Peristiwa Langit di Bulan Agustus hingga Akhir Tahun 2021


1. GERHAN A

a. Gerhana Bulan Sebagian (19 November 2021). 

Gerhana Bulan kedua dan terakhir di tahun 2021 terjadi tanggal 19 November dengan sebagian Bulan masuk dalam bayang-bayang Bumi. Gerhana Bulan Sebagian (GBS) 19 November 2021 bisa diamati dari wilayah Amerika, Eropa utara, Asia timur, Australia, Pasifik. Pengamat di seluruh wilayah Indonesia bisa mengamati GBS setelah matahari terbenam saat Bulan dalam proses keluar dari umbra Bumi atau saat gerhana bulan sebagian akan berakhir. Untuk wilayah Indonesia barat hanya bisa menyaksikan proses gerhana penumbra karena saat Matahari terbenam, Bulan sudah keluar dari umbra Bumi. 

Gerhana Bulan Sebagian 19 November 2021 dimulai dengan gerhana penumbra pukul 14:02 WIB dan berakhir pukul 19:03 WIB. Untuk fase gerhana sebagian dimulai saat Bulan memasuki umbra Bumi pukul 14:18 WIB dan baru akan keluar dari umbra Bumi pukul 17:47 WIB.

b. Gerhana Matahari Total (4 Desember). 

Gerhana Matahari Total 4 Desember akan menjadi gerhana terakhir di tahun 2021, sekaligus juga gerhana yang ditunggu para pemburu gerhana. Kehadiran korona Matahari dan cincin berlian saat peristiwa gerhana matahari total tentu menjadi atraksi langit menarik setelah sebelumnya disuguhi cincin api. Akan tetapi, hanya pengamat di Antartika yang bisa menyaksikan totalitas gerhana 4 Desember 2021. Untuk gerhana sebagian akan bisa disaksikan oleh pengamat di sebagian kecil Afrika Selatan, Amerika Selatan, Australia, Selandia Baru, dan di perairan Atlantik selatan. 


2. PAPASAN PLANET

a. Oposisi Saturnus (2 Agustus)

Planet yang cincinnya tampak indah itu akan berada pada posisi terdekatnya dengan Bumi tanggal 2 Agustus. Saat oposisi, Saturnus akan berada pada jarak 8,94 AU dengan diameter piringan 18,6 detik busur. Jadi jangan lewatkan! Saturnus akan tampak lebih terang dibanding waktu lainnya dengan kecerlangan 0,2 magnitudo. Gunakan teleskop dan kameramu untuk memotret planet cincin ini. Cincin Saturnus akan tampak miring 18º terhadap arah pandang pengamat. Bagi pengamat di Bumi, Saturnus bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai fajar.

b. Merkurius – Mars (19 Agustus)

Merkurius dan Mars bisa diamati berpasangan sangat dekat hanya terpisah 0,06º di arah barat setelah matahari terbenam. Keduanya berada pada ketinggian 11º saat Matahari terbenam dan bisa diamati sampai pukul 20:00 WIB saat keduanya menghilang di ufuk barat.

c. Oposisi Jupiter (20 Agustus)

Planet terbesar di Tata Surya akan berada pada posisi terdekat dengan Bumi dan tampak sangat terang di langit malam. Saat oposisi, Jupiter akan berada pada jarak 4,01 AU dengan diameter piringan 48 detik busur. Para pengamat bisa menikmati kehadiran Jupiter di rasi Sagittarius dengan kecerlangan -2,9 magnitudo sejak Matahari terbenam sampai fajar menyingsing. Pengamat juga bisa mengamati satelit-satelit galilean yang mengitari planet raksasa tersebut. Bagi pengamat di Bumi, Jupiter bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai fajar.

d. Oposisi Neptunus (14 September)

Tidak mudah untuk mengamati planet es biru ini. Tanggal 14 September menandai posisi terdekatnya dengan Bumi. Saat oposisi Neptunus sedang berada pada jarak 28,92 AU di rasi Aquarius dengan kecerlangan 7,8 magnitudo. Untuk bisa melihat planet es ini, siapkan teleskop dan jangan kecewa jika menemukan Neptunus hanya titik biru di teleskop anda. Saat oposisi, Neptunus tampak sedikit lebih besar dengan diameter pirinan 2,4 detik busur. Bagi pengamat di Bumi, Neptunus bisa diamati dengan teleskop sejak Matahari terbenam sampai fajar.

e. Oposisi Uranus (5 November)

Uranus, si planet es raksasa akan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 18,74 AU. Planet yang bergerak menggelinding ini akan tampak unik sebagai titik warna biru kehijauan di teleskop. Untuk menemukannya, arahkan teleskop ke rasi Aries. Saat oposisi Uranus sedang berada di rasi Aries dengan kecerlangan 5,7 magnitudo dan diameter piringannya 3,8 detik busur.


3. EKUINOKS & SOLSTICE

a. Ekuinoks (23 September)

Matahari berada di ekuinoks atau di atas garis khatulistiwa. Lamanya siang dan malam menjadi sama yakni 12 jam. Bagi masyarakat di belahan bumi utara, tanggal 22 September merupakan Ekuinoks Musim Gugur atau titik balik musim gugur yang menandai awal musim gugur. Sebaliknya di belahan Bumi selatan, ekuinoks di bulan September merupakan vernal ekuinoks atau ekuinoks musim semi yang menandai awal musim semi. Autumnal Ekuinoks akan terjadi tanggal 22 September pukul: 02:21 WIB, ketika Matahari berada di rasi Virgo.

b. Solstice (21 Desember)

(Winter Solstice – Belahan Utara ; Summer Solstice – Belahan Selatan) Titik balik musim dingin bagi masyarakat di Belahan Bumi Utara dan titik balik musim panas bagi penduduk di Bumi Belahan Selatan. Selain itu, bagi penduduk di belahan selatan, ini merupakan siang terpanjang dan bagi mereka yang berada di utara, ini adalah malam terpanjang. Titik balik musim dingin akan terjadi tanggal 21 Desember pukul: 22:59 WIB, ketika Matahari berada di rasi Sagittarius.


4. HUJAN METEOR

a. Hujan Meteor Perseid (12 Agustus)

Dimulai tanggal 17 Juli – 24 Agustus, hujan meteor Perseid yang berasal dari debu komet Swift-Tuttle tersebut akan mencapai puncak tanggal 12 Agustus. Di malam puncak diperkirakan 100 meteor akan melintas setiap jam dan tampak datang dari rasi Perseus. Untuk lokasi pengamatan yang bebas polusi cahaya, pengamat bisa menyaksikan setidaknya 50-75 meteor setiap jam.

Rasi Perseus baru terbit tengah malam yakni pukul 00:14 WIB dari arah timur laut. Bulan sudah terbenam ketika rasi Perseus terbit sehingga pengamat bisa bebas dari cahaya Bulan saat berburu hujan meteor Perseid.

b. Hujan Meteor Draconid (8 Oktober)

Hujan meteor minor yang tampak datang dari rasi Draco ini akan berlangsung dari tanggal 6 – 10 Oktober. Puncaknya tanggal 8 Oktober dengan laju 10 meteor per jam. Hujan meteor Draconid berasal dari sisa debu komet 21P Giacobini-Zinner. Hujan meteor ini bisa dinikmati setelah Matahari terbenam sampai rasi Draco terbenam pukul 21:33 WIB.

Bulan sabit tipis ti ufuk barat tidak menjadi penghalang untuk berburu Draconid di Rasi Draco di arah utara. Agak sulit untuk menemukan rasi yang satu ini karena posisinya yang cukup rendah di horison. Carilah lokasi pengamatan yang bebas polusi cahaya untuk berburu meteor Draconid.

c. Hujan Meteor Taurid Selatan (10 Oktober)

Hujan meteor Taurid berasal dari butiran debu Asteroid 2004 TG10 dan sisa debu Komet 2P Encke, berlangsung sejak 10 September – 20 November dan tidak pernah menghasilkan lebih dari 5 meteor per jam. Menariknya, hujan meteor taurid ini kaya dengan bola api.

Puncak hujan meteor yang tampak datang dari rasi Taurus berlangsung tanggal 10 Oktober, hanya dengan 5 meteor per jam yang lajunya hanya 28 km/detik. Hujan meter Taurid bisa diamati setelah Matahari terbenam saat rasi Taurus juga terbit di arah timur sampai jelang fajar saat rasi ini akan terbenam di barat.

Waktu terbaik untuk mengamati hujan meteor Taurid Selatan mulai pukul 21:00 WIB ketika Bulan sudah terbenam dan radian Taurid Selatan sudah ckup tinggi.

d. Hujan Meteor Orionid (20-21 Oktober)

Hujan meteor Orionid yang berasal dari sisa debu komet Halley akan kembali menghiasi langit malam dari 2 Oktober sampai 7 November. Sesuai namanya, hujan meteor Orionid tampak muncul dari rasi Orion si Pemburu dan mencapai puncak pada tanggal 21 Oktober. Saat malam puncak, hujan meteor Orionid yang seharusnya memproduksi 25 meteor per jam dengan laju 66 km/detik akan sulit diamati karena cahaya Bulan Purnama.

e. Hujan Meteor Taurid Utara (12 November)

Hujan meteor Taurid Utara juga tampak datang dari rasi Taurus dan dimulai dari tanggal 20 Oktober – 10 Desember dengan puncak pada tanggal 12 November. Saat malam puncak, Hujan Meteor Taurid Utara akan menghiasi langit dengan 5 meteor per jam dengan laju 29 km/jam.

Rasi Taurus terbit setelah Matahari terbenam dan bisa diamati sampai fajar menyingsing. Sementara itu, Bulan perbani awal baru akan terbenam tengah malam. Cahaya Bulan bisa menjadi polusi cahaya alami, karena itu waktu pengamatan terbaik bisa dilakukan mulai tengah malam sampai elang fajar. Perpaduan hujan meteor Taurid Utara dan Selatan yang masih berlangsung di akhir Oktober dan awal November menjadi atraksi menarik di langit. Apalagi dengan kehadiran fireball.

f. Hujan Meteor Leonid (17 November)

Hujan meteor Leonid tahunan yang satu ini berlangsung dari 6 – 30 November dan malam puncak akan terjadi pada tanggal 17 – 18 November. Pengamat yang berburu leonid bisa menikmati 10 meteor per jam yang melaju dengan kecepatan 71 km/det. Hujan meteor Leonid yang berasal dari sisa debu komet Tempel-Tuttle akan tampak datang dari arah rasi Leo. Bagi pemburu meteor, rasi Leo baru akan terbit tengah malam pada pukul 00:19 WIB. Bulan cembung akan jadi sumber polusi cahaya alami dalam perburuan meteor ini.

g. Hujan Meteor alpha-Monocerotid (21 November)

Hujan meteor alpha-Monocerotid berlangsung dari tanggal 15 – 25 November dan mencapai puncak pada tanggal 21 November. Hujan meteor yang tampak muncul dari rasi Canis Minor ini memiliki laju meteor per jam yang beragam saat mencapai maksimum. Meskipun demikian, pengamat bisa mengamati setidaknya 5 meteor per jam saat malam puncak hujan meteor.

Hujan meteor alpha-Monocerotid berasal dari puing-puing komet C/1917 F1 (Mellish) dan bisa diamati mulai pukul 21:37 WIB ketika rasi Canis Minor terbit sampai fajar menyingsing. Bulan cembung akan jadi sumber polusi cahaya alami dalam perburuan meteor ini.

h. Hujan Meteor Pheonicid (2 Desember)

Hujan meteor Pheonicid berlangsung dari tanggal 28 November – 9 Desember dan mencapai puncak pada tanggal 2 Desember. Hujan meteor yang tampak muncul dari rasi Pheonix ini memiliki laju meteor per jam yang beragam saat mencapai maksimum. Meskipun demikian, pengamat bisa mengamati setidaknya 12 meteor per jam saat malam puncak hujan meteor.

Hujan meteor Pheonicid berasal dari puing-puing komet D/1819 W1 (Blanpain) dan bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai kisaran pukul 03:00 WIB. Waktu terbaik untuk mengamati puncak hujan meteor Pheonicid adalah pukul 20:00 WIB saat titik arah datang meteor berada pada titik tertinggi di langit. Bulan sabit tipis baru terbit dini hari setelah Pheonicid terbenam.

i Hujan Meteor Puppid-Velid (6 Desember)

Hujan meteor Puppid-Velids berlangsung dari tanggal 1 – 15 Desember dan mencapai puncak pada tanggal 6 Desember. Hujan meteor yang tampak muncul dari rasi Puppis ini memiliki laju 10 meteor per jam saat mencapai maksimum.

Hujan meteor Puppid-Velids baru bisa diamati setelah rasi Puppis yang jadi radian hujan meteor ini terbit pada pukul 20:26 WIB dan bisa diamati sampai fajar menyingsing. Waktu terbaik untuk mengamati puncak hujan meteor Puppid-Velids adalah pukul 03:00 WIB saat titik arah datang meteor berada pada titik tertinggi di langit. Bulan sudah terbenam ketika rasi Puppis terbit.

j. Hujan Meteor Geminid (14 Desember)

Hujan meteor Geminid akan menjadi merupakan atraksi menarik di langit malam dengan 150 meteor per jam pada saat mencapai maksimum.

Hujan meteor yang tampak datang dari rasi kembar Gemini ini berlangsung dari tanggal 4 — 20 Desember dengan intensitas maksimum akan terjadi tanggal 14 Desember. Hujan meteor Geminid yang berasal dari puing-puing asteroid 3200 Phaethon, melaju dengan kecepatan 35 km/detik dan bisa dinikmati kehadirannya setelah rasi Gemini terbit pukul 20:01 WIB. Waktu terbaik untuk mengamati puncak hujan meteor Geminid adalah pukul 02:30 WIB setelah Bulan cembung terbenam.

k. Hujan Meteor Ursid (22 Desember)

Hujan meteor Ursid akan jadi atraksi terakhir tahun 2021. Hujan meteor Ursid yang berlangsung dari tanggal 17 – 26 Desember, akan tampak datang dari rasi Ursa Minor. Artinya, hanya pengamat di belahan Bumi Utara atau di atas garis khatulistiwa yang bisa menikmati lintasan meteor Ursid.

Rasi Ursa Minor akan terbit lewat tengah malam bagi pengamat di belahan Bumi Utara. Untuk pengamat di belahan Bumi Selatan, Ursa Minor terbit hampir bersamaan dengan Matahari terbit. Jadi hujan meteor Ursid tidak akan teramati oleh pengamat yang tinggal di bawah garis khatulistiwa.

Puncak hujan meteor Ursid terjadi tanggal 22 Desember 2021 dan meteor yang melintas di langit akan bergerak dengan kecepatan 33 km/jam. Di malam puncak pengamat hanya bisa melihat 10 meteor per jam dari sisa komet 8P/Tuttle yang dilintasi Bumi.

Sumber: Langit Selatan

Nughazi Media

Nughazi Media adalah media publikasi berbagai aplikasi ilmu pengetahuan, pendidikan dan agama dalam berbagai format digital.

Post a Comment

Peraturan berkomentar :
1. DILARANG melakukan SPAM pada KOMENTAR blog ini.
2. DILARANG memberikan komentar yang melanggar hukum Indonesia.
3. DILARANG memberikan komentar diluar pembahasan/OOT(Out of Topic).
4. DILARANG melakukan PROMOSI/IKLAN.
5. DILARANG menyebarkan informasi palsu/Hoax.

Previous Post Next Post