Muharram dan Syari'at Shaum Tasu'a Asyura



Bulan Muharram

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ اِنَّمَا النَّسِيْۤءُ زِيَادَةٌ فِى الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُحِلُّوْنَهٗ عَامًا وَّيُحَرِّمُوْنَهٗ عَامًا لِّيُوَاطِـُٔوْا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللّٰهُ فَيُحِلُّوْا مَا حَرَّمَ اللّٰهُ ۗزُيِّنَ لَهُمْ سُوْۤءُ اَعْمَالِهِمْۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ ࣖ

"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah itu ada dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa. Sesungguhnya pengunduran (bulan haram) itu hanya menambah kekufuran. Orang-orang yang kufur disesatkan dengan (pengunduran) itu, mereka menghalalkannya suatu tahun dan mengharamkannya pada suatu tahun yang lain agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang diharamkan Allah, sehingga mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (Oleh setan) telah dijadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan buruk mereka itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir." [Qs. At-Taubah:9/36]

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ .... السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Dari Abu Bakrah -semoga Allah meridlainya- dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "….Dalam setahun ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzul Qa'dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab yang biasa diagungkan Bani Mudlar yaitu antara Jumadil tsani dan Sya'ban.' [HR. al-Bukhari, 1/1168 no. 3025]

Kaum kafir Quraisy mengubah hukum dan ketentuan Allah dengan pendapatnya sendiri. Mereka menghalalkan bulan Haram dan menangguhkannya sampai bulan Safar.

Tafsir Ibnu Katsir - Ada seorang lelaki dari kalangan Bani Kinanah berjuluk "Al-Qalmas', hidup di masa Jahiliah. Pada mulanya mereka tidak berani melakukan serangan terhadap sebagian dari mereka dalam bulan-bulan Haram. Seseorang bertemu dengan pembunuh ayahnya tidak berani menyentuhnya karena menghormati bulan Haram tersebut. Tetapi di saat Al-Qalmas muncul, dia berkata: "Marilah kita berangkat untuk mengadakan serangan." Mereka menjawab, "Bulan ini adalah bulan Muharram." Al-Qalmas menjawab, "Kita tangguhkan untuk tahun ini, dua bulan sekarang kita kosongkan saja. Apabila datang tahun depan, kita bayar, lalu kita jadikan keduanya sebagai bulan Haram." Maka hal tersebut diberlakukan. Kemudian ketika tahun depan tiba, ia berkata, "Janganlah kalian mengadakan peperangan dalam bulan Safar. Jadikanlah ia sebagai bulan Haram, sama dengan bulan Muharram. kedua-duanya kita haramkan." 
  1. Muharram dinamakan dengan nama ini karena ia adalah bulan yang diharamkan dengan penegasan yang kuat. Maksudnya: pada bulan-bulan haram tersebut, dosa lebih berat dibanding dosa di bulan-bulan lain.
  2. Ibnu Abbas: Allah juga menjadikan dosa pada bulan tersebut lebih besar. Demikian pula amal shaleh dan pahala juga menjadi lebih besar
  3. Qatadah -rahimahullaah- Meskipun zhalim, bagaimanapun juga merupakan dosa besar, tetapi Allah membesarkan sesuatu yang Ia kehendaki.
Tasu'a Asyura
Secara bahasa kata عَاشُورَاء memiliki wazan فَاعُوْلَاء dan mengandung alif ta’nits mamdudah (ألف التأنيث الممدودة), menurut Ibnu Duraid, kata عَاشُورَاء tidak memiliki mutsanna (bilangan dua). Sebagian kitab bahasa menyebut bahwa kata عَاشُورَاء ini tidak bisa dimasukkan alif dan lam di awal. Disebut Asyura karena terikat dengan hari ke sepuluh bulan Muharram.
Adapun kata تاسوعاء atau hari kesembilan adalah huruf Muwallad. Huruf Muwallad menurut Rajab Abdul Jawwad Ibrahim dalam buku ‘Dirasah fid Dalalah wal Mu’jam’ adalah kata-kata yang diarabkan oleh generasi pertama pada masa Umawiyah dan setelahnya.

Syari'at Shaum Asyura
Berikut beberapa hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terkait dengan shaum Asyura:

 صلى الله عليه وسلم بصيامه حتى فرض رمضان وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من شاء فليصمه ، ومن شاء أفطر

Dari Aisyah RA, sesungguhnya orang-orang Quraisy dulu pada masa jahiliyah berpuasa pada hari Asyura. Rasulullah Saw pun memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu hingga turunnya perintah wajib puasa Ramadhan.Rasulullah (setelah wajibnya puasa Ramadhan) berkata barang siapa menghendaki maka ia boleh berpuasa Asyura sedangkan yang tidak mau puasa maka tidak mengapa (HR. Bukhari dan Muslim).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ  : كَانُوا يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ وَكَانَ يَوْمًا تُسْتَرُ فِيهِ الْكَعْبَةُ فَلَمَّا فَرَضَ اللَّهُ رَمَضَانَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ

Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata: “Orang-orang melaksanakan shaum hari kesepuluh bulan Muharam (‘Asyura’) sebelum diwajibkan shaum Ramadhan. Hari itu adalah ketika Ka’bah ditutup dengan kain (kiswah). Ketika Allah subhanahu wata’ala telah mewajibkan shaum Ramadhan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang mau shaum hari ‘Asyura’ laksanakanlah dan siapa yang tidak mau tinggalkanlah!” (HR Bukhari).

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika tiba di Madinah, Beliau mendapatkan mereka (orang Yahudi) malaksanakan shaum hari ‘Asyura (10 Muharam) dan mereka berkata; “Ini adalah hari raya, yaitu hari ketika Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Fir’aun. Lalu Nabi Musa ‘Alaihissalam mempuasainya sebagai wujud syukur kepada Allah”. Maka Beliau bersabda: “Akulah yang lebih utama (dekat) terhadap Musa dibanding mereka”. Maka Beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummat Beliau untuk mempuasainya (HR. Bukhari).

Dari ketiga hadits tersebut di atas, diketahui bahwa syariat shaum Asyura telah dilaksanakan oleh orang Arab Jahiliyyah dan Bangsa Yahudi Bani Israil juga oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sebelum Beliau diangkat menjadi nabi.

Dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, disebutkan beberapa perbedaan pendapat tentang sebab orang Jahiliyah melaksanakan puasa Asyura. Pendapat pertama, mereka mengambil dari syariat orang terdahulu dari kalangan Ahli Kitab, Pendapat kedua, mereka pernah tertimpa musibah paceklik lalu diangkat musibah ini, dan mereka puasa sebagai bentuk rasa syukur, pendapat ketiga, mereka melakukan satu dosa yang membuat mereka sangat menyesal dan melakukan puasa sebagai bentuk penghapusan dosa.

Sedangkan Orang Yahudi melakukan shaum Asyura pada hari ke-10 Tishri atau 10 Muharram merupakan bentuk syukur atas kemenangan Musa bersama Bani Israil dari musuh, Fir’aun dan kelompoknya. Orang-orang Yahudi menyebut tanggal tersebut sebagai Hari Suci Yom Kippur. Sebagai rasa syukur, umat Yahudi melaksanakan puasa pada hari tersebut.

Sejarah Pensyariatan Puasa Asyura
Ibnu Hajar al-Asqalani di dalam kitab Fath al-Bari 5: 437 menjelaskan bahwa puasa Asyura disyariatkan pada awal tahun kedua sebelum syariat puasa Ramadan diturunkan.

Al-Baihaqi menyebutkan bahwa Rasulullah saw  berpuasalah setelah beliau datang di kota Madinah. Beliau menjadikan setiap bulan puasa 3 hari dan puasa Asyura, sehingga beliau puasa selama 17 bulan sampai akhirnya Allah SWT mewajibkan puasa Ramadan.

Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitab Lathaif Al—Ma’arif menyebutkan bahwa puasa Nabi Muhammad SAW memiliki 4 fase, yaitu:

Fase Pertama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa ‘Asyura di Makkah dan beliau tidak perintahkan yang lain untuk melakukannya.

كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

”Di zaman jahiliyah dahulu, orang Quraisy biasa melakukan puasa ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga melakukan puasa tersebut. Tatkala tiba di Madinah, beliau melakukan puasa tersebut dan memerintahkan yang lain untuk melakukannya. Namun tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkan puasa ’Asyura. (Lalu beliau mengatakan:) Barangsiapa yang mau, silakan berpuasa. Barangsiapa yang mau, silakan meninggalkannya (tidak berpuasa).” (HR. Bukhari no. 2002 dan Muslim no. 1125)

Fase kedua, Ketika tiba di Madinah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Ahlul Kitab melakukan puasa ‘Asyura dan memuliakan hari tersebut. Lalu beliau pun ikut berpuasa ketika itu. Kemudian ketika itu, beliau memerintahkan pada para sahabat untuk ikut berpuasa. Melakukan puasa ‘Asyura ketika itu semakin ditekankan perintahnya. Sampai-sampai para sahabat memerintah anak-anak kecil untuk turut berpuasa.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِى تَصُومُونَهُ ». فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ أَنْجَى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا فَنَحْنُ نَصُومُهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ». فَصَامَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ.

“Ketika tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendapati orang-orang Yahudi melakukan puasa ’Asyura. Kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bertanya, ”Hari yang kalian bepuasa ini adalah hari apa?” Orang-orang Yahudi tersebut menjawab, ”Ini adalah hari yang sangat mulia. Ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Ketika itu pula Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan. Musa berpuasa pada hari ini dalam rangka bersyukur, maka kami pun mengikuti beliau berpuasa pada hari ini”. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lantas berkata, ”Kita seharusnya lebih berhak dan lebih utama mengikuti Musa daripada kalian.”. Lalu setelah itu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.” (HR. Muslim no. 1130)

An Nawawi –rahimahullah- menjelaskan, ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam biasa melakukan puasa ’Asyura di Makkah sebagaimana dilakukan pula oleh orang-orang Quraisy. Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam tiba di Madinah dan menemukan orang Yahudi melakukan puasa ‘Asyura, lalu beliau shallallahu ’alaihi wa sallam pun ikut melakukannya. Namun beliau melakukan puasa ini berdasarkan wahyu, berita mutawatir (dari jalur yang sangat banyak), atau dari ijtihad beliau, dan bukan semata-mata berita salah seorang dari mereka (orang Yahudi). Wallahu a’lam.” (Al Minhaj Syarh Muslim, 8/11)

Fase ketiga, Ketika diwajibkannya puasa Ramadhan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidakmemerintahkan para sahabat untuk berpuasa ‘Asyura dan tidak terlalu menekankannya. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan bahwa siapa yang ingin berpuasa, silakan dan siapa yang tidak ingin berpuasa, silakan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh ’Aisyah radhiyallahu ’anha dalam hadits yang telah lewat dan dikatakan pula oleh Ibnu ’Umar berikut ini. Ibnu ’Umar -radhiyallahu ’anhuma- mengatakan,

أَنَّ أَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوا يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَامَهُ وَالْمُسْلِمُونَ قَبْلَ أَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ عَاشُورَاءَ يَوْمٌ مِنْ أَيَّامِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ.

“Sesungguhnya orang-orang Jahiliyah biasa melakukan puasa pada hari ’Asyura. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pun melakukan puasa tersebut sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, begitu pula kaum muslimin saat itu. Tatkala Ramadhan diwajibkan, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan: Sesungguhnya hari Asyura adalah hari di antara hari-hari Allah. Barangsiapa yang ingin berpuasa, silakan berpuasa. Barangsiapa meninggalkannya juga silakan.” (HR. Muslim no. 1126)

Ibnu Rajab -rahimahullah- mengatakan, “Setiap hadits yang serupa dengan ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan lagi untuk melakukan puasa ‘Asyura setelah diwajibkannya puasa Ramadhan. Akan tetapi, beliau meninggalkan hal ini tanpa melarang jika ada yang masih tetap melaksanakannya. Jika puasa ‘Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan dikatakan wajib, maka selanjutnya apakah jika hukum wajib di sini dihapus (dinaskh) akan beralih menjadi mustahab (disunnahkan)? Hal ini terdapat perselisihan di antara para ulama.

Begitu pula jika hukum puasa ‘Asyura sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan adalah sunnah muakkad, maka ada ulama yang mengatakan bahwa hukum puasa Asyura beralih menjadi sunnah saja tanpa muakkad (ditekankan). Oleh karenanya, Qois bin Sa’ad mengatakan, “Kami masih tetap melakukannya.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 96)

Fase keempat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertekad  di akhir umurnya untuk melaksanakan puasa Asyura tidak bersendirian, namun diikutsertakan dengan puasa pada hari lainnya. Tujuannya adalah untuk menyelisihi puasa Asyura yang dilakukan oleh Ahlul Kitab.
Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari ’Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى.

“Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani.” Lantas beliau mengatakan,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-.

“Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim no. 1134)

Syariat Puasa Tasu’a (9 Muharram)
Para ulama telah memberikan ijmak (konsensus) tentang pensyariatan puasa Tasu’a sebagaimana disebutkan Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ jilid 6 hal. 383. Adapun hadis yang menunjukkan syariat puasa Tasu’a adalah hadis yang berbunyi:
Dalam shahih Muslim, dari Ibnu Abas  radiyallahu ‘anhuma berkata:

” حين صام رسول الله – صلى الله عليه وسلم – عاشوراء وأمر بصيامه، قالوا: يا رسول الله إنه يوم تعظمه اليهود والنصارى “، فقال – صلى الله عليه وسلم -: { فإذا كان العام المقبل إن شاء الله صمنا التاسع } [أي مع العاشر مخالفةً لأهل الكتاب] قال: ( فلم يأت العام المقبل حتى توفي رسول الله – صلى الله عليه وسلم – ).

Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam  berpuasa ‘asyura dan menganjurkan para sahabatnya untuk berpuasa, mereka berkata: Wahai Rasulullah sesungguhnya ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, Maka beliau bersabda: Kalau begitu tahun depan Insya Allah kita akan berpuasa (pula) pada hari kesembilan (tasu’a). (yakni, bersamaan dengan puasa ‘asyura, untuk menyelisihi Ahli kitab). Ibnu Abas berkata: belum sampai tahun berikutnya, Rasulullah  shalallahu ‘alaihi wa sallam  telah wafat.

Keutamaan Shaum Tasu'a Asyura

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ : أَيُّ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ بَعْدَ الْمَكْتُوبَةِ ؟ قَالَ :  الصَّلَاةُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ . قَالَ : فَأَيُّ الصِّيَامِ أَفْضَلُ بَعْدَ رَمَضَانَ ؟ قَالَ : شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ - رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ إلَّا الْبُخَارِيَّ

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah saw. Ditanya, ‘Shalat apa yang paling utama setelah fardhu?’ Beliau bersabda, ‘Shalat di akhir malam.’ Ia bertanya lagi, ‘Shaum apa yang paling utama setelah shaum Ramadlan?’ Beliau bersabda, ‘Bulan Allah Muharram’.” HR. Al-Jamaah kecuali Al-Bukhari.

Perbedaan Pendapat
Beberapa ulama berpendapat bahwa shaum Asyura yang dimaksud adalah shaum sebulan penuh di bulan Muharram. Hal ini berdasarkan pemahaman terhadap kalimat "Syahru Allah". 
Imam Al-Qari berkata, “Makna zhahir hadis itu bahwa yang dimaksud adalah seluruh hari pada bulan Muharam." Saya (Imam Al-Mubarakafuri) berpendapat, “Perkara itu sebagaimana dikatakan oleh Al-Qari.”

Imam As-Sindi berkata, “Sabda beliau: ‘Syahrullaah’ yaitu shaum pada bulan Allah, dan bulan Muharam disandarkan kepada Allah untuk memuliakan. Ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah hari Asyura. Saya berpendapat, ‘Pada riwayat At-Tirmidzi, dari Ali secara marfu’ terdapat keterangan yang berfaidah bahwa yang dimaksud adalah sebulan penuh.”

Adapun dalil bahwa yang dimaksud dengan shaum Asyura adalah shaum pada tanggal 10 Muharram berdasarkan beberapa hadits berikut:

وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِى شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِى شَعْبَانَ.

“Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. menyempurnakan shaum selama sebulan penuh kecuali shaum Ramadhan dan aku tidak pernah melihat Beliau paling banyak melaksanakan shaum (sunnat) kecuali di bulan Sya'ban." HR. Muslim diterima dari Aisyah Radliyallahu 'Anha

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا هَلْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ شَهْرًا مَعْلُومًا سِوَى رَمَضَانَ قَالَتْ وَاللَّهِ إِنْ صَامَ شَهْرًا مَعْلُومًا سِوَى رَمَضَانَ حَتَّى مَضَى لِوَجْهِهِ وَلَا أَفْطَرَهُ حَتَّى يُصِيبَ مِنْهُ

Dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata, “Saya bertanya kepada Aisyah Ra, ‘Apakah Nabi saw. pernah bershaum selama satu bulan penuh yang diketahui selain di bulan Ramadlan?’ Aisyah menjawab, ‘Demi Allah, beliau belum pernah bershaum sebulan penuh yang diketahui selain bulan Ramadlan hingga beliau wafat, dan beliau juga belum pernah berbuka terus menerus sebulan penuh di luar Ramadhan, hingga ada di antaranya yang beliau isi dengan shaum."

Hadits Maudlu terkait Shaum di bulan Muharram

مَنْ صَامَ تِسْعَةَ اَيَّامٍ مِنْ اَوَّلِ الْمُحَرَّمِ ، بَنَى اللهُ لَهُ قُبَّةً فِى الْهَوَاءِ مِيْلاً فِى مِيْلٍ لَهَا اَرْبَعَةُ اَبْوَابٍ

“Barangsiapa berpuasa sembilan hari sejak awal Muharam, maka Allah akan membina untuknya sebuah kubah di udara, luasnya satu batu persegi dan mempunyai empat buah pintu”. (Hadis palsu). (Hadis Palsu. Lihat: Al-Fawaid. Hlm. 96)

عَنِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ صَامَ اَخِرَ يَوْمٍ مِنْ ذِى الْحِجَّةِ وَاَوَّلَ يَوْمٍ مِنَ الْمُحَرَّمِ فَقَدْ خَتَمَ السَّنَةَ الْمَاضِيَّةَ وَافْتَتَحَ السَّنَةَ الْمُسْتَقْبِلَةَ بِصَوْمٍ جَعَلَهُ اللهُ كَفَّارَةَ خَمْسِيْنَ سَنَةً

“Dari Ibn Abbas berkata: Telah bersabda Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam: Barangsiapa berpuasa pada hari akhir bulan Zulhijjah dan hari pertama di bulan Muharam, maka sesungguhnya dia telah menghabiskan tahun yang lalu dan memulakan tahun baru dengan puasa yang Allah jadikannya sebagai penghapus dosanya lima puluh tahun”. (Hadis palsu). (Lihat: Al-Maudhu’at. Oleh Ibnul Jauzi. Berkata Ibnul Jauzi bahwa hadis ini palsu (maudhu’)

مَنِ اغْتَسَلَ وَتَطَهَّرَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ لَمْ يَمْرَضْ فِى سَنَتِهِ اِلاَّمَرَضَ الْمَوْتِ.

“Barangsiapa mandi dan bersuci pada hari Asyura, maka dia tidak akan sakit pada sepanjang tahun itu, kecuali sakit mati”. (Hadis palsu). (Lihat: Majmu’ Fatawa. 11/248. Ibn Taimiyah. Lihat: Tamamul Minnah. Hlm. 410-412. Sheikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Al-Ibda’. Hlm. 269. Ali Mahfuz


Nughazi Media

Nughazi Media adalah media publikasi berbagai aplikasi ilmu pengetahuan, pendidikan dan agama dalam berbagai format digital.

Post a Comment

Peraturan berkomentar :
1. DILARANG melakukan SPAM pada KOMENTAR blog ini.
2. DILARANG memberikan komentar yang melanggar hukum Indonesia.
3. DILARANG memberikan komentar diluar pembahasan/OOT(Out of Topic).
4. DILARANG melakukan PROMOSI/IKLAN.
5. DILARANG menyebarkan informasi palsu/Hoax.

Previous Post Next Post