Khutbah Jumat: Ketenangan Pikiran & Cara Meraihnya

KETENANGAN PIKIRAN DAN CARA MERAIHNYA

Oleh: Dr. Su’ud bin Ibrahim Asy-Syuraim 

Alih Bahasa: Iqbal Kadir 

Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلهِ، مَالِكَ الْمُلْكِ، يُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ يَشَاءُ، وَيَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ يَشَاءَ، وَيُعِزُّ مَنْ يَشَاءُ، وَيُذِلُّ مَنْ يَشَاءُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ؛ إِنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ، وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ، وَيُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ، وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ، وَيَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ، لَا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ، لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآخِرَةِ، وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ، وَأَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، وَخَلِيلُهُ وَخِيرَتُهُ مِنْ خَلْقِهِ، بَلَّغَ رِسَالَةَ رَبِّهِ، وَأَقَامَ الْحُجَّةَ عَلَى أُمَّتِهِ، فَمَا تَرَكَ خَيْرًا إِلاَّ دَلَّهَا عَلَيْهِ، وَلاَ شَرًّا إِلاَّ حَذَّرَهَا مِنْهُ، فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِ بَيْتِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَعَلَى أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ الْغُرِّ الْمَيَامِينَ، وَعَلَى التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ:

Segala puji bagi Allah, Tuhan pemilik kekuasaan. Dia memberi kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki, mencabut kekuasaan dari siapa yang Dia kehendaki, memuliakan siapa yang Dia kehendaki dan menghinakan siapa yang Dia kehendaki. Di tangan-Nya segala kebaikan, sungguh Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam, mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, serta memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Bagi-Nya segala pujian di awal dan di akhir. Kepunyaan-Nya segala ketentuan dan kepada-Nya kalian dikembalikan. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah, utusan-Nya, kekasih-Nya serta makhluk pilihan-Nya. Beliau telah menyampaikan risalah Tuhannya, menegakkan hujjah kepada umatnya, hingga tidak ada kebaikan kecuali beliau telah menunjukkannya dan tidak ada keburukan kecuali beliau telah mengingatkannya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salam penghormatan kepada beliau, keluarga beliau yang baik lagi suci, istri-istri beliau Ummahâtul Mukminîn, para sahabat yang memancarkan kilauan cahaya, para tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga Hari Pembalasan. Tak lupa pula salam penghormatan tercurah kepada beliau sebanyak-banyaknya. Ammâ ba’d:  

فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ: اتَّقُوا اللهَ حَقَّ التَّقْوَى، وَاسْتَمْسِكُوا مِنَ الْإِسْلاَمِ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى، وَالْزَمُوا جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ؛ فَإِنَّ يدَ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.  

Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, berpegang eratlah dengan Islam sekuat-kuatnya, dan tetaplah bersama jamaah kaum muslim serta pemimpin mereka, karena sesungguhnya tangan Allah bersama jamaah. Hindari pula hal-hal baru yang dimunculkan dalam agama, karena setiap hal baru yang dimunculkan dalam agama adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.

عِبَادَ اللهِ: إِنَّ الْحَيَاةَ تَقَلُّبٌ وَتَدَاوُلٌ، تَحْمِلُ فِي طَيَّاتِهَا أَفْرَاحًا وَأَتْرَاحًا، وَضَحْكًا وَبُكَاءً، وَكَدَرًا وَصَفَاءً، مَنْ سَرَّهُ زَمَنٌ سَاءَهُ زَمَنٌ آخَرُ، فَمُنَغِّصَاتُهَا كَثِيرَةٌ، وَنَفْسُ الْمَرْءِ تَحُومُ بِهَا فِي كُلِّ اتِّجَاهٍ زَوَابعُ الْكَدَرِ وَالْقَتَرِ، وَالْهُمُومِ وَالْغُمُومِ، وَمِثْلُ هَذَا التَّرَاكُمِ -عِبَادَ اللهِ- كَفِيلٌ بِغِيَابِ رَاحَةِ الْبَالِ عَنِ الْمَرْءِ، حَتَّى يُحِيلُ لَهُ الْعَسَلَ مُرًّا، وَالْعَذْبَ مِلْحًا أُجَاجًا.  

Hamba Allah, hidup sejatinya adalah perubahan dan pergiliran yang terselip di dalamnya kegembiraan dan kesedihan, tawa dan tangis, serta kegalauan dan ketenangan. Orang yang senang dalam satu waktu akan sedih di lain waktu. Problematika hidup itu banyak dan jiwa seseorang selalu diliputi oleh terpaan angin ketidaknyamanan, kesulitan, kegalauan, serta kesedihan dari berbagai arah. Akumulasi kondisi seperti ini —hamba Allah— menyebabkan ketenangan pikiran hilang dari seseorang hingga madu (yang manis) terasa pahit dan yang tawar terasa asin lagi getir.

وَمِمَّا لَا رَيْبَ فِيهِ -عِبَادَ اللهِ- أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ النِّعَمِ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ رَاحَةَ الْبَالِ؛ فَإِنَّ مَنْ ذَاقَهَا فِي حَيَاتِهِ فَكَأَنَّهُ مَلَكَ كُلَّ شَيْءٍ، وَمَنْ فَقَدَهَا فِي حَيَاتِهِ فَكَأَنَّهُ لَمْ يَمْلِكْ شَيْئًا الْبَتَّةَ، وَلاَ يَنْبَغِي أَنْ يَفْهَمَ أَحَدٌ أَنَّ رَاحَةَ الْبَالِ تَعْنِي تَرْكَ الْعَمَلِ، أَوْ هِيَ الدَّعَةُ وَالْكَسَلُ، كَلَّا بَلْ إِنَّ هَذِهِ الرَّاحَةَ بِرُمَّتِهَا مُتَوَلِّدَةٌ عَنْ عَمَلٍ قَلْبِيٍّ وَعَمَلٍ بَدَنِيٍّ، وَلاَ عَجَبَ إِذَا قِيلَ: إِنَّ الْعَمَلَ مِنْ مُقْتَضَيَاتِ رَاحَةِ الْبَالِ.  

Hamba Allah, tak diragukan lagi bahwa ketenangan pikiran merupakan salah satu nikmat yang agung di dunia ini. Karena orang yang merasakan ketenangan pikiran dalam hidupnya tak ubahnya orang yang memiliki segala-galanya, dan orang yang kehilangan ketenangan pikiran dalam hidupnya seperti orang yang tidak memiliki apa-apa sama sekali. Seseorang tidak sejogyanya memahami bahwa ketenangan pikiran berarti tidak beramal atau tidak beraktivitas atau bermalas-malasan. Tidak sama sekali! Bahkan, ketenangan ini secara keseluruh lahir dari amal kalbu dan aktivitas tubuh. Maka tak heran jika ada yang mengatakan bahwa amal atau perbuatan merupakan syarat untuk meraih ketenangan pikiran.    

وَالْبَالُ -أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ- هُوَ الْحَالُ وَالشَّأْنُ، يُقَالُ: فُلَانٌ رَخِيُّ الْبَالِ، وَنَاعِمُ الْبَالِ؛ أَيْ: مَوْفُورُ الْعَيْشِ، وَهَادِئُ النَّفْسِ وَالْخَاطِرِ، وَهُوَ بِاعْتِبَارِ مَا يُضَافُ إِلَيْهِ، فَثَمَّةَ كَسْفُ بَالٍ، وَشَغْلُ بَالٍ، وَفَسادُ بَالٍ، وَالْغَرَضُ الْمَنْشُودُ لِكُلِّ عَاقِلٍ هُوَ رَاحَةُ الْبَالِ الَّتِي هِيَ صَلاَحُهُ وَصَفَاؤُهُ، وَاللهُ -جَلَّ وَعَلاَ- يَقُولُ: ﴿الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللهِ أَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ (۱) وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ (٢)﴾ [مُحَمَّدٍ: ۱-٢].  

Kaum muslim, kata Al Bâl atau pikiran berarti situasi dan kondisi. Contohnya Fulân rakhiyyul bâl dan Fulân nâ’imul bâl artinya si fulan hidupnya berkecukupan, jiwa dan pikirannya tenang. Kata ini jika digabung dengan kata lain maka menjadi kasful bâl, syaghlul bâl, dan fasâdul bâl. Tujuan yang dicari setiap orang yang berakal sehat adalah ketenangan pikiran yang sejatinya adalah kebaikan dan kejernihan pikiran. Allah —Jalla wa Alâ— berfirman, “Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus segala amal mereka. Sedangkan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad; dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka; Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka, dan memperbaiki keadaan mereka.” (Qs. Muhamad [47]: 1-2)

وَإِنَّ أَهْلَ النَّظَرِ وَالنَّبَاهَةِ يُدْرِكُونَ جَمِيعًا: أَنَّ رَاحَةَ الْبَالِ غَايَةٌ مَنْشُودَةٌ لِلْمَرْءِ، وَأَنَّهَا تَفْتَقِرُ إِلَى سَكِينَةِ قَلْبٍ لَا يَغْشَاها جَلَبَةٌ، وَصَفَاءِ رُوحٍ لَا يُشَوِّبُهُ كَدَرٌ، وَأَخْذٍ بِالْأَسْبَابِ الْجَاذِبَةِ، وَقَطْعٍ لِلْأَسْبَابِ الدَّافِعَةِ؛ فَالْاِحْتِقَانُ النَّفْسِيُّ وَالْقَلَقُ، وَالتَّوَتُّرُ وَالْفَرَقُ، وَتَغْلِيبُ الظُّنُونِ السَّلْبِيَّةِ عَلَى الظُّنُونِ الإِيجَابِيَّةِ، كُلُّهَا عَوَامِلُ مُزَاحِمَةٌ لِرَاحَةِ الْبَالِ، إِنْ لَمْ تَكُنْ طَارِدَةً لَهَا بِالْكُلِّيَّةِ، وَمَرْبَطُ الْفَرْسِ فِي ذَلِكُمْ كُلِّهِ هُوَ الْقَلْبُ؛ لِأَنَّ الْقَلْبَ إِذَا كَانَ سَلِيمًا يَقِظًا اسْتَسْقَى رَاحَةَ الْبَالِ بِمَجَادِيحِ الصَّفَاءِ وَسَلاَمَةِ الصَّدْرِ.

Semua orang berpengetahuan dan arif tahu bahwa ketenangan pikiran adalah tujuan yang dicari seseorang, dan bahwa ketenangan pikiran memerlukan ketentraman kalbu yang tidak diselubungi keriuhan, kejernihan jiwa yang bening, melakukan segala upaya untuk menghadirkannya serta menghentikan segala upaya yang menghalanginya. Gangguan psikologis, kecemasan, stress, ketakutan, dan dominasi pikiran negatif atas pikiran positif. Semua itu merupakan faktor yang mengganggu ketenangan pikiran, jika tidak ditepis secara total. Pusat kendali dari itu semua adalah kalbu, karena bila kalbu sehat dan prima, maka ketenangan pikiran akan disirami oleh timba-timba kemurnian dan kebersihan hati.    

فَإِذَا كَانَ تَصْفِيرُ التَّلَوُّثِ الْبِيئِيِّ أَمْرًا مَنْشُودًا عِنْدَ النَّاسِ، فَإِنَّ تَصْفِيرَ التَّلَوُّثَ الْقَلْبِيَّ كَذَلِكُمْ؛ فَالْأوَّلُ لِلْحِفَاظِ عَلَى الْبِيئَةِ، وَالْآخَرُ لِلْحِفَاظِ عَلَى الْبَالِ؛ حَيْثُ إِنَّ رَاحَةَ الْبَالِ لَا يَذُوقُهَا امْرُؤٌ ذَمَّ غَيْرَهُ لِيَنَالَ الْمَدْحَ دُونَهُ، وَلاَ امْرُؤٌ خَفَضَ شَأْنَ غَيْرِهِ لِيَعْلُوَ شَأْنُهُ، وَلاَ امْرُؤٌ أَطْفَأَ نُورَ غَيْرِهِ لِيَسْطَعَ نُورُهُ، وَلاَ امْرُؤٌ أَسْكَتَ غَيْرَهُ لِيَكُونَ الْحَدِيثُ لَهُ وَحْدَهُ، وَلاَ امْرُؤٌ صَعِدَ عَلَى أَكْتَافِ الآخَرِينَ؛ لِيَقْطِفَ الثَّمَرَةَ لَهُ دُونَهُمْ، وَلَنْ يَذُوقَ رَاحَةَ الْبَالِ مَنْ لَمْ يَتَصَالَحْ مَعَ نَفْسِهِ، وَمَعَ النَّاسِ، وَيُصَفِّرُ صِرَاعَاتِهِ مَعَهُمْ، وَكَذَلِكُمْ لَنْ يَذُوقَ رَاحَةَ الْبَالِ: مَنْ لَمْ يَكُنْ كَمَا هُوَ بِلاَ تَكَلُّفٍ، وَمَنْ لَبِسَ لَبُوسًا لَيْسَ لَبُوسَهُ، وَمَنْ مَشَى مِشْيَةً لَيْسَتْ مِشْيَتَهُ.   

Jika terbebas dari polusi lingkungan merupakan perkara yang diinginkan oleh manusia, maka begitu pula polusi kalbu. Yang pertama (terbebas dari polusi lingkungan) dilakukan dengan cara menjaga lingkungan, sedangkan yang kedua (terbebas dari polusi kalbu) dilakukan dengan cara menjaga pikiran. Ketenangan pikiran tidak bisa dirasakan oleh orang yang mencaci orang lain untuk mendapatkan pujian orang lain, orang yang merendahkan harga diri orang lain untuk mengangkat harga dirinya, orang yang memadamkan cahaya orang lain agar cahayanya lebih terang, orang yang mendiamkan orang lain agar pembicaraan hanya tertuju pada dirinya, dan orang yang naik di atas pundak orang lain agar memetik buah untuk dirinya namun tidak untuk mereka. Ketenangan pikiran tidak akan diraih oleh orang yang tidak berdamai dengan dirinya dan dengan orang lain serta menihilkan pertikaian dengan mereka. Begitu pula orang yang tidak tampil apa adanya bahkan dibuat-buat, orang yang mengenakan pakaian yang bukan miliknya, dan orang yang berjalan dengan gaya orang lain tidak akan merasakan ketenangan pikiran.   

فَعَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ أَنْ يُعِيدَ تَقْيِيمَ نَفْسِهِ، وَيَنْظُرَ فِي كُلِّ مَا يَعْنِيهِ، وَيَتَسَلَّلَ لِوَاذًا مِنْ كُلِّ مَا يُلْحِقُ الضَّرَرَ بِرُوحِهِ وَجَسَدِهِ، فَلاَ رَاحَةَ بَالٍ لِحَاسِدٍ، وَلاَ رَاحَةَ بَالٍ لِنَمَّامٍ، وَلاَ رَاحَةَ بَالٍ لِقَلْبٍ مُلِئَ بِالضَّغَائِنِ، وَإِنَّمَا يَمْنَحُ اللهُ رَاحَةَ الْبَالِ لِمَنْ كَانَ مَخْمُومَ الْقَلْبِ، أَتَدْرُونَ مَنْ هُوَ مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ إِِنَّهُ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ وَلاَ غلَّ وَلاَ بَغْيَ وَلاَ حَسَدَ، كَمَا صَحَّ بِذَلِكُمُ الْخَبَرُ عَنِ الصَّادِقِ الْمَصْدُوقِ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ.  

Maka dari itu, setiap muslim hendaknya mengevaluasi dirinya dan mencari apa yang berguna untuk dirinya serta menyelamatkan diri dari setiap hal yang mendatangkan kemudharatan bagi rohani dan jasmaninya. Sebab ketenangan jiwa tidak dimiliki oleh orang yang hasad, orang yang suka mengadu domba, dan hati yang penuh dengan kedengkian. Allah hanya memberikan ketenangan pikiran kepada orang yang bersih hatinya. Tahukah kalian siapakah orang yang hatinya bersih? Yaitu orang bertakwa, jiwanya bersih, tidak terkontaminasi dosa, tidak iri, tidak melampaui batas, dan tidak dengki, sebagaimana ditegaskan hadits shahîh yang bersumber dari manusia yang jujur lagi dipercaya. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salam penghormatan kepada beliau. 

إِنَّ رَاحَةَ الْبَالِ لَنِعْمَةٌ كُبْرَى، وَمِنْحَةٌ جُلَّى، لَا يَنَالُهَا كُلُّ أَحَدٍ، فَهِيَ لَا تُشْتَرَى بِالْمَالِ، وَلاَ تُفْتَقَدُ بِالْفَقْرِ؛ لِأَنَّهَا إِحْسَاسٌ قَلْبِيٌّ، وَشُعُورٌ عَاطِفِيٌّ لَا تَسْتَجْلِبُهُ زَخَارِفُ الدُّنْيَا، بَالِغَةً مَا بَلَغَتْ مِنَ الْمَالِ وَالْجَاهِ، وَفِي الْوَقْتِ نَفْسِهِ لَا يُعِيقُهُ فَقْرٌ وَلاَ عَوَزٌ بَالِغَيْنِ مَا بَلَغَا مِنَ الْمَسْغَبَةِ وَالإِمْلاَقِ، فَقَدْ يَنالُ رَاحَةَ الْبَالِ فَقِيرٌ يَبِيتُ عَلَى حَصِيرٍ، وَيَفْتَقِدُهَا غَنِيٌّ يتَّكِئُ عَلَى الْأَرَائِكِ، وَيَفْتَرِشُ الْحَرِيرَ، فَذَلِكُمُ الشُّعُورُ الْعَاطِفِيُّ -عِبَادَ اللهِ- هُوَ رَاحَةُ الْبَالِ الَّتِي لَا تَتَحَقَّقُ إِلاَّ بِجِسْرٍ مَشِيدٍ، يُنْشِئُهُ الْمَرْءُ فَوْقَ بَحْرِ الْأَثَرَةِ وَالْغِلِّ وَالْحَسَدِ؛ لِيَعْبُرَ بِهِ مِنْ دُنْيَاهُ إِلَى أُخْرَاهُ، عَزِيزَ النَّفْسِ، سَلَيمَ الْقَلْبِ، مُنْشَرِحَ الصِّدْقِ، تَرَاهُ قَدْ آوَى إِلَى فِرَاشِهِ حِينَ يُرْخِي اللَّيْلُ سُدُولَهُ، فَيَغْمِضُ عَيْنَيْهِ وَيَغِطُّ فِي نَوْمٍ عَمِيقٍ، لَا يُعِيقُهُ تَفْكِيرٌ، وَلاَ يَنْغَصُ نَوْمَهُ أَرَقٌ.  

Sungguh, ketenangan pikiran merupakan nikmat terbesar dan anugerah teragung yang tidak bisa diraih setiap orang. Ketenangan pikiran tidak bisa dibeli dengan harta dan tidak bisa hilang karena kemiskinan, sebab ketenangan pikiran adalah perasaan kalbu dan emosi jiwa yang tidak bisa diperoleh dengan kemewahan dunia sebanyak apapun harta dan jabatan yang dimiliki. Dalam waktu yang sama, kemiskinan dan kepapahan tidak menghalanginya (meraih ketenangan pikiran) seberat apapun kondisi lapar dan papahnya yang dialaminya. Terkadang orang miskin yang bermalam di atas tikar bisa mendapat ketenangan pikiran, sedangkan orang kaya yang bertelekan dipan-dipan dan beralaskan sutera tidak bisa mendapatkannya. Hamba Allah, perasaan jiwa itulah yang disebut dengan ketenangan pikiran yang hanya bisa diwujudkan dengan jembatan penyeberangan yang dibangun seseorang di atas lautan egoisme, sifat iri dan dengki, agar bisa digunakan untuk menyeberangi dunia menuju ke akhirat dengan jiwa yang kuat, kalbu yang sehat, dan dada yang lapang. Anda melihatnya beristirahat di atas pemberingannya ketika malam mulai gelap, lalu dia menutup kedua mata dan mendengkur dalam tidur yang lelap tanpa ada pikiran yang mengganggunya ataupun insomnia yang menghalangi tidurnya.     

وَإِنَّ مِنْ أَخْصَرِ الطُّرُقِ لِاسْتِجْلاَبِ رَاحَةِ الْبَالِ: إِدْرَاكَ الْمَرْءِ أَنَّ الْحَيَاةِ مَهْمَا طَالَتْ فَهِيَ قَصِيرَةٌ، وَأَنَّهَا مُخْتَصَرَةٌ فِي ثَلاَثِ آيَاتٍ قَصِيرَاتٍ مِنْ قَوْلِ اللهِ -جَلَّ شَأْنُهُ- عَنِ الْإِنْسَانِ: ﴿خَلَقَهُ فَقَدَّرَهُ (۱٩) ثُمَّ السَّبِيلَ يَسَّرَهُ (٢٠) ثُمَّ أَمَاتَهُ فَأَقْبَرَهُ (٢۱)﴾ [عَبَسَ: ۱٩-٢۱]

Cara paling cepat meraih ketenangan pikiran adalah menyadari bahwa selama apapun hidup tetap saja singkat dan hal itu terangkum dalam tiga ayat pendek dari firman Allah —Jalla Sya`nuh— tentang manusia, “Dia menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian jalannya Dia mudahkan lalu Dia mematikannya lalu menguburkannya.” (Qs. Abasa [80]: 19-21)  

نَعَمْ عِبَادَ اللهِ: لَمْ تَكُنِ الْحَيَاةُ بِحَاجَةٍ إِلَى وَصْفٍ أَكْثَرَ مِنْ هَذَا، وَلاَ أَوْجَزَ مِنْهُ؛ لِيُدْرِكُ الْمَرْءُ: أَنَّ الأُمُورَ بِيَدِ اللهِ، فَمَا شَاءَ اللهُ كَانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ، وَأَنَّ مَا كَانَ لَهُ فَسَيَأْتِيهِ وَإِنْ أَبَى النَّاسُ أَجْمَعُونَ، وَأَنَّ مَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فَلَنْ يَأْتِيهِ وَلَوْ مَلَكَ كُنُوزَ قَارُونَ، وَأَنَّ مَا مَضَى فَاتَ فَلَنْ يَرْجِعَ إِلَيْهِ، وَأَنَّ الْمُسْتَقْبَلَ غَيْبٌ لَا يَعْلَمُهُ إِلَّا اللهُ، وَإِنَّهُ لَيْسَ لَهُ إِلاَّ سَاعَتُهُ الَّتِي هُوَ فِيهَا، وَلِهَذَا اسْتَدَلَّ أَهْلُ الْمَعْرِفَةِ عَلَى رَاحَةِ بَالِ الْمَرْءِ بِثَلاَثٍ: بِحُسْنِ التَّوَكُّلِ فِيمَا لَمْ يَنَلْ، وَحُسْنِ الرِّضَا فِيمَا قَدْ نَالَ، وَحُسْنِ الصَّبْرِ عَلَى مَا قَدْ فَاتَ.  

Hamba Allah, memang benar bahwa hidup tidak perlu penjelasan lebih luas dari ini dan tidak pula lebih ringkas dari itu, agar orang tahu bahwa semua urusan ada di tangan Allah: apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan yang belum Dia kehendaki tidak akan terjadi; bahwa apa yang (ditetapkan) menjadi miliknya pasti datang menghampirinya meskipun semua orang tidak menginginkannya; bahwa apa yang belum menjadi miliknya tidak akan menghampirinya meskipun dia memiliki harta sebanyak harta karun; bahwa yang telah berlalu tidak akan kembali dan yang akan datang adalah hal gaib yang hanya diketahui Allah; dan bahwa dia hanya berhak atas waktu yang sedang dijalaninya. Oleh karena itu, ahli Ma’rifat mengemukakan tiga tanda ketenangan pikiran yang dimiliki seseorang, yaitu: a) sikap tawakal yang baik terhadap apa yang belum diraih, b) sikap ridha yang baik atas apa yang telah diterima, dan c) sikap sabar yang baik atas apa yang telah berlalu.

إِنَّ الْمَرْءَ بِمِثْلِ هَذَا الْفَهْمِ وَاسْتِصْحَابِهِ فِي كُلِّ آنٍ، سَيَتَدَثَّرُ بِرَاحَةِ بَالِهِ، وَيَتَزَمَّلُ بِسَكِينَةِ قَلْبِهِ وَصَفَاءِ عَيْشِهِ، وَلِأَجْلِ أَنْ يُؤمِّنَ الْمَرْءُ لِنَفْسِه دَيْمُومَةَ رَاحَةِ الْبَالِ، فَعَلَيْهِ اسْتِصْحَابُ أُمُورٍ أَرْبَعَةٍ:  

Orang dengan pemahaman seperti ini dan dia mampu menghadirkannya setiap waktu akan diselubungi ketenangan pikiran serta diselimuti ketentraman kalbu dan kedamaian hidup. Agar seseorang bisa menjamin keberlangsungan ketenangan pikiran untuk dirinya, maka dia hendaknya menghadirkan keempat hal berikut:

أَوَّلُهَا: إِنَّهُ لَا نَجَاةَ لَهُ مِنَ الْمَوْتِ، بَلْ هُوَ مُلاَقِيهِ وَإِنْ فَرَّ مِنْهُ؛ لِأَنَّ الْمَوْتَ يَرْقُبُهُ مِنْ أَمَامِهِ لَا مِنْ خَلْفِهِ؛ ﴿قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ﴾ [الْجُمُعَةِ: ٨]، وَلْيَسْتَحْضِرْ فِي نَفْسِهِ قَوْلَ عَلِيٍّ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: “أَيُّ يَوْمَيَّ مِنَ الْمَوْتِ أَفِرُّ؟ يَوْمٌ لَمْ يُقَدَّرْ أَوْ يَوْمٌ قُدِّرَ، يَوْمٌ لَمْ يُقَدَّرْ فَلاَ أَحْذِرُهُ، وَمِنَ الْمَقْدُورِ لَا يَنْجُو الْحَذَرُ”.  

Pertama, bahwa dia tidak bisa lari dari kematian, bahkan dia pasti menemuinya meskipun melarikan diri darinya. Karena kematian selalu mengintainya dari arah depan dan belakang. “Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kalian lari dari padanya pasti menemui kalian’.” (Qs. Al Jumu’ah [62]: 8) Dia juga hendaknya senantiasa mengingat ucapan Ali —Radhiyallâhu Anhu— dalam dirinya, “Kemanakah aku bisa melarikan dari kematian? Apakah hari yang belum ditakdirkan atau hari yang telah ditakdirkan? Hari yang belum ditakdirkan tidak aku waspadai, namun hari yang telah ditakdirkan. Meskipun sudah waspada aku tidak bisa selamat.”    

وَثَانِيهَا: أَنَّ لَا رَاحَةَ دَائِمَةٌ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَّ الأَيَّامَ قُلَّبٌ، إِنْ سَرَّتْ نَفْسًا ضَاحِكَةً سَاءَتْ نَفْسًا بَاكِيَةً.  

Kedua, bahwa tidak ada ketenangan yang abadi di dunia dan bahwa roda kehidupan pasti berganti. Jika suatu hari seseorang gembira dengan tertawa, maka di hari lain dia sengsara dengan menangis.    

وَثَالِثُهَا: أَنَّ لَا سَلاَمَةَ مِنَ النَّاسِ عَلَى الدَّوَامِ، وَإِنَّهُ مَهْمَا كَانَ تَحرُّزُهُ مِنْهُمْ وَعُزْلَتُهُ، فَالسَّلاَمَةُ مِنْهُمْ أَعَزُّ مِنَ الْكِبْرِيتِ الْأَحْمَرِ، وَقَدِيمًا قِيلَ:  
وَلَوْ أَنَّ وَاشٍ بِالْيَمَامَةِ دَارُهُ # وَدَارِي بِأَعْلَى حَضْرَمَوْتَ اهْتَدَى لِيَا

Ketiga, bahwa dia tidak bisa menghindari manusia selamanya dan bahwa sebaik apapun perlindungan dirinya dan sejauh apapun pengasingan dirinya dari manusia, sangat tidak mungkin menghindari mereka. Ungkapan lama mengatakan,
Andai rumah si pengadu domba itu di Yamamah,
sedang rumahku di Hadhramaut paling atas, ia pasti menemukanku

وَإِنَّ مِنَ الْخَطَأِ الْبَيِّنِ ظَنُّ كَثِيرٍ مِنَ النَّاسِ أَنَّ رَاحَةَ الْبَالِ لَا تَتَحَقَّقُ إِلاَّ بِالْعُزْلَةِ دُونَ الْخُلْطَةِ، وَفِي الدَّعَةِ دُونَ الْكَدِّ، فَفِي الْحَديثِ الْحَسَنِ: “الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَفْضَلُ مِنَ المُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ”.  

Salah satu kekeliruan terbesar adalah asumsi banyak orang bahwa ketenangan pikiran hanya bisa terwujud dengan uzlah (mengasingkan diri) tanpa perlu berbaur dengan yang lain, dan bermalas-malasan tanpa berusaha. Dalam hadits hasan disebutkan, “Mukmin yang berbaur dengan orang lain dan bersabar dengan gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak berbaur dengan orang lain dan tidak bersabar dengan gangguan mereka.”  

وَرَابِعُ الْأُمُورِ: إِنَّهُ لَا رَاحَةَ بَالٍ لِمَنْ لَا رِضًا لَهُ، فَإِنَّ الرِّضَا بِاللهِ وَبِقَضَائِهِ وَقَدَرِه أُسٌّ أَسَاسٌ لِرَاحَةِ الْبَالِ، قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْعُودٍ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُ-: “إِنَّ اللهَ بِقِسْطِهِ وَعَدْلِهِ جَعَلَ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ فِي الْيَقِينِ وَالرِّضَا، وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحُزْنَ فِي الشَّكِّ وَالسَّخَطِ.”  

Keempat, bahwa ketenangan pikiran tidak bisa dimiliki oleh orang yang tidak ridha, karena ridha kepada Allah dan takdir-Nya sesungguhnya pondasi utama ketenangan pikiran. Abdullah bin Mas’ud’ —Radhiyallâhu Anhu— berkata, “Sesungguhnya Allah, dengan keseimbangan dan keadilan-Nya, menempatkan ruh dan kegembiraan dalam keyakinan dan keridhaan, dan menempatkan kegalauan dan kesedihan dalam keragu-raguan dan kemarahan.”  

رَوَى مَكْحُولٌ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ -رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا- كَانَ يَقُولُ: “إِنَّ الرَّجثلَ لَيَسْتَخِيرُ اللهَ، فَيَخْتَارُ لَهُ، فَيَتَسَخَّطُ عَلَى رَبِّهِ، وَلاَ يَلْبَثُ أَنْ يَنْظُرَ فِي الْعَاقِبَةِ، فَإِذَا هُوَ خَيْرٌ لَهُ.”

Makhul meriwayatkan bahwa Ibnu Umar —Radhiyallâhu Anhumâ— pernah berkata, “Sungguh, ada orang yang meminta agar dipilihkan oleh Allah lalu Allah mengabulkannya kemudian dia marah kepada Tuhannya namun tak lama setelah dia melihat akhirnya ternyata itu baik untuknya.”   

وَسُئِلَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ: “مِنْ أَيْنَ أُتِيَ هَذَا الْخُلُقُ؟ قَالَ: مِنْ قِلَّة الرِّضَا عَنِ اللهِ. قِيلَ لَهُ: وَمِنْ أَيْنَ أُتِيَ قِلَّةُ الرِّضَا عَنِ اللهِ؟ قَالَ: مِنْ قِلَّةِ الْمَعْرِفَةِ بِاللهِ”.  

Al Hasan Al Bashri pernah ditanya, “Darimana perilaku ini diperoleh?” Dia menjawab, “Dari kurangnya sikap ridha kepada Allah.” Dia ditanya lagi, “Darimana kurangnya sikap ridha kepada Allah dimiliki?” Dia menjawab, “Dari kurangnya mengenal Allah.”       

وَجِمَاعُ ذَلِكُمْ كُلِّهِ -عِبَادَ اللهِ- مَا ذكَرَهُ مَنْ أُوتِيَ جَوَامعَ الْكَلِمِ، وَأَفْصحُ مَنْ نَطَقَ بِالضَّادِ، -صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ- بِقَوْلِهِ: “ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلاَم دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا.” (رَوَاهُ مُسْلِمٌ).  

Hamba Allah, inti dari itu semua adalah apa yang disebutkan orang yang diberi Jawâmi’ Al Kalim dan orang yang paling faseh berbahasa Arab —semoga Allah melimpahkan rahmat dan salam penghormatannya kepada beliau— lewat sabdanya, “Manisnya iman dirasakan oleh orang yang ridha kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai utusan.” (HR. Muslim)  

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ وَالسُّنَّةِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِمَا مِنَ الآيَاتِ وَالْحِكْمَةِ، أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَخَطِيئَةٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، إِنَّ رَبِّي كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا.

Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dengan Al Quran dan Sunnah, serta memberikan manfaat kepadaku dan kalian dengan ayat dan hikmat yang ada di dalamnya. Aku cukupkan dengan apa yang kalian dengar, dan aku memohon ampunan kepada Allah untukku dan kalian serta seluruh kaum muslim dan muslimat dari segala dosa dan kesalahan, maka mintalah ampunan dan bertobatlah kepada-Nya. Sungguh, Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِهِ الْمُصْطَفَى، وَنَبِيِّهِ الْمُجْتَبَى، وَبَعْدُ:   

Segala puji bagi Allah. Aku memuji-Nya dengan pujian yang banyak, baik dan diberkahi. Shalawat dan salam penghormatan tercurah kepada utusan-Nya yang terpilih dan nabi-Nya yang terbaik. Wa ba’d:   

فَاتَّقُوا اللهَ -عِبَادَ اللهِ-، وَاعْلَمُوا أَنَّ جِمَاعَ رَاحَةِ الْبَالِ فِي أَرْبَعَةٍ: فِي الْبَدَنِ، بِعَدَمِ إِرْهَاقِهِ بِكَثْرَةِ الْعَمَلِ، وَعَدَمِ إِكْسَالِهِ بِالدَّعَةِ وَقِلَّةِ الْعَمَلِ، وَفِي النَّفْسِ بِقِلَّةِ الْمَعَاصِي وَالذُّنُوبِ، وَفِي الْقَلْبِ بِقِلَّةِ الْاِكْتِرَاثِ بِهُمُومِ الدُّنْيَا، وَفِي اللِّسَانِ بِحِفْظِهِ مِمَّا يَسْفُلُ بِهِ، وَزَمِّهِ عَنْ مَزَالِقِ الْقَوْلِ وَفُحْشِهِ، ثُمَّ اجْتَهِدُوا -يَا رَعَاكُمُ اللهُ- بِالْتِمَاسِ رَاحَةِ الْبَالِ فِي طَاعَةِ اللهِ وَذِكْرِهِ، الْتَمِسُوهَا فِي قَلْبٍ سَلِيمٍ وَخُلُقٍ حَسَنٍ، وَكَفِّ الْأَذَى عَنِ النَّاسِ، وَكَفْكَفَةِ دَمْعِ مَكْلُومٍ، وَمَسْحِ رَأْسِ يَتِيمٍ، الْتَمِسُوهَا فِي الصِّدْقِ وَالْأَمَانَةِ، وَالتَّوَاضُعِ وَالرِّضَا، الْتَمِسُوهَا فِي تَجَاهُلِ السُّفَهَاءِ، وَمُجَادَلَةِ الْحَمْقَى، وَالتَّغَافُلِ؛ فَهُوَ تِسْعَةُ أَعْشَارِ رَاحَةِ الْبَالِ، إِنْ لَمْ يَكُنْ هُوَ رَاحَةُ الْبَالِ كُلُّهَا.  

Hamba Allah, bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kunci ketenangan pikiran ada pada empat tempat, yaitu: Pertama, tubuh dengan tidak melelahkannya dengan banyak pekerjaan. Kedua, jiwa dengan sedikit maksiat dan dosa. Ketiga, kalbu dengan tidak memperbanyak keinginan duniawi. Keempat, lisan dengan menjaganya dari apa yang merendahkannya serta mengendalikannya dari ucapan yang keliru dan keji. Selanjutnya, bersungguh-sungguhlah dalam mencari ketenangan pikiran dengan taat kepada Allah dan berdzikir —semoga Allah membimbing kalian—. Carilah ketenangan pikiran dalam hati yang bersih, budi pekerti yang baik, tidak mengganggu orang lain, menyeka air mata orang yang tertimpa musibah, dan mengusap kepala anak yatim. Carilah ketenangan pikiran dalam sikap jujur, amanah, tawadhu, dan ridha. Carilah ketenangan pikiran dalam sikap mengacuhkan orang-orang bodoh, tidak berdebat dengan orang-orang dungu, dan sikap pura-pura tidak tahu. Itulah sembilan dari sepuluh kunci ketenangan pikiran agar menjadi ketenangan pikiran yang sempurna.    

مَنْ لَمْ تَكُنْ هَذِهِ مَظَانَّ رَاحَةِ الْبَالِ عِنْدَهُ فَعَلَيْهِ أَلَّا يَتَعَنَّى؛ لِأَنَّهُ كَالَّذِي يَطْلُبُ الرِّيَّ بِالْمَاءِ الْمَالِحِ، أَوْ كَالَّذِي يَسْتَسْمِنُ ذَا وَرَمٍ، وَيَنْفُخُ فِي غَيْر ذِي ضَرَمٍ.   

Orang yang tidak menjadikan hal ini sebagai media untuk meraih ketenangan pikiran, maka dia sebaiknya tidak perlu berlelah-lelah, karena dia tak ubahnya orang yang menghilangkan dahaga dengan air asin atau seperti orang yang berusaha menggemukkan orang yang terkena kanker dan memanas-manasi orang yang tidak naik pitam.  

ثُمَّ إِنَّ التَّقَرُّبَ إِلَى اللهِ بِالنَّوَافِلِ، مِنْ أَعْظَمِ أَسْبَابِ رَاحَةِ الْبَالِ؛ لِأَنَّ كَثْرَةَ النَّوَافِلِ مُدْعَاةٌ لِمَحَبَّةِ اللهِ، وَمَنْ أَحَبَّهُ اللهُ أَصْلَحَ بَالَهُ وَأَرَاحَهُ؛ فَفِي الْحَدِيثِ الْقُدُسِيِّ قَوْلُ اللهُ -جلَّ شأنُه-: “وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلِئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ.” (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)

Selanjutnya, mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunah sejatinya adalah penyebab utama ketenangan pikiran diraih. Karena banyaknya ibadah sunah mendatangkan kecintaan Allah, dan orang yang Allah cintai, pikirannya akan baik dan tenang. Dalam hadits Qudsi disebutkan firman Allah —Jalla Sya`nuh—, “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan atas dirinya. Ketika hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah maka Aku pun mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang digunakan untuk mendengar, penglihatannya yang digunakan untuk melihat, tangannya yang digunakan untuk memegang, dan kakinya yang digunakan untuk berjalan. Bila dia meminta kepada-Ku maka Aku pasti mengabulkan permintaannya dan bila dia meminta perlindungan dari-Ku maka Aku pasti melindunginya.” (HR. Al Bukhari)

وَإِنَّ مِنَ النَّوَافِلِ الَّتِي نُدِبَ إِلَيْهَا فِي دِينِنَا الحْنَيِفِ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ؛ فَهُوَ شَعِيرَةٌ مِنْ شَعَائِرِ الدِّينِ الْقَيِّمِ، وَقَدْ قَالَ عَنْهُ الْمُصْطَفَى -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: “أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ.” (رَوَاهُ مُسْلِمٌ).  

Di antara ibadah sunah yang dianjurkan dalam agama kita yang hanîf ini adalah puasa Asyura, yang merupakan salah satu syiar agama yang lurus. Terkait puasa ini, Nabi —Shallallâhu Alaihi wa Sallam— bersabda, “Aku berharap kepada Allah akan menghapuskan dosa tahun sebelumnya.” (HR. Muslim)  

هَذَا وَصَلُّوا -رَحِمَكُمُ اللهُ- وَسَلِّمُوا عَلَى الْبَشِيرِ النَّذِيرِ، وَالسِّرَاجِ الْمُنِيرِ، مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، صَاحِبِ الْحَوْضِ وَالشَّفَاعَةِ، فَقَدْ أَمَرَكُمُ اللهُ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيَّهَ بِكُمْ -أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ-، فَقَالَ -جَلَّ وَعَلاَ-: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الْأَحْزَابِ: ٥٦]

Demikianlah! Bacalah shawalat dan salam penghormatan kepada sang pemberi peringatan dan pelita penerang, Muhammad bin Abdillah, pemilik telaga dan syafaat. Sungguh, Allah telah memerintahkan kalian satu perintah yang telah diawali-Nya sendiri, memuji para malaikat-Nya yang berstasbih memuji-Nya, dan menyeru kalian —wahai orang-orang beriman—, lalu Dia —Jalla wa Alâ— berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kepada Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (Qs. Al Ahzâb [33]: 56)  

اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، صَاحِبِ الْوَجْهِ الْأَنْوَرِ، وَالْجَبِينِ الأَزْهَرِ، وَارْضَ اللهم عَنْ خُلَفَائِهِ الْأَرْبَعَةِ: أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ صَحَابَةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، وَعَنِ التَّابِعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَجُودِكَ وَكَرَمِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.  

Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam penghormatan kepada hamba dan utusan-Mu Muhammad, pemilik wajah yang bersinar dan dahi yang bercahaya. Ya Allah, ridhailah keempat Khalifah beliau: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Ridhai pula seluruh sahabat Nabi-Mu Muhammad —Shallallahu Alaihi wa Sallam—, para tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan hingga Hari Pembalasan. Ridhai juga kami bersama mereka dengan ampunan-Mu, kemurahan hati-Mu, dan kedermanan-Mu, wahai Dzat yang paling menyayangi dari semua yang menyayangi.  

اللهم أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِينَ، ، اللهم انْصُرْ دِينَكَ وَكِتَابَكَ، وَسُنَّةَ نَبِيِّكََ وَعِبَادَكَ الْمُؤْمِنِينَ، اللهم فَرِّجْ هَمَّ الْمَهْمُومِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَنَفِّسْ كَرْبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّينَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.  

Ya Allah, jayakanlah Islam dan kaum muslim. Ya Allah, tolonglah agama-Mu, Kitab-Mu, Sunnah Nabi-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang beriman. Ya Allah, angkatlah duka orang-orang yang bersedih, ringankanlah musibah orang-orang yang tertimpa bencana, lunasilah hutang orang-orang yang memiliki tanggungan hutang, dan sembuhkanlah orang-orang yang sakit dari kami serta kaum muslim, dengan rahmat-Mu wahai Dzat yang paling menyayangi dari semua yang menyayangi.    

اللهم آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلاَةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْ وِلاَيَتَنَا فِيمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا ربَّ العالمينَ، اللهم وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّهُ وَتَرْضَاهُ، مِنَ الأَقْوَالِ وَالأَعْمَالِ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، اللهم أَصْلِحْ لَهُ بِطَانَتَهُ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ، اللهم وَفِّقْهُ وَوَلِيَّ عَهْدِهِ لِمَا فِيهِ صَلاَحُ الْبِلاَدِ وَالْعِبَادِ.   

Ya Allah, anugerahkan ketentraman di negeri kami, perbaikilah imam dan pemimpin kami, berikanlah tampuk kekuasaan kami kepada orang yang takut kepada-Mu, bertakwa kepada-Mu, dan mencari ridha-Mu, wahai Tuhan semesta alam. Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami untuk melakukan apa yang Engkau cintai dan ridhai berupa perkataan dan perbuatan, wahai Yang Maha Hidup lagi Maha mengurusi makhluk-Nya terus-menerus. Ya Allah, perbaikilah teman dekatnya, wahai Dzat yang memiliki kebesaran dan kemuliaan. Ya Allah, berilah taufik kepada pemimpin kami dan putra mahkotanya untuk kemaslahatan negara dan bangsa.     

اللهم أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللهم أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلاَمِ، وَجَنِّبْهُمُ الْفَوَاحِشَ وَالآثَامَ، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ.

Ya Allah, perbaikilah kondisi kaum muslim di semua tempat. Ya Allah, damaikanlah hati-hati mereka, perbaikilah hubungan di antara mereka, tunjukilah mereka jalan keselamatan, serta jauhkanlah perbuatan keji dan dosa dari mereka, wahai Dzat yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.  

اللهم احْفَظْنَا بِالإِسْلاَمِ قَائِمِينَ، وَاحْفَظْنَا بِالإِسْلاَمِ رَاقِدِينَ، وَلاَ تشْمِتْ بِنَا الأَعْدَاءَ وَلاَ الْحَاسِدِينَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ. اللهم مَنْ أَرَادَنَا وَأَرَادَ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِينَ بِسُوءٍ فَأَشْغِلْهُ بِنَفْسِهِ، وَاجْعَلْ كَيْدَهُ فِي نَحْرِهِ، يَا سَمِيعُ الدُّعَاءِ.  

Ya Allah, jagalah kami dengan Islam saat berdiri dan tidur, janganlah Engkau membiarkan musuh-musuh dan orang-orang hasad gembira atas penderitaan kami, dengan rahmat-Mu wahai Dzat yang paling menyayangi dari semua yang menyayangi. Ya Allah, sibukkanlah orang yang ingin melakukan keburukan kepada kami, Islam dan kaum muslim dengan dirinya, dan jadikanlah tipu dayanya mengenai dirinya, wahai Yang Maha Mengabulkan doa.

﴿رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾ [الْبَقَرَةِ: ٢٠۱].

“Tuhan kami, berikanlah kebaikan kepada kami di dunia dan di akhirat, serta peliharalah kami dari siksa api neraka.” (Qs. Al Baqarah [2]: 201)

عِبَادَ اللهِ: اذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى آلَائِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.   

Hamba Allah, ingatlah Allah yang Maha Agung lagi Maha Mulia niscaya Dia mengingat kalian dan bersyukurlah kepada-Nya atas anugerah-Nya niscaya Dia akan menambahkannya. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lainnya). Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Nughazi Media

Nughazi Media adalah media publikasi berbagai aplikasi ilmu pengetahuan, pendidikan dan agama dalam berbagai format digital.

Post a Comment

Peraturan berkomentar :
1. DILARANG melakukan SPAM pada KOMENTAR blog ini.
2. DILARANG memberikan komentar yang melanggar hukum Indonesia.
3. DILARANG memberikan komentar diluar pembahasan/OOT(Out of Topic).
4. DILARANG melakukan PROMOSI/IKLAN.
5. DILARANG menyebarkan informasi palsu/Hoax.

Previous Post Next Post