Ust. Uus M. Rukhiat: Tuhan Tidak Menciptakan Manusia, Hanya Manusialah yang Menciptakan Tuhan

Untuk memenuhi segala kebutuhan hidup manusia di dunia, baik kebutuhan lahir maupun batin, Allah telah menciptakan segala sesuatu demi kemaslahatan manusia di dunia dan  akhirat.

Tidak ada seorang pun yang sanggup mengadakan segala kebutuhan hidup manusia yang demikian kompleks, disamping mereka butuh makan, minum, pakaian, perumahan danlain sebagainya, merekapun mebutuhkan  ketenangan dan ketentraman. Adapun  ketentraman manusia  terwujud bukan hanya tercukupinya sandang, pangan, dan papan, tapi lebih dari itu, mengingat manusia adalah mahluk yang dinamis, apalagi jika dikaitkan dengan tujuan manusia yang paling tinggi yakni memperoleh kemaslahatan dunia dan akhirat.

Terpenuhinya kebutuhan lahir tidak menjadi jaminan seseorang mendapat ketenangan, malah pengalaman membuktikan justru sebaliknya, kegelisahan itu muncul akibat berlimpah ruahnya harta kekayaan.Hidup tanpa agama ibarat bangunan tanpa tiang, semerawut, tidak mencerminkan sebuah bangunan yang berdiri tegak, kokoh, tertata rapih dengan interior yang memadai siap untuk ditempati penghuninya.

Seorang anak  lahir diadopsi tidak diberi tahu siapa bapak dan ibu yang sesungguhnya dapat  menjadi pertanyaan yang tidak henti-hentinya dipetanyakan kepada siapapun yang dianggap mengetahui silsilah keluarganya, hal itu akan menjadi pemicu kegelisahan, stres, dan depresi.wajah, postur tubuh, rambut, dan karakter dirinya senantiasa menjadi bahan perbandingan dalam lingkungan keluarga, baik perbedaannya maupun persamaannya.  Bukan tidak didapat informasi yang akurat, berita dari mana-mana datang, baik yang dicari maupun yang datang sendiri, hanya persoalannya siapakah yang dapat dipercaya ?Ini baru mempertanyakan siapa orang tua yang sebenarnya, belum membicarakan siapa yang menciptakan manusia sesungguhnya?

Manusia Menciptakan Tuhan

Ada sebuah keyakinan Marksiyyah; yaitu  orang-orang yang tidak meyakini adanya Tuhan ( Atheis ) bahwa “Sesungguhnya Tuhan itu tidak menciptakan manusia tapi manusialah yang menciptakan Tuhan". 

pernyataan ini muncul dengan analisa bahwa manusia seringkali dihadapkan dengan rasa takut; takut akan penyakit, takut mati, takut miskin, takut menghadapi masa depan, dan berbagai macam rasa takut yang bisa menggoncangkan hatinya, sehingga diperlukan kekuatan ghaib yang diyakininya sebagai dzat yang memiliki kekuatan lebih untuk tempat mengadukan berbagai persoalan hidup.

Itulah  Tuhan yang mereka percayai sebagai kekuatan yang maha segala-galanya, sehingga persoalan hidup sesulit apapun akan dikomunikasakannya melalui berbagai pendekatan, baik dengan pendekatan do’a, ibadah, atau pendekatan-pendekatan lainnya, setelah itu akan terasa ringanlah problema yang dihadapi, walaupun belum ada solusi yang pasti.Dengan konstelasi seperti itu berarti manusialah sebetulnya yang menciptakan tuhan itu ?  Anggapan ini seperti benar, mempermainkan logika dengan mempertaruhkan akalnya, tanpa dipertimbangkan secara matang sudah  benarkan analogi seperti itu ? 

Seandainya manusia dituduh yang menciptakan Tuhan, jangankan harus menciptakan Tuhan, menciptakan dirinya sendiri malah tidak bisa, mencukupi kebutuhan sehari-hari saja manusia tidak mampu, apalagi harus menciptakan tuhan , bagaimana mungkin manusia dapat memikul tugas itu, sedangkan manusia sarat dengan berbagai keterbatasan.Adapun kebutuhan akan jawaban siapakah pencipta manusia?, hal itu akan senantiasa bergulir sebelum diketemukan jawaban yang tak terbantahkan.Segala sesuatu ada yang menciptakannya dan mustahil sesuatu itu ada tanpa ada yang menciptakan.

Tuduhan bahwa manusialah yang menciptakan tuhan, jika dialamatkan kepada orang-orang musyrik, baik ahli kitab maupun penyembah berhala ( jahiliyyah ),   hal itu dapat diterima dengan pertimbangan sebagai berikut :

a. Merekalah  yang membikin dan menamai berhala atau patung-patung, firman Allah swt :

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمْ الْهُدَى-النجم : 23-

Artinya : “ Tidaklah mereka  ( berhala-berhala) itu  melainkan nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu sebut, yang Allah tidak turunkan keterangan mengenai hal itu, Mereka hanya mengikuti sangkaan dan apa yang diinginkan hawa nafsu mereka, padahal sesungguhnya telah datang petunjuk dari Tuhan mereka" ( QS. An-Najm : 23 )

وَقَالَتْ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتْ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمْ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ{التوبة : 30}

Artinya : “ Dan orang-orang Yahudi berkata : Uzair itu putra Allah dan orang-orang Nashara berkata bahwa : Al Masih itu putra Allah.Yang demikian itu omongan mereka dengan mulut-mulut mereka, menyerupai perkataan orang-orang kafir dahulu, mudah-mudahan Allah binasakan mereka , bagaimanakah mereka dapat dipalingkan" ( QS. At-Taubah: 30 )

b. Merekalah  yang membuat aturan (cara mendekatkan diri perantaraan berhala )

…وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى …{الزمر: 3}

Artinya : “Dan orang-orang yang menjadikan tuhan-tuhan selain dari Allah (berkata) kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mendekatkan kepada Allah dengan sedekat-dekatnya . (QS. Az-Zumar: 3)

Berdasarkan keterangan diatas jelaslah bahwa  disamping tuhan-tuhan itu sengaja dibikin bahkan nama-namanyapun dipilih dan ditetapkan  mereka.Tuhan tidak menyatakan bahwa dirinya mempunyai putra, Isa, dan Uzairpun tidak membuat pernyataan bahwa dirinya adalah anak Tuhan, tapi mereka menuduh melalui mulut-mulut mereka bahwa Isa dan Uzair itu adalah putra Tuhan.

Para penyembah berhala di zaman Nabi Nuh as menyerukan bahwa kalian tidak boleh meninggalkan Tuhan-tuhan kalian, jangan tinggalkan berhala bernama Suwa, Wad, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr, padahal semua berhala itu tidak sepatah katapun menyerukan hal serupa kepada siapapun.Pada zaman Jahiliyyah ada berhala yang bernama Lata, Uzza, dan Manat, nama-nama berhala itu diambil dari nama perempuan, padahal mereka tidak senang kepada anak-anak perempuan, sehingga mereka bunuh hiduphidup.Mereka bikin nama tuhan-tuhan itu sekehendak mereka sendiri. 

Oleh karena itu pernyataan  “ Mereka menciptakan Tuhan “ adalah cocok apabila dialamatkan kepada musyrikin ( penyembah berhala ) dan kepada ahli kitab ( Yahudi dan Nashrani ), tidak layak dialamatkan kepada Umat Islam, karena terdapat perbedaan yang signifikan antara mereka dan  ummat Islam.

Adapun keyakinan bahwa Tuhan tidak menciptakan manusia, memang orang-orang yang tidak bertuhan ( Marksiyyah )  tidak percaya akan adanya Tuhan, bagaimana mungkin mereka mengakui  bahwa Tuhan menciptakan manusia, sedang Tuhannya saja tidak ada, karena Tuhan itu hanya sebuah image yang dibikin manusia saja, demikianlah anggapan mereka.

Orang-orang musyrik, dan ahli kitab ( Yahudi dan Nashrani ) meyakini bahwa tuhan-tuhan yang mereka sembah  sama sekali tidak dapat  menciptakan manusia, karena berhala itu adalah berupa patung bikinan mereka, sedangkan Isa dan Uzair adalah manusia biasa , bagaimana mungkin mereka bisa membikin manusia ?    

Manusia membutuhkan Aqidah

Tidak dapat disangkal bahwa manusia sangat membutuhkan rasa aman , tenang, dan terhindar dari rasa was-was ( bimbang ) serta takut. keraguan akan jawaban siapa yang menciptakan semua makhluk, akan menimbulkan keresahan yang berkepanjangan, ketakutan yang berlebihan, tidak ada tempat manusia berlindung kepada siapa manusia mengadu, dapat mengancam ketentraman jiwa.

Manusia menyangka bahwa dirinyalah yang tahu keberadaanya dengan bekal ilmu pengetahuan, dan dirinyalah yang mampu menemukan rahasia-rahasia alam untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan, ternyata keyakinan yang teguh seperti ini tidak dapat membuat dirinya yakin, malah dari waktu ke waktu manusia yang mempunyai kepercayaan seperti itu semakin jelas akan kelemahan keyakinannya.

Perasaan takut akan mati, takut kelaparan, takut malapetaka menimpa, tertular penyakit, serta beribu macam rasa takut akan lenyap dengan sebuah keyakinan yang tak terbantahkan dan dapat diterima akal sehat serta sesuai dengan fitrah, maka itulah aqidah yang shahihah, adapun sebuah keyakinan yang dibangun selain dari itu, itupun aqidah juga, hanya itulah aqidah yang fasidah.

Khatimah 

Selama manusia sarat dengan berbagai macam kebutuhan, baik kebutuhan jasmani maupun rohani, maka manusia harus  dapat memenuhi kebutuhan tersebut, jika tidak terpenuhi, jangan harap manusia dapat memperoleh stabilitas hidup, baik di dunia maupun di akhirat, aqidah ( keyakinan ) akan adanya sang pencipta, adanya kehidupan setelah mati, akhirat lebih baik dari dunia ini , adalah suatu kebutuhan rohani yang harus terpenuhi dengan jawaban yang tuntas, dapat diterima akal,  tidak terbantahkan, dan sesuai dengan fitrah.Semerawutnya  bahan bangunan,  berserakan dimana-mana, karena tiang belum berdiri, setelah tiang berdiri tegak, bahan bangunan apapun akan menempel  tersusun rapi menjadi sebuah bangunan yang sempurna , segala  yang dibutuhkan manusia,  akan menempel pada agama  ( aqidah ) yang dapat berwujud sebuah bangunan kehidupan yang maslahat dunia dan akhirat. 


Nughazi Media

Nughazi Media adalah media publikasi berbagai aplikasi ilmu pengetahuan, pendidikan dan agama dalam berbagai format digital.

Post a Comment

Peraturan berkomentar :
1. DILARANG melakukan SPAM pada KOMENTAR blog ini.
2. DILARANG memberikan komentar yang melanggar hukum Indonesia.
3. DILARANG memberikan komentar diluar pembahasan/OOT(Out of Topic).
4. DILARANG melakukan PROMOSI/IKLAN.
5. DILARANG menyebarkan informasi palsu/Hoax.

Previous Post Next Post