Mimbar Jumat : Al-Maghrur

Ikhwatu iman rahimakumullah!

Banyak orang yang tertipu pandangannya, sehingga memandang kebaikan, kehormatan dan kemulyaan yang diberikan oleh Allah itu diukur dengan jumlah harta, keuddukan, jabatan, dan pengikut. Padahal tidaklah bertambah harta, meningkatnya kedudukan atau bertambah jumlahnya pengikut (pendukung), kecuali bertambah beban yang harus dipikul, jika tidak siap tenaga untuk memikulnya tentu akan hancur di tengah jalan. Banyak kisah dalam Al Quran yang harus dijadikan ibrah bagi setiap insan agar tidak tertipu pandangannya. Misalnya kisah Fir'aun, jika dipandang hartanya ia terkaya di negrinya, jika dipandang kedudukan, ialah yang paling tinggi, tetapi akhirnya bukan kebaikan dan kemulyaan yang didapatkan, melainkan kehancuran dan kehinaan dunia dan akhirat. Meskipun demikian bukan berarti kemiskinan itu kemuliaan, karena banyak pula orang yang miskin lagi hina.

Kita perlu melihat sejarah di zaman Rasulullah saw., khususnya kehidupan sebagian para sahabat Rasulullah saw. sebagai perbandingan, agar kita bisa mengambil pelajaran dengan benar. Misalnya seperti sahabat yang bernama Abdurrahman bin Auf, ia seorang saudagar yang kaya raya, ia gunakan hartanya itu sebagai jembatan untuk mendapatkan kebaikan Allah dunia dan akhirat. Yang kedua yaitu Bilal bin Rabbah, ia seorang yang miskin, yang tadinya seorang hamba sahaya, kemudian dimerdekakan oleh Abu Bakar r.a., ia menjadi sahabat Rasulullah saw. Kemiskinannya tidaklah menjadikan ia jadi terhina, bahkan ia mendapat kehormatan yang tinggi, ia pernah diperintah oleh Rasulullah saw. naik ke atas Ka'bah untuk beradzan.

Ikhwatu iman rahimakumullah!

Di dalam Al Quran Allah mengkhabarkan bahwa ada sebagian orang yang salah sangka yaitu dengan banyaknya harta dan anak merupakan pertanda bahwa Allah bersegera memberikan kebaikan kepada mereka. Ini termaktub dalam surat Al Mukminun : 55-56

اَيَحْسَبُوْنَ اَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهٖ مِنْ مَّالٍ وَّبَنِيْنَ ۙ نُسَارِعُ لَهُمْ فِى الْخَيْرٰتِۗ بَلْ لَّا يَشْعُرُوْنَ

Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa). Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak. Sebenarnya mereka tidak sadar.

Di dalam tafsir Al Maraghi diterangkan : Yang dimaksud mereka dalam ayat itu adalah orang-orang yang tertipu yaitu mereka menyangka pemberian dari Allah itu merupakan kebaikan, padalah tiada lain, kecuali istidraj bagi mereka dalam kemaksiatan dan tiada lain, kecuali bertambah dosa bagi mereka. Di dalam tafsir Qurtubi diterangkan : Itu tiada lain, melainkan fitnah bagi mereka. Sayangnya mereka tidak menyadari

Barakallahu li wa lakum

Ikhwatu iman yang dimulyakan Allah

Al Quran telah menetapkan ukuran yang mutlak benarnya tentang kebaikan, kemuliaan dan kehormatan, di antaranya termaktub dalam surat Al Mukminun : 57-61

اِنَّ الَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَ ۙ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِاٰيٰتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُوْنَ ۙ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُوْنَ ۙ وَالَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَآ اٰتَوْا وَّقُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ ۙ اُولٰۤىِٕكَ يُسَارِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ وَهُمْ لَهَا سٰبِقُوْنَ

Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Tuhan mereka.

Yakni karena takutnya kepada adzab Tuhan mereka, mereka bersungguh-sungguh dalam ketaatannya kepada Tuhan dan bersungguh-sungguh dalam mencapai ridhaNya dan menjauhkan diri dari dosa dan maksiat.

Dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Tuhan mereka.

Yaitu yang beriman kepada ayat-ayat Allah baik ayat kauniyyah yaitu segala berntuk ciptaan Allah yang ada di daratan, di lautan, maupun yang ada di ufuk, semuanya menunjukkan akan kemaha kuasaan Allah dan kemaha EsaanNya maupun ayat Quraniyyah yang diturunkan Allah kepada Rasulullah saw. Yang pasti benarnya, mereka beriman tanpa keraguan sedikitpun, karena tidak ada ucapan yang paling benar, kecuali Kitabullah.

Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun).

Karena mereka yakin bahwa apapun atau siapapun yang dianggap Tuhan selain Allah adalah makhluk sedangkan tidak ada makhluk kecuali memiliki berbagai kekurangan, sedangkan yang memiliki kekurangan tidak layak dianggap Tuhan.

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan rasa takut, karena mereka tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.

Mereka yang bershadaqah disertai rasa khawatir tidak diterima sebagai amal saleh, karena itu lahirlah sikap hati-hati, diperhitungkannya dengan seksama baik dasar tata cara maupun tujuannya agar menjadi amal saleh. Aisyah Ummul Mukminin bertanya kepada Rasulullah saw. tentang maksud ayat itu, "Apakah mereka itu yang berzina, minum arak, mencuri, hingga karena itu mereka takut kepada Allah?", Rasululla saw. bersabda, "Bukan, wahai putri As Shidiq, tetapi dia itu yang shalat, saum, shadaqah, tetapi mereka khawatir amalnya itu tidak diterima.

Mereka itu bersegera untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.

Jadi, dalam memandang seseorang itu yang menjadi ukuran adalah yang pertma iman dan yang kedua amal saleh. Sebab iman merupakan landasan yang pokok dan kuat untuk berpijaknya seseorang, sehingga bisa berdiri dengan tegak dalam keseimbangan. Seseorang tidaklah akan mencapai kebaikan dan kehormatan di sisi Allah, jika ia tidak istiqamah, dan tidak akan istiqamah, jika tidak berdiri di atas landasan iman.

Dan dari iman itu akan melahirkan amal-amal yang saleh. Iman dan amal saleh akan mengangkat manusia pada tingkatan yang tinggi di sisi Allah.

Kita perhatikan pula firman Allah dalam surat Saba ayat 36-37

قُلْ اِنَّ رَبِّيْ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ وَيَقْدِرُ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ وَمَآ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ بِالَّتِيْ تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفٰىٓ اِلَّا مَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًاۙ فَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ جَزَاۤءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوْا وَهُمْ فِى الْغُرُفٰتِ اٰمِنُوْنَ 

Katakanlah; "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rizki kepada siapa yang dikehendakiNya dan menyempitkan kepada siapa yang dikehendakiNya, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya".

Dan sekali-kali bukanlah harta dan anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada kami sedikitpun, tetapi siapa yang beriman dan beramal saleh, mereka itulah yang mendapatkan pahala yang berlipat ganda, disebabkan apa yang mereka telah kerjakan, dan mereka aman sentosa di tempat tempat yang tinggi (dalam syurga). 

Qatadah berkata, "Janganlah kamu pandang manusia dari harta dan anak-anaknya (pengikut), tetapi pandanglah mereka dari iman dan amal salehnya".

Karena itu sungguh termasuk Al Magrur (tertipu) orang yang menukarkan iman dan amal saleh dengan kekufuran. Karena itu merupakan pertukaran yang sangat merugikan. Dan termasuk yang tertipu pula, jika seseorang mengajar kedudukan dan kehormatan dengan mengorbankan iman dan amal salehnya. Dan ini bukan hanya kerugian duniawi tetapi juga ukhrawi.

Firman Allah dalam surat Muhammad :

اَلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَصَدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَضَلَّ اَعْمَالَهُمْ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاٰمَنُوْا بِمَا نُزِّلَ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَّهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَاَصْلَحَ بَالَهُمْ

Orang-orang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah , Allah menghapus amal-amal mereka.

Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan beriman pula kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, mereka menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.

Semoga Allah senantiasa membimbing pandangan kita agar tidak termasuk kepada orang-orang yang magrur (tertipu).

Sumber: Al-Qudwah 1 - Ust. Zae Nandang
Nughazi Media

Nughazi Media adalah media publikasi berbagai aplikasi ilmu pengetahuan, pendidikan dan agama dalam berbagai format digital.

Post a Comment

Peraturan berkomentar :
1. DILARANG melakukan SPAM pada KOMENTAR blog ini.
2. DILARANG memberikan komentar yang melanggar hukum Indonesia.
3. DILARANG memberikan komentar diluar pembahasan/OOT(Out of Topic).
4. DILARANG melakukan PROMOSI/IKLAN.
5. DILARANG menyebarkan informasi palsu/Hoax.

Previous Post Next Post