Menyerupai Suatu Kaum

 عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُم

Dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bertasyabuh dengan suatu kaum, maka ia bagian dari mereka.” (HR. Abu Daud No. 3512).

Derajat Hadits: Hasan

Selain dari Imam Abu Daud, hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Harawi dari sahabat Abu Hurairah dan Anas bin Malik serta diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dan ath-Thabrani dari sahabat Hudzaifah.

Pada jalur sanad Ibnu Umar terdapat seorang periwayat bernama Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban yang disebut Ibnu Hajar al-Asqalani sebagai tertuduh Qadariyah dan hapalannya berubah di akhir hayatnya. Banyak ulama menilai hadisnya lemah. Ahmad menilai bahwa hadisnya munkar. Ia pernah mengatakan, Abdurrahman bin Tsabit bukanlah orang kuat dalam bidang hadis. Ibnu Ma’in, Nasai, al-‘Ajli dan Abu Zur’ah menilai ia lemah.

Dalam jalur sanad Abu Hurairah juga terdapat periwayat bernama Shadaqah bin Abdullah as-Samin, al-Asqalani menyebutnya sebagai lemah. Dalam jalur sanad Anas bin Malik juga terdapat periwayat bernama Bisyr bin al-Husain yang dinilai oleh Bukhari bahwa ia perlu ditinjau. Daraquthni menilainya sebagai matruk (tertolak). Ibnu Adiy mengatakan secara umum hadisnya tidak mahfuzh (terjaga).

Adapun jalur sanad Hudzaifah juga terdapat periwayat bernama Ali bin Ghurab, Abu Daud menilainya bahwa orang-orang meninggalkan hadisnya. Al-Jurjani berkata, Dia itu saqith (jatuh). Ibnu Hibban mengatakan, dia menceritakan hadis-hadis palsu dan cenderung kepada Syi’ah.  

Dalam kaedah ilmu hadis bahwa karena adanya hadis lainnya lagi yang bisa mendukung dan menguatkan terhadap kelemahan periwayat di atas, maka hadis tersebut status kualitasnya sebagai hadis Hasan.

Biografi Singkat Perwai Hadits

Abdullah bin Umar bin Khattab atau dikenal juga dengan Ibnu Umar adalah seorang sahabat Nabi dan merupakan periwayat hadits yang terkenal. Abdullah adalah putra khalifah ke dua Umar bin al-Khaththab Khulafaur Rasyidin yang kedua saudara kandung Sayiyidah Hafshah Ummul Mukminin.

Ibnu Umar dilahirkan tidak lama setelah Nabi diutus, Umurnya 10 tahun ketika ikut masuk Islam bersama ayahnya. Ibnu Umar masuk Islam bersama ayahnya saat ia masih kecil, dan ikut hijrah ke Madinah bersama ayahnya.

Pada usia 13 tahun ia ingin menyertai ayahnya dalam Perang Badar, namun Rasulullah menolaknya. Perang pertama yang diikutinya adalah Perang Khandaq. Ia ikut berperang bersama Ja'far bin Abu Thalib dalam Perang Mu'tah, dan turut pula dalam pembebasan kota Makkah (Fathu Makkah). Setelah Nabi Muhammad meninggal, ia ikut dalam perang Qadisiyah, Yarmuk, Penaklukan Afrika, Mesir dan Persia, serta penyerbuan basrah dan Madain.

Ibnu Umar adalah seorang yang meriwayatkan hadist terbanyak kedua setelah Abu Hurairah, yaitu sebanyak 2.630 hadits, karena ia selalu mengikuti kemana Rasulullah pergi. Bahkan Aisyah istri Rasulullah pernah memujinya dan berkata :"Tak seorang pun mengikuti jejak langkah Rasulullah di tempat-tempat pemberhentiannya, seperti yang telah dilakukan Ibnu Umar". Ia bersikap sangat berhati-hati dalam meriwayatkan hadist Nabi. Demikian pula dalam mengeluarkan fatwa, ia senantiasa mengikuti tradisi dan sunnah Rasulullah, karenanya ia tidak mau melakukan ijtihad. Biasanya ia memberi fatwa pada musim haji, atau pada kesempatan lainnya. Di antara para Tabi'in, yang paling banyak meriwayatkan darinya ialah Salim dan hamba sahayanya, Nafi'.

Ia hidup sampai 60 tahun (Ia wafat pada tahun 73 H) setelah wafatnya Rasulullah. Ia kehilangan pengelihatannya pada masa tuanya. Ia wafat dalam usia lebih dari 80 tahun, dan merupakan salah satu sahabat yang paling akhir yang meninggal di kota Makkah.

Penjelasan Hadits

  1. At-Tasyabbuh secara bahasa diambil dari kata al-musyabahah yang berarti meniru atau mencontoh, menjalin atau mengaitkan diri, dan mengikuti. At-Tasybih berarti peniruan. Dan mutasyabihah berarti mutamatsilat (serupa). Dikatakan tasyabbaha bihi artinya serupa dengannya, meniru dan mengikutinya.
  2. Tasyabbuh yang dilarang dalam Al-Quran dan As-Sunnah secara syar’i adalah menyerupai umat agama lain dalam segala bentuk dan sifatnya, baik dalam aqidah, peribadatan, kebudayaan, atau dalam pola tingkah laku yang menunjukkan ciri khas mereka.
  3. Tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin. Begitu pula kecintaan dalam batin mewariskan tasyabbuh secara lahiriyah. Ibnu Taimiyah (Iqtidha’ Ash Shirothil Mustaqim, 1: 549).
  4. Menyerupai yang dibolehkan, yaitu prilaku yang asalnya tidak diambil dari orang kafir. Akan tetapi orang kafir melakukannya juga. 

Nughazi Media

Nughazi Media adalah media publikasi berbagai aplikasi ilmu pengetahuan, pendidikan dan agama dalam berbagai format digital.

Post a Comment

Peraturan berkomentar :
1. DILARANG melakukan SPAM pada KOMENTAR blog ini.
2. DILARANG memberikan komentar yang melanggar hukum Indonesia.
3. DILARANG memberikan komentar diluar pembahasan/OOT(Out of Topic).
4. DILARANG melakukan PROMOSI/IKLAN.
5. DILARANG menyebarkan informasi palsu/Hoax.

Previous Post Next Post