Waktu-waktu Shalat Menurut Para Ulama Mazhab

https://www.researchgate.net


Shalat adalah ibadah yang telah ditentukan waktunya, hal ini diterangkan dalam al-Quran surat an-Nisa (4) ayat 103 sebagai berikut:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)

Melihat dari ayat diatas, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutkan secara umum mengenai pelaksanaan shalat secara umum. Artinya setiap shalat baik shalat fardlu (wajib) maupun sunat telah mempunyai waktunya masing-masing. 

Kaitannya dengan shalat fardlu baik Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya maupun Shubuh, secara rinci dijelaskan melalui beberapa hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang pada intinya berpatokan pada posisi matahari. Namun para Imam Mazhab memiliki beberapa perbedaan terkait awal dan akhir shalat sebagaimana dijelaskan berikut ini:

Waktu Dhuhur

  1. Ibn Rusyd dalam kitab Bidayat Al Mujtahid menyebutkan para ulama mazhab sepakat bahwa waktu Zuhur adalah sejak zawal asy syams atau saat tergelincir matahari (mulai condong ke arah barat saat waktu tengah hari). [Lihat al-Ijmā‘ karya Ibn-ul-Mundzir, dan al-Istidzkār (1/24)]
  2. Dalil akan kesepakatan ini adalah merujuk pada firman Allah pada QS Al Isra ayat 78. 

اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰنَ الْفَجْرِۗ اِنَّ قُرْاٰنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا

Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).

Selain itu, pendapat ini didukung pula oleh beberapa hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yaitu: 

خَالِدُ بْنُ دِينَارٍ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اشْتَدَّ الْبَرْدُ بَكَّرَ بِالصَّلَاةِ وَإِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ أَبْرَدَ بِالصَّلَاةِ يَعْنِي الْجُمُعَةَ قَالَ يُونُسُ بْنُ بُكَيْرٍ أَخْبَرَنَا أَبُو خَلْدَةَ فَقَالَ بِالصَّلَاةِ وَلَمْ يَذْكُرْ الْجُمُعَةَ وَقَالَ بِشْرُ بْنُ ثَابِتٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَلْدَةَ قَالَ صَلَّى بِنَا أَمِيرٌ الْجُمُعَةَ ثُمَّ قَالَ لِأَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَيْفَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الظُّهْرَ

Khalid bin Dinar- berkata, Aku mendengar [Anas bin Malik] berkata, "Jika hari terasa sejuk Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyegerakan pelaksanaan shalat, dan bila udara panas beliau mengakhirkannya, yakni shalat Jum'at." [Yunus bin Bukair] berkata; telah mengabarkan kepada kami [Abu Khaldah] menyebutkan dengan lafadz 'shalat' saja dan tidak menyebutkan kata 'jum'at'. [Bisyr bin Tsabit] berkata; telah menceritakan kepada kami [Abu Khaldah] ia berkata, "Ada seorang amir (pemimpin) shalat bersama kami kemudian bertanya kepada Anas? radliallahu 'anhu, "Bagaimana cara Nabi shallallahu 'alaihi wasallam shalat Zhuhur?" (HR Bukhari/855)

كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَأَرَادَ الْمُؤَذِّنُ أَنْ يُؤَذِّنَ لِلظُّهْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْرِدْ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يُؤَذِّنَ فَقَالَ لَهُ أَبْرِدْ حَتَّى رَأَيْنَا فَيْءَ التُّلُولِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ فَإِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلَاةِ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ {تَتَفَيَّأُ} تَتَمَيَّلُ

dari Abu Dzar Al Ghifari, ia berkata: "Kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam suatu perjalanan, ketika ada mu'adzin yang hendak mengumandangkan adzan Zhuhur, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tundalah." Sesaat kemudian mu'adzin itu kembali akan mengumandangkan adzan. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun kembali bersabda: "Tundalah hingga kita melihat bayang-bayang bukit." Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya panas yang sangat menyengat itu berasal dari hembusan api jahannam. Maka apabila udara sangat panas menyengat tundalah shalat (hingga panas) mereda." Ibnu 'Abbas berkata, "Maksud dari firman Allah: tataqayya'u (Qs. An Nahl: 48) adalah condong." (HR Bukhari/506)

Selain awal waktu dzuhur, mengenai akhir waktu dzhuhur pun memiliki perbedaan, antara lain:

  1. Para ulama mazhab berselisih tentang akhir waktu Zuhur, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Bidayat Al Mujtahid:

  • Ulama Malikiyah, Syafi’iyah, Abu Tsaur, dan Dawud Az Zahiri mengatakan bahwa akhir waktu Zuhur adalah apabila bayangan suatu benda sama panjangnya dengan benda tersebut. Jika sebuah tongkat panjangnya 30 cm, maka panjang bayangannya adalah 30 cm pula.
  • Ulama Hanafiyah mengatakan bahwa akhir waktu Zuhur adalah apabila bayangan suatu benda panjangnya dua kali lipat dari bendanya. Jika sebuah tongkat panjangnya 30 cm, maka bayangannya adalah 60 cm. Apabila sudah demikian, maka bagi mereka inilah awal waktu Ashar. Riwayat lain darinya yang menyebutkan: “Apabila bayang-bayang setiap sesuatu sama dua kali lipat dengannya, maka ia adalah akhir waktu Zhuhur. Apabila lebih sedikit maka telah masuk waktu Ashar. Ada pula riwayat darinya bahwa akhir waktunya adalah bila bayang-bayang setiap sesuatu sama dengannya, sedangkan awal waktu Ashar adalah bila bayang-bayang setiap sesuatu dua kali lipat dengannya. Antara keduanya ada waktu yang bukan waktu keduanya. 

Waktu Ashar

  1. Para ulama mazhab Syafi’i, Maliki, Dawud Az Zahiri, dan mayoritas fukaha bersepakat bahwa awal waktu Asar adalah ketika akhir waktu Zuhur. [Bidayat Al Mujtahid wa Nihayat Al Muqtashid]. 
  2. Menurut mazhab Hanafi, waktu Asar adalah ketika panjang bayangan suatu benda dua kali lipat dari panjang bendanya. Jika panjang sebuah tongkat adalah 30 cm, maka panjang bayangannya adalah 60 cm. [Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Ad Dimasyqi, Fiqih Empat Mazhab].
  3. Penyebab perbedaan adalah perbedaan pemahaman pada hadits panjang yang dikenal dengan hadits imamah. Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diajak oleh Jibril alaihissalam untuk salat Asar tatkala bayangan benda sama panjangnya dengan benda tersebut. Di lain waktu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diajak salat Asar oleh Jibril alaihissalam ketika bayangan suatu benda dua kali lebih panjang dari benda tersebut.
  4. Para ulama mazhab berbeda pendapat sebagai berikut:

  • Mazhab Maliki dalam satu riwayat dan Syafi’i menyatakan bahwa akhir waktu Asar adalah ketika panjang bayangan suatu benda dua kali lipat dari benda tersebut.
  • Mazhab Maliki dalam riwayat lain dan Hanbali menyatakan bahwa akhir waktu Asar adalah ketika matahari belum mulai menguning atau dalam bahasa lain adalah waktu senja.
  • Mazhab Zahiri menyatakan bahwa akhir waktu Asar adalah sebelum masuk waktu Maghrib dengan kisaran panjang durasi satu rakaat.
  • Mazhab Hanafi menyatakan bahwa akhir waktu Asar adalah ketika matahari tenggelam.
  • Syaikh Sayyid Sabiq menjelaskan dalam kitab Fiqh As Sunnah bahwa Imam An Nawawi menjelaskan dalam Syarh Sahih Muslim bahwa waktu Asar itu ada lima, yaitu:

- Waktu Fadhilah atau yang utama dalam melaksanakan salat Asar yaitu pada awal waktunya.

- Waktu Ikhtiyar yaitu sampai bayangan suatu benda dua kali lipat lebih panjang dari panjang bendanya.

- Waktu Jawaz bilaa Karahah yaitu saat matahari mulai menguning atau waktu senja.

- Waktu Jawaz ma’a Karahah yaitu mulai dari waktu matahari menguning atau senja sampai terbenamnya matahari.

- Waktu Uzur yaitu ketika seseorang menggabung pelaksanaan salat Zuhur dan Asar karena suatu alasan yang dibenarkan syariat seperti hujan atau dalam perjalanan.

Waktu Maghrib

  1. Menurut pendapat pertama, terdapat dalam qaul qadim, bahwa waktu Maghrib itu sejak terbenam matahari hingga hilang awan merah atau syafaq. Adapun pendapat kedua, terdapat dalam qaul jadid, bahwa waktu Maghrib itu hanya sebentar sejak terbenam matahari.
  2. Imam An Nawawi menyatakan dalam Minhaj At Talibin bahwa qaul qadim atau pendapat pertama dari dua pendapat Syafi’i di atas adalah pendapat yang paling kuat. 
  3. Pendapat dalam qaul qadim mazhab Syafi’i tersebut juga disepakati oleh mazhab Abu Hanifah, Ahmad, Abu Tsaur, dan Dawud Az Zahiri.

Waktu Isya

  1. Ulama mazhab sepakat bahwa awal waktu Isya adalah ketika hilangnya asy syafaq atau awan. Namun, ulama berbeda pendapat dengan maksud dari asy syafaq tersebut. Sebagian dari mereka menyatakan bahwa yang dimaksud dengan asy syafaq di sini adalah asy syafaq al ahmar (awan merah) atau asy syafaq al abyadh (awan putih). Mayoritas ulama menyatakan bahwa maksud asy syafaq adalah asy syafaq al ahmar atau awan merah. Adapun mazhab Hanafi dan Hanbali menganggap bahwa asy syafaq adalah awan putih.
  2. Mengenai akhir waktu Isya, ulama berbeda pendapat dalam 3 pernyataan, sebagaimana disebutkan Al Qadhi Ibn Rusyd dalam Bidayat Al Mujtahid, yaitu:

  • Akhir waktu Isya adalah di sepertiga malam. Ini pendapat mazhab Syafi’i, Abu Hanifah, dan yang masyhur dari mazhab Maliki.
  • Akhir waktu Isya adalah di pertengahan malam. Ini adalah pendapat mazhab Maliki dalam pernyataan yang lain. Pendapat ini juga sepertinya diamini pula oleh Syaikh Sayyid Sabiq dalam Fiqh As Sunnah.
  • Akhir waktu Isya adalah saat terbitnya fajar. Pendapat ini yang diambil oleh Dawud Az Zahiri.

Waktu Subuh

  1. Waktu Subuh dimulai ketika terbitnya fajar sadiq sampai terbitnya matahari secara jelas. 
  2. Fajar terdiri dari 2 (dua), yaitu  1) Fajar Kadzib adalah cahaya agak terang yang memanjang dan mengarah ke atas di tengah langit pada saat dini hari menjelang pagi. Fajar ini berbentuk cahaya putih dan munculnya tidak merata di ufuk timur, artinya ada sisi ufuk yang tidak terkena cahaya. Setelah munculnya fajar kadzib, langit menjadi gelap kembali. 2) Fajar Shadiq adalah fajar yang berbentuk cahaya putih agak terang dan menyebar di ufuk timur. Munculnya fajar ini beberapa saat sebelum matahari terbit. Inilah yang menjadi awal masuk waktu Subuh.
  3. Ibnu Rusyd dari riwayat Ibnu Al Qasim dan beberapa ulama Syafi’iyah bahwa akhir waktu Subuh adalah saat al isfar atau cahaya siang mulai muncul. Artinya waktu langit mulai terang dan jelas.
  4. Para fukaha Kufah, Abu Hanifah, pengikut At Tsauri, dan banyak fukaha Irak berpendapat bahwa waktu yang utama dalam menjalankan salat Subuh adalah ketika al isfar. Adapun mazhab Malik, Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, dan Dawud Az Zahiri mengambil pendapat waktu yang utama dalam menjalankan salat Subuh adalah di awal waktu, bukan saat al isfar.

Daftar Bacaan

  1. Sayyid Sabiq, Fiqh As Sunnah (Kairo: Dar Al Fath Al I’lam Al Arabi, 1439 H / 2017 M)
  2. Al Qadhi Muhammad bin Rusyd Al Qurthubi, Bidayat Al Mujtahid wa Nihayat Al Muqtashid (Semarang: Karya Toha Putra) 
  3. Syaikh Muhammad bin Abdurrahman Ad Dimasyqi, Fiqih Empat Mazhab, terj. Abdullah Zaki Alkaf (Bandung: Hasyimi, 2010) 
  4. Dr. H. Arwin Juli Rakhmadi Butar Butar, MA, Pengantar Ilmu Falak (Depok: Rajawali Press, 2018) 
  5. Al Allamah Abdullah bin Abdurrahman Bilhajj Bafadhol Al Hadhrami, Al Muqaddimah Al Hadhramiyah fi Fiqhi As Sadati Asy Syafi’iyah (Jakarta: Darul Kutub Al Islamiyah, 1433 H / 2012 M) 
  6. Sayyid Sabiq, Fiqh As Sunnah (Kairo: Dar Al Fath Al I’lam Al Arabi, 1439 H / 2017 M)


Nughazi Media

Nughazi Media adalah media publikasi berbagai aplikasi ilmu pengetahuan, pendidikan dan agama dalam berbagai format digital.

Post a Comment

Peraturan berkomentar :
1. DILARANG melakukan SPAM pada KOMENTAR blog ini.
2. DILARANG memberikan komentar yang melanggar hukum Indonesia.
3. DILARANG memberikan komentar diluar pembahasan/OOT(Out of Topic).
4. DILARANG melakukan PROMOSI/IKLAN.
5. DILARANG menyebarkan informasi palsu/Hoax.

Previous Post Next Post