Adabul Mufrad: Bab Durhaka Kepada Kedua Orang Tua

 


كتاب الْوَالِدَيْنِ

KITAB (BERBUAT BAIK) KEPADA KEDUA ORANG TUA

بَابُ عُقُوقِ الْوَالِدَيْنِ

BAB DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA
(Hadits No. 15 & 16)

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْفَضْلِ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم‏:‏ أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ‏؟‏ ثَلاَثًا، قَالُوا‏:‏ بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ‏:‏ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ وَجَلَسَ وَكَانَ مُتَّكِئًا أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ، مَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى قُلْتُ‏:‏ لَيْتَهُ سَكَتَ‏.‏

15. Musaddad menyampaikan kepada kami dengan mengatakan: Bisyr bin Mufadhdhal menyampaikan kepada kami dengan mengatakan: sl-Jurairī menyampaikan kepada kami dari ‘Abd-ur-Raḥmān bin Abī Bakrah, dari ayahnya, Dia mengatakan: Rasūlullāh shalallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang dosa terbesar?” (Rasūlullāh s.a.w. mengulanginya) tiga kali. Mereka menjawab: “Tentu, wahai Rasūlullāh!” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua –yang sebelumnya dengan posisi bersandar, Beliau pun lantas duduk –ketahuilah: dan ucapan dusta.” Beliau terus mengulanginya sampai aku mengatakan andai saja Beliau diam.

al-Bukhārī, 78, Kitāb-ul-Adab, 6- Bābu ‘Uqūq-il-Wālidaini Min-al-Kabā’ir (Durhaka kepada kedua orang tua termasuk dosa besar), Kitab persaksian, bab apa yang dikatakan mengenai kesaksian palsu hadits no.. 2564; Muslim: 1 – Kitāb-ul-Īmān bab penjelasan tentang dosa-dosa besar dan yang termasuk paling besar, hadits nomor 143; Jami’ At-Tirmidzi (2301), Kumpulan bab persaksian, bab apa yang datang mengenai persaksian dusta.

كَبائِرٌ : كُلُّ مَعصِيَةٍ جاءَ فيها حَدٌّ في الدُّنيا أو وَعِيدٌ في الآخِرَة أو تَرتَّبَ عليها أو لَعْنٌ أو غَضَبٌ أو نَفْيُ إيمانٍ.

Dosa Besar: Setiap maksiat yang memiliki hukuman hudud di dunia atau ancaman azab di akhirat, atau menyebabkan adanya laknat, amarah atau penafian iman.

Tingkatan dosa antara lain: 

  • Dosa yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam, yaitu kesyirikan dan kekafiran kepada Allah; 
  • dan dosa yang tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, tetapi mengurangi keIslaman dan keimanannya. 

Dosa yang kedua memiliki 2 kategori, yaitu: Dosa besar: dosa yang Allah berikan ancaman hudud  di dunia atau azab di akhirat, atau dosa yang mengandung kezaliman di antara sesama manusia. setiap maksiat yang dilakukan seseorang tanpa rasa takut ataupun rasa menyesal, melainkan dia melakukannya sembari meremehkan dan dengan penuh keberanian; Dosa kecil: maksiat yang tidak memiliki hukuman hudud dan tidak pula ancaman. Dosa kecil kadang bisa berubah menjadi besar jika dilakukan terus-menerus.

الشِّرْكُ: تَسْوِيَةُ الـمَخْلوقِ بِاللهِ تعالى فِيما هو مِن خَصائِصِ اللهِ تعالى.

Syirik: Menyamakan makhluk dengan Allah -Ta'ālā- dalam perkara yang menjadi kekhususan Allah -Ta'ālā.

عُقُوق الوالدين: أَنْ يَحْصُلَ مِنْ الوَلَدِ لِوَالِدَيْهِ أَوْ لِأَحَدِهِمَا إيذَاءٌ لَيْسَ بِالْهَيِّنِ عُرْفًا.

Durhaka kepada orangtua: Perbuatan menyakiti yang dianggap tidak ringan menurut kebiasaan, yang dilakukan oleh seorang anak kepada kedua orang tuanya atau salah satunya.

قَوْلُ الزُّورِ اَوْ شَهادَة الزُّورِ: الشَّهَادَةُ بِالكَذِبِ عَمْدًا لِيُتَوَصَّلَ بِهَا إِلَى البَاطِلِ.

Perkataan atau persaksian palsu: Kesaksian dusta yang dilakukan secara sengaja untuk menggapai kebatilan.

Orang yang memberikan kesaksian palsu telah melakukan empat dosa besar: Pertama: dia telah menzalimi dirinya dengan kedustaan dan kebohongan Kedua: dia melakukan kezaliman terhadap orang yang menjadi objek persaksiannya, hingga dengan kesaksian itu ia menzalimi harta, kehormatan, dan jiwanya. Ketiga: dia menzalimi orang yang ia bersaksi untuknya, yaitu memberinya harta yang haram. Keempat: dengan perbuatannya itu dia telah membolehkan apa yang diharamkan Allah -Ta'ālā-.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَّامٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا جَرِيْرٌ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ وَرَّادٍ كَاتِبِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ، قَالَ: كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى الْمُغِيْرَةِ: اكْتُبْ إِلَيَّ بِمَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ وَرَّادٌ: فَأَمْلَى عَلَيَّ وَ كَتَبْتُ بِيَدَيَّ: إِنِّيْ سَمِعْتُهُ يَنْهَى عَنْ كَثْرَةِ السُّؤَالِ، وَ إِضَاعَةِ الْمَالِ، وَ عَنْ قِيْلَ وَ قَالَ.

16. Muḥammad bin Sallām memberitahukan pada kami: Jarīr (Jurair) memberitahukan pada kami: Dari ‘Abd-ul-Mālik bin ‘Umair: Dari Warrād sekretaris Mughīrah bin Syu‘bah: Bahwa dia mengatakan; Mu‘āwiyah menulis surat kepada Mughīrah: “Tulislah surat kepadaku yang berisi tentang apa-apa yang kamu dengar dari Rasūlullāh shalallāhu ‘alaihi wa sallam.” Warrād mengatakan: “Murghīrah mendiktekan kepadaku dan aku menulis sendiri dengan tanganku, aku mendengar Beliau shalallāhu ‘alaihi wa sallam (bahwa)” : “Beliau melarang banyak bertanya, menghamburkan-hamburkan harta, dan membuat isu yang tidak jelas (kabar burung). Shaḥīḥ. Adh-Dha‘īfah tercantum dalam hadits nomor 5598.

كثرة السؤال: التَّنطُّع في المسائل، والإكثار من السؤال عمَّا لا يقع ولا تدعو إليه الحاجة.

Banyak bertanya: Sibuk dengan berbagai permasalahan, banyak bertanya dengan pertanyaan yang tidak terjadi dan tidak diperlukan.  

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ * قَدْ سَأَلَهَا قَوْمٌ مِنْ قَبْلِكُمْ ثُمَّ أَصْبَحُوا بِهَا كَافِرِينَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu (justru) menyusahkan kamu. Jika kamu menanyakannya ketika Al-Qur'an sedang diturunkan, (niscaya) akan diterangkan kepadamu. Allah telah memaafkan (kamu) tentang hal itu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun. Sesungguhnya sebelum kamu telah ada segolongan manusia yang menanyakan hal-hal serupa itu (kepada nabi mereka), kemudian mereka menjadi kafir. (Qs. Al-Maidah/5:101-102)

حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ سَهْلٍ حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ حَدَّثَنَا أَبُو الْجُوَيْرِيَةِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ قَوْمٌ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتِهْزَاءً فَيَقُولُ الرَّجُلُ مَنْ أَبِي وَيَقُولُ الرَّجُلُ تَضِلُّ نَاقَتُهُ أَيْنَ نَاقَتِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِمْ هَذِهِ الْآيَةَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ } حَتَّى فَرَغَ مِنْ الْآيَةِ كُلِّهَا

Telah menceritakan kepada kami Al Fadll bin Sahl Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadlr Telah menceritakan kepada kami Abu Khaitsamah Telah menceritakan kepada kami Abu Juwairiyah dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma dia berkata: Suatu kaum pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ sebagai bentuk pengejekan. Seseorang dari mereka berkata: “Siapa bapakku? ‘ Seseorang lagi berkata ketika untanya hilang: di mana untaku? ‘ maka Allah menurunkan kepada mereka ayat: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu bertanya tentang segala sesuatu yang apabila dijelaskan kepadamu, maka hal itu akan memberatkanmu.

وعن أَبي هريرة - رضي الله عنه - قَالَ: خَطَبَنَا رسولُ اللهِ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ: «أيُّهَا النَّاسُ، قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُم الحَجَّ فَحُجُّوا» فَقَالَ رَجُلٌ: أكُلَّ عَامٍ يَا رَسولَ اللهِ؟ فَسَكَتَ، حَتَّى قَالَهَا ثَلاثًا. فَقَالَ رسولُ الله - صلى الله عليه وسلم: «لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ، وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ» ثُمَّ قَالَ: «ذَرُوني مَا تَرَكْتُكُمْ؛ فَإنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤالِهِمْ، وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أنْبِيَائِهِمْ، فَإذَا أمَرْتُكُمْ بِشَيءٍ فَأتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَن شَيْءٍ فَدَعُوهُ». رواه مسلم.

Dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya: "Rasulullah s.a.w. berkhutbah kepada kita lalu bersabda: "Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah mewajibkan atasmu semua akan beribadah haji, maka kerjakanlah ibadah haji itu." Kemudian ada seorang lelaki bertanya: "Apakah itu untuk setiap tahun, ya Rasulullah?" Beliau s.a.w. berdiam saja -yakni tidak menjawab pertanyaannya tadi- kemudian orang itu menanyakannya sampai tiga kali. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: "Jikalau saya menjawab: "Ya," sesungguhnya beribadah haji akan menjadi wajib setiap setahun sekali, dan tentu engkau semua tidak akan kuasa mengerjakannya." Selanjutnya beliau s.a.w. bersabda: "Tinggalkanlah aku -yakni janganlah menanyakan padaku- apa-apa yang saya tinggalkan untukmu semua -yakni apa-apa yang tidak saya sebutkan-. Sesungguhnya yang menyebabkan rusaknya orang-orang yang sebelummu semua itu ialah karena mereka terlampau banyak bertanya dan senantiasa menyalahi pada Nabi-nabi mereka. Maka dari itu, apabila saya memerintahkan kepadamu semua dengan sesuatu perkara, lakukanlah itu sekuat tenaga yang ada padamu semua dan jikalau saya melarang engkau semua dari sesuatu perkara, maka tinggalkanlah itu." (Riwayat Muslim)

إضاعة المال: إنفاقه في غير حقه من الباطل، والإسراف، والمعاصي

Menghambur-hamburkan harta: melepaskan/ mengeluarkan harta dalam perkara yang bukan haknya, dari kebatilan, berlebihan dan untuk kemaksiatan.

قِيْلَ وَقَالَ : نقل الكلام دون تثبت ولا تحر عن مصداقيته وثبوته

Dikatakan dan berkata: Menukil ucapan tanpa adanya bukti dan tidak diteliti tentang kebenaran dan buktinya. 

Nughazi Media

Nughazi Media adalah media publikasi berbagai aplikasi ilmu pengetahuan, pendidikan dan agama dalam berbagai format digital.

Post a Comment

Peraturan berkomentar :
1. DILARANG melakukan SPAM pada KOMENTAR blog ini.
2. DILARANG memberikan komentar yang melanggar hukum Indonesia.
3. DILARANG memberikan komentar diluar pembahasan/OOT(Out of Topic).
4. DILARANG melakukan PROMOSI/IKLAN.
5. DILARANG menyebarkan informasi palsu/Hoax.

Previous Post Next Post