Sebab dan Hikmah Hijrah

 Oleh itu, sampaikanlah secara terus terang apa yang diperintahkan kepadamu (wahai Muhammad), dan berpalinglah engkau dari kaum musrikin

1421 tahun yang silam di jazirah Arab umat Islam berjuang, berlaga mempertahankan mekarnya syiar Islam di atas persada, sehingga menjadi rahmatan lil 'alamin. 

Waktu itu umat Islam tidak memiliki jumlah yang banyak, juga tidak memiliki peralatan perang yang meyakinkan, mereka hanya memiliki ruh jihad yang lahir dari iman yang kukuh, ikhlas dalam berjuang tanpa pamrih apapun, selain keridlaanNya. Dan ternyata ruh jihad yang lahir dari iman yang kukuh itulah, umat Islam meraih suatu kemenangan yang gemilang, bahwasanya suatu bukti yang faktual, dasar kemenangan umat Islam itu bukan hanya pengandalan melalui kuantitatif dan pasilitas perang yang mutakhir, bahkan lebih dari itu diperlukan ruh jihad yang mantap.

1421 tahun yang silam di jazirah Arab umat Islam berhijrah, meninggalkan Mekkah menuju Madinah, hijrah yang bukan berarti umat Islam telah kehilangan keberanian menghadapi kezaliman kafirin Quraisy, bukan berarti umat Islam tidak tahan dengan intimidasi penguasa munkar yang membendung dakwah Islamiyah. Namun dilakukannya hijrah, sebagai realisasi ketaatan umat Islam terhadap perintah Allah; 

اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَفّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ ظَالِمِيْٓ اَنْفُسِهِمْ قَالُوْا فِيْمَ كُنْتُمْ ۗ قَالُوْا كُنَّا مُسْتَضْعَفِيْنَ فِى الْاَرْضِۗ قَالُوْٓا اَلَمْ تَكُنْ اَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوْا فِيْهَا ۗ فَاُولٰۤىِٕكَ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ ۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًاۙ

Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Mekah).” Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?” Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali, (Qs. An Nisa/4 : 97)

maksudnya, umat Islam lebih cenderung mengutamakan ketaatan kepada Allah dari pada menonjolkan kekuatan fisik, umat Islam lebih mengutamakan disiplin dari pada memperagakan kumis melintang dada berbulu.

Hijrahnya umat Islam atau Nabi dan para sahabat ke Madinah itu sesungguhnya bukanlah suatu hal yang aneh, bukanlah suatu peristiwa yang ganjil, karena Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad pun mengalami hal serupa, seperti Nabi Ibrahim dari Kan'an ke Mekkah, Nabi Ya'kub berhijrah dari Madyan ke Mesir, Nabi Musa berhijrah dari Mesir ke Syam, demikian juga halnya dengan Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul yang lainnya. Sebab hijrah ini mengandung hikmah dan kepentingan yang besar lagi dalam bagi umat Islam seluruhnya.

Sayyid Muhammad Rasyid ridla menyatakan, "Bahwa hijrah itu disyariatkan karena mengandung tiga sebab dan hikmah. Dua di antaranya berhubungan dengan individu, dan yang ketiganya berhubungan dengan jama'ah. Adapun jelasnya sebagai berikut :

Pertama, bahwa sesungguhnya tidak boleh bagi seorang muslim tetap tinggl di tempat (negara) yang di dalam negara itu ia terhina dan tertindas dalam mengerjakan perintah-perintah agamanya. Maka setiap orang Islam dalam negara itu dapatlah dikatakan terganggu dalam mengerjakan perintah-perintah agamanya atau terlarang menegakkan (hukum-hukum) sebagaimana yang ia yakini. Maka wajib ia berhijrah meninggalkan negara itu ke negara yang sekiranya ia dapat leluasa mengerjakan perintah-perintah dan menegakkan agamanya. Jika ia tetap tinggal di negara yang ia tidak dapat melakukan kewajiban-kewajiban agamanya, maka tetap tinggalnya itu maksiat dan teraturlah atas dirinya berbagai maksiat yang tidak dapat dihitung. Terkecuali jika ia dalam negara itu dapat menegakkan kewajiban-kewajiban agamanya.

Kedua, untuk menempuh dan mempelajari agamanya yang telah dipeluknya,... maka tidak boleh bagi seorang muslim bertempat tinggal di suatu tempat (negara) yang di dalam negara itu tidak ada ulama (ahli-ahli ilmu) yang mengetahui hukum-hukum agama, bahkan wajib ia berhijrah ke tempat yang memungkinkannya menempuh ilmu dan agama.

Ketiga, yaitu yang bergantung dengan jama'ah muslimin, maka wajib atas segenap umat Islam mendirikan satu jama'ah (perhimpunan) atau daulah (pemerintahan) yang kokoh kuat guna mengembangkan dakwah Islam, menegakkan hukum-hukum dan peraturan-peraturannya, memeihara pimpinannya serta guna melindungi segenap da'i-da'i dan keluarganya dari perbuatan orang-oorang yang dzalim dan keganasan musuh-musuh Islam, maka apabila jama'ah (perhimpunan), daulah (pemerintahan) atau hukumah (negara) Islam ini lemah serta timbul ketakutan akan diserang musuh Islam, maka wajiblah atas segenap umat Islam yang ada di mama saja dan yang dalam keadaan bagaimana pun menguatkannya dengan kekuatan apapun juga, sehingga mereka kokoh dan kuat untuk menghadapi lawan. Dan kewajiban itu tidaklah dapat diharuskan, walau bagaimana juga jauhnya, karena kewajiban itu adalah suatu kewajiban yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Jika tidak dikerjakan dengan arti yang sebenarnya, maka berarti mereka itu suka serta ridla akan kelemahan Islam dan menolong musuh-musuh Islam dalam meluluhlantahkan dakwah Islam dan merendahkan kalimah Islam".

Selanjutnya Sayyid Muhammad Rasyid ridla menegaskan pada akhir uraiannya, "Sesungguhnya hijrah itu wajib selamanya dengan salah satu sebab dari tiga sebab itu, sebagaimana wajib safar (berangkat) untuk berjihad apabila tela terang nyata sebabnya, dan lebih kokoh kewajiban jihad itu untuk melawan orang-orang kafir yang menjajah negara-negara Islam dan memerintah atas kaum muslimin. Al Manar V : 261-262

Oleh: Wawa Suryana Hidayat | Al-Qudwah No. 1


Nughazi Media

Nughazi Media adalah media publikasi berbagai aplikasi ilmu pengetahuan, pendidikan dan agama dalam berbagai format digital.

Post a Comment

Peraturan berkomentar :
1. DILARANG melakukan SPAM pada KOMENTAR blog ini.
2. DILARANG memberikan komentar yang melanggar hukum Indonesia.
3. DILARANG memberikan komentar diluar pembahasan/OOT(Out of Topic).
4. DILARANG melakukan PROMOSI/IKLAN.
5. DILARANG menyebarkan informasi palsu/Hoax.

Previous Post Next Post