Al-Adab Al-Mufrad: Berbakti Kepada Ibu



2. BAB BAKTI KEPADA IBU
حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيْمٍ، عَنْ أَبِيْهِ، عَنْ جَدِّهِ، قُلْتُ: “يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَبَرُّ؟ قَالَ: أُمَّكَ، قُلْتُ: مَنْ أَبَرُّ؟ قَالَ: أُمَّكَ، قُلْتُ: مَنْ أَبَرُّ؟ قَالَ: أُمَّكَ، قُلْتُ: مَنْ أَبَرُّ؟ قَالَ: أَبَاكَ، ثُمَّ الْأَقْرَبَ فَالْأَقْرَبَ”  
3. Abū ‘Āshim menyampaikan kepada kami, dari Bahz bin Ḥakīm, dari ayahnya, dari kakeknya, aku bertanya: “Wahai Rasūlullāh! Kepada siapa aku berbakti?” Beliau menjawab: “Ibumu”. Aku bertanya: “Kepada siapa aku berbakti?” Beliau menjawab: “Ibumu” Aku bertanya: “Kepada siapa aku berbakti?” Beliau menjawab: “Ibumu” [4]. Aku bertanya: “Kepada siapa aku berbakti?” Beliau menjawab: “Ayahmu, kemudian kerabat terdekat, lantas yang terdekat berikutnya.”[5]
حَدَّثَنَا سَعِيْدُ بْنُ أَبِيْ مَرْيَمَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ أَبِيْ كَثِيْرٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِيْ زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ أَتَاهُ رَجُلٌ، فَقَالَ: “إِنِّيْ خَطَبْتُ امْرَأَةً، فَأَبَتْ أَنْ تَنْكِحَنِيْ، وَ خَطَبَهَا غَيْرِيْ، فَأَحَبَّتْ أَنْ تَنْكِحَهُ، فَغِرْتُ عَلَيْهَا، فَقَتَلْتُهَا، فَهَلْ لِيْ مِنْ تَوْبَةٍ؟، قَالَ: أُمُّكَ حَيَّةٌ؟ قَالَ: لَا، قَالَ: تُبْ إِلَى اللهِ تَعَالَى وَ تَقَرَّبْ إِلَيْهِ مَا اسْتَطَعْتَ، فَذَهَبْتُ فَسَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ: لِمَ سَأَلْتَهُ عَنْ حَيَاةِ أُمِّهِ؟ فَقَالَ: إِنِّيْ لَا أَعْلَمُ عَمَلًا أَقْرَبَ إِلَى اللهِ تَعَالَى مِنْ بِرِّ الْوَالِدَةِ”
4. Sa‘īd bin Abī Maryam menyampaikan kepada kami dengan mengatakan: Muḥammad bin Ja‘far bin Abī Katsīr memberitakan kepada kami dengan mengatakan: Zaid bin Aslam memberitakan kepadaku: dari ‘Athā’ bin Yasār dari Ibnu ‘Abbās, bahwasanya dia didatangi seseorang yang lantas berkata: “Aku pernah meminang seorang perempuan tetapi dia enggan untuk menikah denganku. Kemudian dipinang oleh orang lain dan ternyata dia berkenan untuk menikah dengannya. Akupun cemburu kepada perempuan itu, lantas aku membunuhnya, apakah ada tobat bagiku?” Ibnu ‘Abbās bertanya: “Apakah ibumu masih hidup?” Dia menjawab: “Tidak.” Ibnu ‘Abbās berkata: “Bertobatlah kepada Allah ‘azza wa jalla, dan dekatkan dirimu kepada-Nya semampumu.” [‘Athā’ bin Yasār berkata: ] “Lantas aku pergi menemui Ibnu ‘Abbās dan bertanya kepadanya: “Kenapa engkau bertanya kepada orang itu apakah ibunya masih hidup? Ibnu ‘Abbās menjawab: “Sejauh pengetahuanku, tidak ada satu amal pun yang lebih dekat kepada Allah ‘azza wa jalla dibanding berbakti kepada Ibu”.”[6]
[4] Tambahan dalam (ب): “Ibumu.” Dia bertanya: Kemudian siapa? Beliau menjawab: (ت).
[5] Ḥasan. Al-Irwā’ 2232, 829, [At-Tirmidzī, 25- Kitāb-ul-Birri wash-Shilah (Berbakti dan Silaturrahmi), 1- Bābu Mā Jā’a fi Birr-il-Wālidain (Tentang berbakti kepada kedua orang tua)].
[6] Shaḥīḥ. Ash-Shaḥīḥah 2799.
Nughazi Media

Nughazi Media adalah media publikasi berbagai aplikasi ilmu pengetahuan, pendidikan dan agama dalam berbagai format digital.

Post a Comment

Peraturan berkomentar :
1. DILARANG melakukan SPAM pada KOMENTAR blog ini.
2. DILARANG memberikan komentar yang melanggar hukum Indonesia.
3. DILARANG memberikan komentar diluar pembahasan/OOT(Out of Topic).
4. DILARANG melakukan PROMOSI/IKLAN.
5. DILARANG menyebarkan informasi palsu/Hoax.

Previous Post Next Post