ILMU FALAK DAN METODE HISAB DALAM ILMU FALAK


Kata Falak berasal dari bahasa Arab yang secara etimologis memiliki arti sama dengan Madâr, yaitu perputaran, peredaran, garis edar, poros atau sumbu (Munawwir, 1984:1152). Madâr an-Nujûm artinya lintasan bintang-bintang (Manzur, tt:476). Disebut juga dengan tempat berjalannya bintang-bintang (Majra’ al-kawâkib).

الفلك مجرى الكواكب وتسميته بذالك لكونه كالفلك

Al-Falak adalah tempat beredarnya (berjalannya) benda-benda langit.Dinamai demikian karena bentuknya seperti lingkaran (al-Ashfahaniy, tt:385).

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1989:239), mengartikan kata Falak dengan lengkung langit, lingkaran langit, atau cakrawala, diartikan juga dengan pengetahuan mengenai keadaan (peredaran, perhitungan, dsb). Adapun dalam bahasa Inggris disebut dengan orbit (Wehr, 1976:727). Starrynight Glosary mendefinisikan Orbit dengan lintasan kecil suatu objek yang bergerak mengelilingi objek kedua atau suatu titik. (Orbit: The path of an object that is moving around a second object or a point).

Didalam al-Quran kata Falak diungkapkan sebanyak dua kali, yaitu al-Quran surat al-Anbiyâ (21) ayat 33 dan surat Yâsîn (36) ayat 40.

وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.(Qs. Al-Anbiyâ/21:33)

لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۗوَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (Yâsîn/36:40)

Dari kedua ayat diatas, Departemen Agama RI dalam al-Quran terjemah mengartikan kata falak dengan garis edar atau orbit.

Secara terminologis Muhammad Ahmad Sulaimân memberikan pengertian Ilmu Falak dengan “ilmu yang mengkaji segala sesuatu yang berkaitan dengan alam semesta berupa benda-benda langit di luar atmosfer bumi seperti matahari, bulan, bintang, sistem galaksi, planet, satelit, komet dan meteor dari segi asal usul, gerak, fisik, dan kimianya dengan menggunakan hukum-hukum matematika, fisika, kimia, dan bahkan biologi.” (Tim Majelis Tarjih dan Tajdid PP. Muhammadiyah, 2009:4)

Hubungannya dengan syari’at, ilmu Falak diartikan dengan pengetahuan yang mempelajari lintasan benda-benda langit khususnya Matahari, Bumi dan Bulan pada garis edarnya masing-masing dan hubungan antar benda-benda langit tersebut sehingga dapat diketahui perubahan waktu-waktu di permukaan bumi sebagai tanda untuk beribadah.

Dari kedua definisi diatas, maka dapat dibedakan antara ilmu falak dalam arti astronomi dan ilmu falak sebagai ilmu yang khusus mengkaji gerak matahari dan bulan untuk menentukan waktu-waktu ibadah dan arah kiblat atau disebut dengan ilmu falak syar’i.

Dalam literatur klasik, Ilmu Falak memiliki beberapa nama lain meskipun objek kajian terkadang berbeda atau bahkan hanya bagian dari ilmu Falak, diantaranya:
  1. Ilmu Hisab; Kata al-Hisab berasal dari kata hasaba artinya hitungan. Ilmu Falak disebut dengan Ilmu Hisab karena kegiatan yang paling menonjol dari ilmu ini adalah menghitung. Namun menurut Ahmad Izzuddin, ilmu ini lebih ideal jika disebut dengan Ilmu Hisab Rukyah. Karena pada dasarnya Ilmu Falak menggunakan dua pendekatan “Kerja Ilmiah”, yaitu pendekatan hisab (perhitungan) dan pendekatan rukyah atau observasi (Izzuddin, 2006:1).
  2. Ilmu Miqat atau Mawaqit; disebut dengan Ilmu Miqat atau Mawaqit karena ilmu ini mempelajari tentang batas-batas waktu sebagai implikasi dari perubahan benda langit seperti perubahan pada bulan sabit/hilal (Baca: Qs. al-Baqarah/2:189).
  3. Ilmu Rashd; rashd artinya mengamati. Disebut ilmu Rashdu karena memerlukan pengamatan terhadap benda langit baik letak, lintasan maupun jarak antara satu benda langit terhadap benda langit lainnya.
  4. Ilmu Hai’ah: Secara bahasa hai’ah adalah keadaan sesuatu, tata cara, bentuk dan gambarnya (Syami, 1997:42). Ilmu Hai’ah adalah ilmu yang membahas tentang hal-ihwal benda-benda yang simpel (yang dapat dilihat), baik objek bendanya di atas maupun di bawah, mempelajari tentang bentuk dan kedudukannya serta mempelajari ukuran dan jauhnya objek benda tersebut (Mushthofa, tt:348). 

B. Manfaat Ilmu Falak
Manfaat dari mempelajari Ilmu Falak bagi orang yang telah memahami kandungan ayat-ayat al-Quran adalah bertambahnya keimanan dan keyakinan terhadap kekuasaan Allah Subhânahu wa Ta'âla sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ali Ibn Abi Thalib :

من اقتبس علما من علم النجوم من حملة القرآن، ازداد به إيمانا و يقينا

Barangsiapa mempelajari ilmu pengetahuan tentang bintang-bintang (benda-benda langit), sedangkan ia dari orang yang sudah memahami al-Quran niscaya bertambahlah keimanan dan keyakinannya (al-Khalutiy, tt:17).

Manfaat lain dari mempelajari Ilmu Falak diantaranya :
  1. Dapat membuat penanggalan Qamariyah dan Syamsiyah serta mengetahui kapan terjadi gerhana, baik bulan maupun matahari.
  2. Menetapkan jadwal waktu shalat
  3. Membantu dalam menentukan kapan memulai ibadah shaum di bulan Ramadlan dan menutupnya (‘Idul Fithri) serta waktu ibadah haji dan ‘Idul Adha.
  4. Menentukan arah kiblat ketika shalat.
  5. Memiliki data untuk rukyatul hilal, baik posisi (‘Ardl al-Hilâl), kedudukan (Mukts al-Hilâl), ketinggian (Irtifâ’), besar cahaya hilal (Qûs Nûr al-Hilâl) dan lama hilal diatas ufuk (Muktsul Hilâl).

C. Hukum Mempelajari Ilmu Falak
Metode penentuan tanggal yang dilakukan pada zaman Nabi Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam adalah dengan melihat dan mengamati hilal secara langsung yang dikenal dengan istilah rukyatul hilal. Adapun ilmu falak pada saat itu belum digunakan, selain karena rukyat hilal (melihat hilal) sudah menjadi tradisi bangsa Arab, hal ini juga disebabkan kemampuan atau keterampilan dalam menghitung belum dimiliki, sebagaimana digambarkan dalam hadits Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam yang menyebutkan :

إنَّا أمَّة أمِّيَّة لا نكتب ولا نحسب الشهر هكذا وهكذا يعني مرة تسعة وعشرين ومرة ثلاثين ". رواه البخاري ( 1814 ) ومسلم ( 1080 )

“Sesungguhnya kami (orang Arab) adalah ummat yang ummi, (yaitu) tidak dapat menulis dan tidak dapat menghitung. Bulan itu sekian dan sekian, yakni kadang-kadang 29 hari dan kadang-kadang 30 hari.” (Shahih Al-Bukhari, 1913)

Dengan adanya jumlah hitungan hari dalam sebulan dalam hadits diatas secara tersirat menunjukkan bahwa menulis dan menghitung di zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam hanya dikuasai oleh sebagian kecil dari para sahabat, hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa sahabat yang ditugaskan oleh Rasulullah untuk mencatat wahyu yang diterima oleh Beliau diantaranya Zaid bin tsabit.

Adapun hubungannya dengan ilmu falak, hadits tersebut menunjukkan bahwa rukyatul hilal sudah menjadi kebiasaan ummat Islam dalam menentukan awal bulan pada saat itu, sehingga karena sudah terbiasa hitungan hari dalam sebulan pun dapat diperkirakan antara 29 hari atau 30 hari. Karena sudah terbiasa ini pula rukyatul hilal kemudian menjadi satu-satunya metode dalam menentukan awal bulan hijriyah di zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam.

Proses rukyatul hilal dimasa sekarang, dalam pelaksanaannya tidak semudah yang dibayangkan. Setidaknya, ada beberapa syarat yang harus diketahui dan dikuasai oleh orang yang hendak melakukan rukyatul hilal. Hakimis menyebutkan, syarat-syaratnya antara lain :
  1. Dilaksanakan saat keadaan udara cerah dan tidak ada penghalang apapun (faktor lain yang menyebabkan hilal tidak mungkin terlihat).
  2. Harus diperhitungkan tempat yang digunakan untuk melihat dan mengamatinya, juga diperhitungkan ketinggian tempat tersebut.
  3. Orang yang melihat harus orang yang adil, sesuai dengan apa yang telah ditetapkan syari’at.
  4. Matanya harus dalam keadaan sehat.
  5. Harus orang yang sudah terlatih didalam masalah ini, paling tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan baik.
  6. Tidak dipengaruhi faktor-faktor kejiwaan yang mengganggu proses pengamatan.
Ilmu falak sebagai ilmu yang mempelajari posisi benda langit khususnya hilal baik posisi, bentuk maupun ketinggiannya secara fungsional dapat menjadi washilah (perantara) atau alat untuk membantu proses rukyatul hilal secara cepat, tepat dan akurat sehingga berpengaruh pula pada ketepatan dalam penentuan waktu pelaksanaan ibadah. Karena
keberadaan ilmu falak sebagai washilah itulah maka kedudukannya pun menjadi sangat penting untuk dikuasai oleh ummat Islam.

Abdullah bin Husain berkata : “Hukum mempelajari ilmu falak adalah wajib bahkan diperintahkan mengetahuinya secara mendalam karena ilmu falak mencakup pengetahuan tentang kiblat dan hal-hal yang berhubungan dengan penanggalan misalnya puasa. Lebih-lebih pada masa sekarang ini karena ketidaktahuan para hakim tentang ilmu falak sikap mempermudah dan kecerobohan mereka sehingga mereka menerima kesaksian hilal seseorang yang seharusnya tidak dapat diterima” (Muhyiddin, 2004:4).

Imam Ibn Hajar al-Haitami berpendapat belajar ilmu hisab, yakni belajar menentukan arah kibat, ketika hendak bepergian dimana sedikit orang yang mengetahui arah kiblat maka hukumnya fardhu ain. Sedangkan pada waktu dirumah atau bepergian yang melintasi banyak negeri yang di dalamnya terdapat banyak petunjuk sehingga tidak sampai lewat waktu sebelum melintasi satu negeri, atau terdapat banyak orang yang mengetahui sehingga mudah mencari rujukan yang dapat dipercaya sebelum lewat waktu shalat, maka hukumnya fardlu kifayah (Aljailani, tt:7).

D. Objek dan Ruang Lingkup Ilmu Falak
Berdasarkan obyek kajian dan aspek fungsionalnya bagi umat Islam, maka obyek dan ruang lingkup pembahasan Ilmu Falak dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu meliputi :
  1. Ilmu falak ilmy, yaitu ilmu yang membahas teori dan konsep bendabenda langit, dikenal sebagai ilmu Astronomi (Theoritical Astronomy). Pembahasannya meliputi : a. Cosmogoni yaitu teori tentang asal usul benda-benda langit dan alam semesta. b. Cosmologi yaitu cabang astrologi yang menyelidiki asal usul struktur dan hubungan ruang waktu dan alam semesta. c. Cosmografi yaitu pengetahuan tentang seluruh susunan alam, penggambaran umum tentang jagad raya termasuk bumi. d. Astrometik yaitu cabang astronomi yang kegiatannya melakukan pengukuran terhadap benda-benda langit dengan tujuan mengetahui ukuran dan jarak antara benda-benda langit. e. Astromekanik yaitu cabang astronomi yang mempelajari gerak dan gaya tarik benda-bendalangit dengan cara dan hukum mekanik. f. Astrofisika yaitu bagian astronomi tentang benda-benda angkasa dari sudut ilmu alam dan ilmu kimia. 
  2. Ilmu falak amaly yaitu ilmu yang melakukan perhitungan untuk mengetahui posisi dan kedudukan benda-benda langit antara satu dengan yang lain. Pengetahuan posisi dan kedudukan benda-benda langit tersebut kemudian dikaitkan dengan waktu-waktu pelaksanaan ibadah bagi umat Islam. Ilmu falak inilah yang kemudian dikenal dengan ilmu hisab praktis (Practical Astronomy). Selanjutnya pembahasan ilmu falak amaly mempunyai ruang lingkup pembahasan antara lain: a. Penentuan awal bulan (khususnya bulan Qamariyah). b. Penentuan waktu shalat. c. Penentuan arah kiblat dan bayangan arah kiblat. d. Penentuan gerhana gerhana matahari dan gerhana bulan.
E. Metode Hisab dalam Ilmu Falak
Hisab dalam Ilmu Falak meliputi beberapa perhitungan astronomis khusus menyangkut posisi bumi, bulan dan matahari untuk mengetahui kapan dan di permukaan bumi mana peristiwa astronomis itu terjadi.

Hisab yang berkembang pada awalnya hanya hisab awal bulan Qamariyah. Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, hisab berkembang dan menghasilkan beberapa macam hisab, seperti : hisab waktu shalat, hisab arah qiblat dan hisab gerhana matahari atau gerhana bulan dan hisab-hisab yang lainnya. Adapun metode yang digunakan dalam hisab Ilmu Falak diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Hisab Urfi’. Urf ’ artinya kebiasaan atau tradisi. Hisab Urfi’ adalah hisab yang melandasi perhitungannya dengan kaidah-kaidah sederhana. Pada sistem hisab ini perhitungan bulan Qamariyah ditentukan berdasarkan umur rata-rata bulan. Menurut Susiknan Azhari (2004:63), penanggalan berdasarkan hisab urfi’ memiliki beberapa karakteristik antara lain :
a. Awal tahun pertama Hijriah (1 Muharam 1 H) bertepatan dengan hari Kamis tanggal 15 Juli 622 M;
b. Satu periode (daur) membutuhkan waktu selama 30 tahun;
c. Dalam satu periode terdapat 11 tahun panjang (kabisat) dan 19 tahun pendek (basithah). Untuk menentukan tahun kabisat dan basitah dalam satu periode biasanya digunakan syair:

كف الخليل كف ديانه - عن كل خل حبه فصانه

Tiap huruf yang bertitik menunjukkan tahun kabisat dan huruf yang tidak bertitik menunjukkan tahun basitah. Dengan demikian, tahun-tahun kabisat terletak pada tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 15, 18, 21, 24, 26, dan 29.
d. Penambahan satu hari pada tahun kabisat diletakkan pada bulan yang kedua belas, yaitu bulan Dzul Hijjah;
e. Bulan-bulan ganjil umurnya 30 hari, sedangkan bulan-bulan genap umurnya 29 hari, kecuali pada tahun kabisat bulan Dzul Hijjah ditambah satu hari menjadi genap 30 hari;
f. Panjang periode 30 tahun adalah 10.631 hari (355 x 11 + 354 x 19 = 10.631). Periode sinodis bulan rata-rata 29,5305888 hari selama 30 tahun adalah 10.631,01204 hari (29,5305888 hari x 12 x 30 = 10.631,01204) 
g. Perhitungan berdasarkan hisab Urfi ini biasanya dijadikan sebagai ancar-ancar sebelum melakukan perhitungan penanggalan ataupun perhitungan awal bulan berdasarkan hisab Hakiki.
Nama-nama dan panjang bulan Hijriyah dalam hisab urfi, adalah sebagai berikut :
No. Nama Bulan Umur Jumlah Hari Kabisat Jumlah Hari Basithah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Muharram
Shafar
Rabi'ul Awwal
Rabi'ul Akhir
Jumadil Ulaa
Jumadits Tsani
Rajab
Sya'ban
Ramadhan
Syawwal
Dzul Qa'dah
Dzul Hijjah
30
29
30
29
30
29
30
29
30
29
30
29/30
30
59
89
118
148
177
207
236
266
295
325
354
30
59
89
118
148
177
207
236
266
295
325
355

2. Hisab Taqribi. Taqribi berasal dari kata qaraba artinya pendekatan atau aproksimasi. Hisab Taqribi yaitu sistem hisab yang sudah menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematik namun masih menggunakan rumus-rumus sederhana, sehingga ketelitiannya pun kurang akurat dibandingkan dengan perhitungan astronomis modern. Beberapa kitab yang termasuk dalam kategori hisab taqribi, diantaranya, Sullâm al-Nayyirain, Ittifaq Dzatil Bainy, Fathu al-Rauf alManan, Al Qawaid al Falakiyah dan sebagainya.

3. Hisab Haqiqi. Haqiqi atau haqiqah artinya realitas (yang sebenarnya). Hisab haqiqi adalah hisab yang menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematik dengan rumus-rumus terbaru dilengkapi dengan data-data astronomis terbaru sehingga memiliki tingkat ketelitian yang tinggi. Kelemahan dari sistem hisab ini adalah penggunaan kalkulator yang mengakibatkan hasil hisab kurang sempurna karena banyak bilangan yang terpotong akibat digit kalkulator yang terbatas. Beberapa kitab yang termasuk dalam kategori hisab haqiqi, diantaranya: Hisab Haqiqi, Tadzkirah al-Ikhwan, Badi'ah al-Mitsal dan Menara Kudus, al-Manahij al-Hamidiyah, alKhulashah al-Wafiyah, dan sebagainya.

4. Hisab Haqiqi Tahqiqi. Tahqiq artinya pasti. Hisab Haqiqi Tahqiqi merupakan pengembangan dari sistem hisab haqiqi yang diklaim oleh penyusunnya memiliki tingkat akurasi yang sangat-sangat tinggi sehingga mencapai derajat "pasti". Klaim seperti ini sebenarnya tidak berdasar karena tingkat "pasti" itu harus dibuktikan secara ilmiah dengan menggunakan kaidah-kaidah ilmiah juga. Meskipun demikian hal ini merupakan kemajuan bagi perkembangan sistem hisab di Indonesia, karena sudah melakukan perhitungan menggunakan komputer serta beberapa diantaranya sudah dibuat dalam bentuk perangkat lunak (software). Beberapa kitab atau perangkat lunak yang termasuk kepada sistem hisab ini diantaranya, al-Falakiyah dan Nurul Anwar. 

5. Hisab Kontemporer/Modern. Sistem hisab ini menggunakan alat bantu komputer yang canggih dengan menggunakan algoritma. Beberapa diantaranya terkenal karena memiliki tingkat ketelitian yang tinggi sehingga dikelompokkan dalam High Accuracy Algorithm diantaranya, Jean Meeus, VSOP87, ELP2000 Chapront-Touse, dan sebagainya. Dengan tingkat ketelitian yang tinggi dan sangat akurat seperti Accurate Times, Jean Meeus, NewComb, EW Brown, Almanac Nautica, Astronomical Almanac, Mawaqit, Ascript, Astro Info, Starrynight dan yang lainnya.
Nughazi Media

Nughazi Media adalah media publikasi berbagai aplikasi ilmu pengetahuan, pendidikan dan agama dalam berbagai format digital.

Post a Comment

Peraturan berkomentar :
1. DILARANG melakukan SPAM pada KOMENTAR blog ini.
2. DILARANG memberikan komentar yang melanggar hukum Indonesia.
3. DILARANG memberikan komentar diluar pembahasan/OOT(Out of Topic).
4. DILARANG melakukan PROMOSI/IKLAN.
5. DILARANG menyebarkan informasi palsu/Hoax.

Previous Post Next Post