikit kebaikan karena satu kebaikan bisa memberatkan timbangan amal dan memasukkannya ke dalam surga. Pada Hari Kiamat nanti ada orang-orang yang berdiri di atas tempat tinggi yang berada di antara surga dan neraka. Timbangan kebaikan dan keburukan mereka sama. Mereka memandang penghuni surga dan mendambakan satu kebaikan agar bisa berada bersama mereka. Lalu, mereka ditahan di tempat tertinggi selama waktu yang Allah kehendaki, kemudian Allah —Ta’âla— memasukkan mereka ke dalam surga dengan rahmat-Nya. “Dan di atas A’râf (tempat yang tertinggi) ada orang-orang yang saling mengenal, masing-masing dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, ‘Salâmun alaikum (salam sejahtera bagimu)’. Mereka belum dapat masuk, tetapi mereka ingin segera (masuk). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang zhalim itu’.” (Qs. Al A’râf [7]: 46-47)

وَفِي صَحِيْحِ مُسْلِمٍ، قَالَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: “لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ”، قَالَ تَعَالَى: ﴿فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوازِينُهُ (٦) فَهُوَ فِي عِيشَةٍ راضِيَةٍ (٧) وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوازِينُهُ (٨) فَأُمُّهُ هاوِيَةٌ (٩) وَمَا أَدْراكَ مَا هِيَهْ (١٠) نارٌ حامِيَةٌ (١١)﴾ [الْقَارِعَةِ: ٦-١١].

Di dalam Shahîh Muslim dilansir bahwa Nabi —Shallallâhu Alaihi wa Sallam— bersabda, “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apa pun, meskipun hanya menemui saudaramu dengan wajah ceria.”  Allah —Ta’âla— berfirman, “Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang). Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hâwiyah. Dan tahukah kamu apakah neraka Hâwiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (Qs. Al Qâri’ah [101]: 6-11)

كَمَا أَنَّ الْإِيْمَانَ بِالْمِيْزَانِ سَبَبٌ لِلْبُعْدِ عَنِ السَّيِّئَاتِ الَّتِي تُذْهِبُ الْحَسَنَاتِ، مِنْ سُوْءِ الْأَخْلَاقِ، وَانْتِهَاكِ حُرُمَاتِ الْخَلْقِ، فَفِي سُنَنِ التِّرْمِذِيِّ، قَالَ رَسُولَ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: “أَتَدْرُوْنَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: المُفْلِسُ فِينَا -يَا رَسُوْلَ اللهِ- مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، قَالَ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: الْمُفْلِسُ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْم الْقِيَامَةِ بِصَلَاتِهِ وَصِيَامِهِ وَزَكَاتِهِ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيَقْعُدُ فَيَقْتَصُّ هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْتَصَّ مَا عَلَيْهِ مِنَ الْخَطَايَا، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّار”.

Selain itu, beriman kepada Mîzân pun memberikan motivasi untuk menjauhi kejahatan yang dapat menghilangkan kebaikan seperti berakhlak buruk dan menginjak-nginjak kehormatan orang lain. Di dalam Sunan At-Tirmidzi dilansir bahwa Rasulullah —Shallallâhu Alaihi wa Sallam— bersabda, “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka (para sahabat) menjawab, “Orang yang bangkrut dari kita —wahai Rasulullah— adalah orang yang tidak punya uang dan barang.” Mendengar itu Rasulullah —Shallallâhu Alaihi wa Sallam— bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat. Dia datang namun dia pernah mencaci si fulan, menuduh si fulan (tanpa bukti), memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan dan memukul si fulan. Kemudian dia duduk lalu si fulan diberi balasan dari kebaikannya dan si fulan dari kebaikannya pula. Jika kebaikannya telah habis sebelum dosanya diberi balasan, maka dosa mereka (yang pernah dizhalimi) diambil dan dilimpahkan kepadanya hingga dia pun dilemparkan ke dalam api neraka.”

أُمَّةَ الْإِسْلَامِ: إِذَا كَانَ الْوَزْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، فَالْكَيِّسُ الْفَطِنُ الَّذِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَقَدِ اسْتَكْثَرَ مِنَ الْحَسَنَاتِ، وَأَثْقَلَ مَوَازِيْنَهُ بِالْبَاقِيَاتِ الصَّالِحَاتِ، فَإِذَا أُخِذَ مِنْ حَسَنَاتِهِ، بَقِيَتْ لَهُ حَسَنَاتٌ، تُدْخِلُهُ الْجَنَّةَ، وَفِي مُصَنَّفِ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ عُمَرُ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَأَرْضَاهُ-: “حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا، وَزِنُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا، وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ يَوْمَ تُعْرَضُوْنَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ”.

Umat Islam, jika ukuran timbangan yang digunakan pada Hari Kiamat adalah kebaikan dan keburukan, maka orang yang cerdas dan pintar adalah yang datang pada Hari Kiamat dalam kondisi telah menyimpan banyak kebaikan dan melakukan amal saleh yang memberatkan timbangan amalnya. Jika ada kebaikannya yang diambil maka masih tersisa kebaikan-kebaikan lainnya yang dapat memasukkannya ke dalam surga. Di dalam Mushannaf Ibni Abi Syaibah dilansir atsar bahwa Umar —Radhiyallâhu Anhu wa Ardhâh—  berkata, “Hitunglah amal perbuatan kalian sebelum kalian dihisab, timbanglah amal perbuatan kalian sebelum amal kalian ditimbang, dan persiapkan diri kalian menghadapi perhitungan akbar dimana kalian dihadapkan tanpa bisa menyembunyikan sesuatu pun dari Allah.”

إِخْوَةَ الْإِيْمَانِ: فِي ظِلِّ اسْتِمْرَارِ هَذِهِ الْجَائِحَةِ، فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيْنَا الْعَمَلُ بِتَوْصِيَاتِ وِزَارَةِ الصِّحَّةِ؛ وَذَلِكَ مِنْ طَاعَةِ وَلِيِّ الْأَمْرِ؛ لِمَنْعِ انْتِشَارِ الْعَدْوَى، وَهَذَا وَاجِبٌ شَرْعِيٌّ لِلْمُحَافَظة عَلَى الْأَنْفُسِ، فَكَمْ مِنْ مُتَهَاوِنٍ بِالتَّعْلِيْمَاتِ، عَرَّضَ حَيَاتَهُ وَحَيَاةَ غَيْرِهِ إِلَى مَا لَا تُحْمَدُ عُقْبَاهُ، نَسْأَلُ اللهَ -جَلَّ جَلَالُهُ- بِأَسْمَائِهِ الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلَى أَنْ يَكْشِفَ عَنَّا هَذَا الْوَبَاءَ، بِرَحْمَتِهِ وَفَضْلِهِ وَجُوْدِهِ وَكَرَمِهِ.

Saudara-saudara seiman, dalam kondisi masih berlangsungnya pandemi, kita wajib mengikuti anjuran kementrian kesehatan dan itu merupakan bagian dari taat kepada pemimpin, untuk mencegah penyebaran penyakit menular. Hal ini adalah kewajiban syar’i untuk menjaga keselamatan jiwa. Berapa banyak orang yang mengabaikan anjuran tersebut membahayakan hidupnya dan hidup orang lain. Kami meminta kepada Allah —Jalla Jalâluh— dengan nama-nama-Nya yang baik dan sifat-sifat-Nya yang mulia agar Dia berkenan mengangkat wabah ini dari kita dengan rahmat, karunia, kemurahan hati dan kedermawanan-Nya.

اللهم يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، اللهم يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، اغْفِرْ ذُنُوْبَناَ، وَاسْتُرْ عُيُوْبَنَا، وَيَسِّرْ حِسَابَنَا، وَيَمِّنْ كِتَابَنَا، وَثَقِّلْ مَوَازِيْنَنَا، وَثَبِّتْ عَلَى الصِّرَاطِ أَقْدَامَنَا.

Ya Allah, wahai yang Maha Hidup, wahai yang Maha Mengurusi makhluk-Nya terus-menerus. Ya Allah, wahai yang Maha Hidup, wahai yang Maha Mengurusi makhluk-Nya terus-menerus, wahai Dzat yang memiliki kebesaran dan kemuliaan, ampunilah dosa-dosa kami, tutuplah aib kami, mudahkanlah perhitungan amal kami, serahkanlah buku catatan amal kami di tangan kanan, beratkanlah timbangan amal kami, dan teguhkanlah telapak kaki kami di atas Shirâth.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكِ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللهم عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ وَجُوْدِكَ وَمِنَّتِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad, isteri-isteri beliau dan keturunan beliau, sebagaimana rahmat yang Engkau limpahkan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berkahilah Muhammad, isteri-isteri beliau dan keturunan beliau, sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, ridhailah Khulafa Ar-Rasyidin: Abu Bakar,  Umar, Utsman dan Ali, para sahabat seluruhnya, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga Hari Pembalasan. Ridhai pula kami bersama mereka dengan ampunan, kemurahahan hati, kedermawan-Mu dan anugerah-Mu, wahai Dzat yang paling menyayangi dari semua yang menyayangi.

اللهم أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اللهم أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اللهم أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَاجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ، اللهم أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، بِرَحْمَتِكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ.

Ya Allah, muliakan Islam dan umat Islam. Ya Allah, muliakan Islam dan umat Islam. Ya Allah, muliakan Islam dan umat Islam. Jadikanlah negeri ini aman dan tentram serta seluruh negeri kaum muslimin. Ya Allah, perbaikilah kondisi kaum muslimin di semua tempat dengan rahmat-Mu wahai Dzat yang memiliki kebesaran dan kemuliaan. 

اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ بِفَضْلِكَ وَمِنَّتِكَ أَنْ تَحْفَظَنَا مِنْ كُلِّ سُوْءٍ وَمَكْرُوْهٍ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَا وَالْوَبَا، وَالرِّبَا وَالزِّنَا، وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوْءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ.

Ya Allah, kami meminta kepada-Mu dengan karunia dan anugerah-Mu agar Engkau memelihara kami dari segala hal buruk dan yang tidak disukai. Ya Allah, hindarkanlah kami dari kenaikan harga barang, wabah penyakit, riba, zina, gempa bumi, ujian dan keburukan fitnah yang terlihat dan yang tidak terlihat. Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari musibah yang menyulitkan, kesengsaraan hidup, takdir yang buruk, dan cemoohan musuh.

اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ، عاَجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْنا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَمَا لَمْ نَعْلَمْ.  

Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada-Mu semua kebaikan yang disegerakan dan yang ditangguhkan, yang kami ketahui dan yang tidak kami ketahui. Kami juga berlindung kepada-Mu dari semua keburukan yang disegerakan dan yang ditangguhkan, yang kami ketahui dan yang tidak kami ketahui.

اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، اللهم أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُوْرِ كُلِّهَا، وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْآخِرَةِ، اللهم اشْفِ مَرْضَانَا، وَعَافِ مُبْتَلَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَكُنْ لِلْمُسْتَضْعَفِيْنَ مِنَّا.

Ya Allah, sesungguhnya kami meminta kepada surga dan apa yang mendekatkan kami kepadanya dari tutur atau laku. Kami juga berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa yang mendekatkan kami kepadanya dari tutur atau laku. Ya Allah, baikkanlah akhir seluruh urusan kami serta selamatkanlah kami dari kehinaan dunia dan siksa akhirat. Ya Allah, sembuhkanlah yang sakit dari kami, selamatkan yang tertimpa musibah dari kami, rahmatilah yang meninggal dari kami, dan tolonglah yang tertindas dari kami.

اللهم يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، وَفِّقْ خَادِمَ الْحَرَمَيْنِ الشَّرِيْفَيْنِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، وَاجْزِهِ عَنِ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ خَيْرَ الْجَزَاءِ، اللهم وَفِّقْهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ الْأَمِيْنِ لِمَا فِيْهِ خَيْرٌ لِلْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اللهم وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةِ أُمُوْرِ الْمُسْلِمِيْنَ لِمَا تُحُبُّهُ وَتَرْضَاهُ، بِرَحْمَتِكَ وَفَضْلِكَ وَجُوْدِكَ وَمِنَّتِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Ya Allah, wahai Dzat yang memiliki kebesaran dan kemuliaan, wahai yang Maha Hidup, wahai yang Maha Mengurusi makhluk-Nya terus-menerus, berilah taufik kepada Khâdimul Haramain Asy-Syarîfain untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan ridhai dan berilah balasan terbaik untuknya atas jasanya melayani Islam dan umat Islam. Ya Allah, berilah taufik kepada putra mahkotanya yang amanah untuk melakukan apa yang baik bagi Islam dan kaum muslimin. Ya Allah, berilah taufik kepada seluruh pemimpin kaum muslimin untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan ridhai, dengan rahmat, karunia, kedermawanan dan anugerah-Mu wahai Dzat yang paling menyayangi dari semua yang menyayangi.

اللهم انْصُرْ جُنُوْدَنَا الْمُرَابِطِيْنَ عَلَى حُدُوْدِ بِلَادِنَا، اللهم عَلَيْكَ بِعَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ يَا قَوِيُّ يَا عَزِيْزُ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، اللهم لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ، إِنَّا كُنَّا مِنَ الظَّالِمِيْنَ، رَبَّنَا تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا، وَأَجِبْ دَعْوَتَنَا، وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا، وَاهْدِ قُلُوْبَنَا، وَسَدِّدْ أَلْسِنَتَنَا، وَاسْلُلْ سَخِيْمَةَ قُلُوْبِنَا.

Ya Allah, tolonglah pasukan kami yang berjaga-jaga di wilayah perbatasan negeri kami. Ya Allah, kalahkanlah musuh-Mu dan musuh mereka, wahai yang Maha Kuat, wahai yang Maha Perkasa, wahai Dzat yang memiliki kebesaran dan kemuliaan. Ya Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang zhallim. Tuhan kami, terimalah tobat kami, bersihkanlah dosa kami, kabulkanlah doa kami, teguhkanlah hujjah kami, tunjukilah hati kami, luruskanlah lisan kami, dan hilangkanlah kedengkian hati kami.

﴿رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾ [الْأَعْرَافِ: ٢٣]

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami serta memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs. Al A’râf [7]: 23)

﴿رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾ [الْحَشْرِ: ١٠]

“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al Hasyr [59]: 10)

﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾ [الْبَقَرَةِ: ٢٠١]

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari siksa neraka.” (Qs. Al Baqarah [2]: 201)

﴿سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ (١٨٠) وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ (١٨١) وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٨٢)﴾ [الصَّافَّاتِ: ١٨٠-١٨٢].

“Maha Suci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan, dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam.” (Qs. Ash-Shâffât [37]: 180-182)

Nughazi Media

Nughazi Media adalah media publikasi berbagai aplikasi ilmu pengetahuan, pendidikan dan agama dalam berbagai format digital.

Post a Comment

Peraturan berkomentar :
1. DILARANG melakukan SPAM pada KOMENTAR blog ini.
2. DILARANG memberikan komentar yang melanggar hukum Indonesia.
3. DILARANG memberikan komentar diluar pembahasan/OOT(Out of Topic).
4. DILARANG melakukan PROMOSI/IKLAN.
5. DILARANG menyebarkan informasi palsu/Hoax.

Previous Post Next Post